
Setiap jiwa yang besar pasti pernah melalui pengembaraan — bukan hanya menempuh jarak, tapi juga menyelam ke kedalaman jiwanya sendiri. Dan dalam kisah Syeikh Abdul Qodir Al-Jaelani, pengembaraan itu dimulai saat beliau masih remaja.
Hijrah ke Baghdad: Jalan Menuju Cahaya
Pada usia 18 tahun, dengan bekal sedikit makanan dan sehelai baju, serta restu penuh air mata dari ibunya, beliau meninggalkan kampung halamannya dan menuju Baghdad, pusat ilmu dan peradaban Islam kala itu.
Sebelum berangkat, ibunya membekali beliau dengan 40 dinar emas yang dijahitkan ke dalam bajunya dan pesan sederhana:
> “Wahai anakku, jujurlah, apapun yang terjadi.”
Dalam perjalanannya, rombongan kafilah yang beliau tumpangi diserang perampok. Ketika ditanya oleh para perampok, Abdul Qodir remaja menjawab dengan jujur bahwa ia membawa uang emas yang dijahitkan dalam bajunya. Para perampok bingung, mengapa seorang anak muda mengaku dengan jujur dan tak menyembunyikan hartanya. Ternyata kejujuran itu menggugah hati sang pemimpin perampok — yang akhirnya bertaubat setelah menyaksikan ketulusan seorang pemuda suci.
Menimba Ilmu Zahir dan Batin
Setibanya di Baghdad, beliau tak menyia-nyiakan waktu. Siang hari beliau duduk di halaqah-halaqah ulama besar. Malam hari, ia menekuni dzikir, shalat malam, dan muhasabah.
Beberapa guru terkenal beliau dalam ilmu syari’ah:
Syeikh Abu Sa’id Al-Mukharrimi (fiqih dan ushul),
Syeikh Abu Bakar bin Al-Anbari (ilmu bahasa),
Syeikh Abu Muhammad bin Qudamah (hadis).
Sementara dalam dunia tasawuf, beliau berguru kepada para tokoh sufi besar seperti:
Syeikh Hammad Ad-Dabbas,
Syeikh Abu Al-Khair Hammad bin Muslim,
dan beberapa lainnya yang mewariskan padanya sirr (rahasia batin) dalam dunia ruhani.
Masa Uzlah dan Mujahadah
Setelah beberapa tahun belajar, beliau masuk dalam masa uzlah dan khalwah (pengasingan diri) di hutan-hutan dan reruntuhan kota Baghdad. Selama bertahun-tahun, beliau:
Berpuasa setiap hari, hanya berbuka dengan seteguk air,
Bermalam dalam kegelapan, tanpa atap, hanya bersama dzikir dan air mata,
Bertarung dengan hawa nafsu, hingga hilang rasa lapar, haus, bahkan rasa takut kepada makhluk.
Dalam catatan para muridnya, beliau berkata:
> “Selama 25 tahun aku berdiri dalam shalat malam hingga fajar. Selama 15 tahun aku tak pernah tidur di malam hari kecuali sejenak.”
Inilah pondasi ruhani seorang wali qutb. Beliau menempa jiwanya dalam keheningan, dalam keterasingan, hingga hatinya hanya terhubung kepada Allah semata.
—
Refleksi untuk Kita:
Sejauh mana kita berani menempuh jalan kejujuran seperti beliau?
Sudahkah kita menciptakan waktu-waktu khusus untuk khalwah bersama Allah?
Ilmu apa yang sedang kita kejar: yang membesarkan ego, atau yang melembutkan jiwa?




Tinggalkan komentar