Membangun Thariqah dan Warisan Keilmuan

Syekh Abdul Qodir AL-jaelani

Kewalian bukan tentang menjauh dari dunia, melainkan membimbing manusia menuju Tuhan di tengah hiruk-pikuknya. Setelah bertahun-tahun berdakwah dan membina umat, Syeikh Abdul Qodir Al-Jaelani menanamkan warisan besar: Thariqah Qadiriyah, salah satu jalan sufi tertua dan paling tersebar di dunia Islam.

Thariqah Qadiriyah: Jalan Lurus Menuju Allah

Thariqah ini tidak lahir dari ambisi pribadi. Ia tumbuh dari limpahan hikmah, kedalaman ilmu, dan pengalaman ruhani beliau yang panjang. Inti ajarannya adalah:

Tauhid murni, tanpa sekutu bagi Allah,

Cinta kepada Rasulullah SAW, dengan adab dan ittiba’,

Tazkiyah an-nafs (pembersihan jiwa) melalui dzikir, muhasabah, dan riyadhah,

Istiqamah dalam syariat sebagai pondasi segala maqam ruhani.

Prinsip utama dalam Thariqah Qadiriyah adalah “adab sebelum ilmu”, dan “ma’rifah setelah syariat”. Seseorang tidak akan mencapai kedekatan dengan Allah tanpa menempuh jalan syariat secara sempurna.

Pesantren Pertama dalam Gaya Thariqah

Syeikh Abdul Qodir tidak hanya mengajar secara lisan, tetapi juga membangun lembaga pendidikan, yaitu Madrasah Al-Jaelaniyah. Di sinilah, murid-murid belajar fiqih, tafsir, hadis, dan tasawuf — dengan metode menyeluruh antara ilmu lahir dan ilmu batin.

Beberapa murid beliau yang masyhur:

Syeikh Ali bin Haitsam, ahli tafsir dan pendakwah ke Afrika,

Syeikh Abdul Wahhab, putra beliau yang meneruskan dakwah,

Dan banyak lainnya yang menyebarkan ajaran beliau hingga ke Asia Tengah, Persia, Afrika Utara, bahkan Nusantara.

Jejak yang Tak Terhapus Zaman

Setelah wafatnya, thariqah beliau menyebar ke seluruh dunia. Dari Baghdad, pengaruhnya menjalar ke:

India melalui para sufi Chishti dan Sabiri,

Afrika melalui murid-murid Maghribi,

Dan ke Nusantara, terutama melalui Wali Songo dan ulama-ulama tarekat abad ke-17 hingga sekarang.

Warisan beliau bukan hanya tarekat, tetapi sistem pendidikan ruhani, metode dakwah bil hikmah, dan semangat pembaharuan tanpa meninggalkan akidah.

Refleksi untuk Kita Hari Ini:

Di zaman yang serba cepat ini, adakah waktu kita untuk tazkiyah an-nafs?

Apakah kita mendidik jiwa kita, atau hanya mengisi kepala dengan pengetahuan?

Apakah warisan ruhani yang akan kita tinggalkan seperti beliau?


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca