
Setelah bertahun-tahun berkhalwat dalam keheningan malam, Syeikh Abdul Qodir Al-Jaelani kembali ke tengah umat dengan hati yang penuh cahaya, laksana matahari yang terbit setelah malam panjang. Bukan dengan kekerasan, bukan dengan harta, tapi dengan hikmah, ketulusan, dan ilmu yang dalam, beliau bangkit menjadi salah satu tokoh dakwah paling berpengaruh dalam sejarah Islam.
Kembalinya Sang Wali ke Baghdad
Pada usia sekitar 50 tahun, Allah SWT memerintahkan beliau secara ruhani untuk kembali kepada masyarakat. Saat itu, kondisi umat Islam di Baghdad sangat kacau:
Ilmu hanya jadi alat debat, tanpa adab,
Masyarakat terjerumus dalam syahwat,
Ulama sibuk dengan pengaruh politik,
Dan kaum awam haus akan bimbingan ruhani.
Syeikh Abdul Qodir datang bukan untuk mencela, tetapi untuk menghidupkan kembali hati. Majelisnya di Masjid Jami’ Baghdad (kemudian dikenal sebagai Zawiyah Al-Jaelaniyah) selalu dipenuhi ribuan jamaah dari berbagai kalangan — ulama, pejabat, fakir miskin, para pencari jalan sufi, hingga para pelaku maksiat yang ingin bertaubat.
Majelis yang Menggetarkan Hati
Beliau bukan sekadar orator. Kata-katanya membakar hati, menembus batin, dan mengguncangkan ruh.
> “Wahai manusia, kalian sibuk menghias wajah, tapi lalai membersihkan hati kalian. Padahal Allah melihat hati, bukan penampilan.”
Dalam satu majelis, dikisahkan:
Lebih dari 70 orang Yahudi masuk Islam,
Ratusan orang bertaubat dan menangis,
Bahkan jin dan makhluk ghaib hadir dalam majelisnya.
Karomah yang Terjaga Adabnya
Syeikh Abdul Qodir terkenal dengan banyak karomah, namun beliau tidak pernah menampakkannya untuk pamer. Salah satu karomah yang dikenal adalah kemampuan mengetahui isi hati orang-orang yang hadir, dan memberi mereka nasihat yang tepat — seolah hanya mereka yang sedang diajak bicara.
Namun beliau selalu berkata:
> “Jika kalian melihat seseorang berjalan di udara atau di atas air, jangan langsung percaya, sampai kalian lihat apakah ia teguh memegang syariat atau tidak.”
Karomah bukan ukuran kewalian — istikamah dalam syariat adalah bukti sejati.
—
Refleksi untuk Jiwa Kita:
Apa yang menjadi tujuan kita dalam belajar agama: kemuliaan atau kerendahan hati?
Sejauh mana kita hadir dalam majelis ilmu untuk mencari Allah, bukan sekadar sensasi?
Apakah hidup kita menjadi cahaya bagi orang lain, seperti Syeikh Abdul Qodir menjadi cahaya bagi Baghdad?




Tinggalkan komentar