Riwayat Hidup Sang Wali Qutb “Cahaya dari Jilan”
Syekh Abdul Qodir AL-jaelani

Dalam sejarah para wali, ada nama-nama yang bersinar seperti bintang — dan di antaranya, sinar Syeikh Abdul Qodir Al-Jaelani laksana bulan purnama. Beliau adalah sosok yang tak hanya dihormati di dunia tasawuf, tetapi juga dikagumi oleh para ulama syari’ah dan pencari ilmu di berbagai belahan dunia Islam.

Kelahiran dan Nasab Mulia

Syeikh Abdul Qodir Al-Jaelani lahir pada tanggal 1 Ramadhan 470 H (sekitar 1077 M) di sebuah wilayah bernama Jilan (Gilan), yang terletak di sebelah selatan Laut Kaspia, wilayah Persia (Iran) masa kini. Nama lengkap beliau adalah:

> Abdul Qodir bin Musa bin Abdullah bin Yahya Al-Jaelani Al-Hasani.

Dari garis ayahnya, beliau merupakan keturunan dari Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib, cucu Nabi Muhammad SAW. Dari jalur ibunya, beliau juga bersambung kepada Imam Husain bin Ali, menjadikan beliau sebagai seorang Sayyid dari dua sisi — garis Hasan dan Husain.

Nasab ini bukan sekadar silsilah darah. Ia adalah cermin dari warisan spiritual yang telah mengalir dalam darahnya sejak lahir.

Tanda-Tanda Karomah Sejak Kecil

Riwayat menyebutkan bahwa sejak masih bayi, Syeikh Abdul Qodir sudah menunjukkan tanda-tanda keistimewaan. Ibunya pernah bersaksi bahwa pada bulan Ramadhan, beliau tidak mau menyusu di siang hari, sebagai tanda bahwa ruh beliau telah tunduk kepada syariat bahkan sebelum usia taklif.

Ayah beliau, Syeikh Musa Al-Jaelani, wafat ketika Abdul Qodir masih kecil. Sang ibu, seorang wanita salehah bernama Ummul Khair Fatimah, membesarkannya dengan penuh cinta, adab, dan keteladanan ruhani. Beliau juga dikenal sangat menjaga kehalalan makanan yang dikonsumsi, dan selalu menasihati anaknya untuk berjalan dalam kejujuran.

Lingkungan Sosial dan Keagamaan

Abad ke-5 Hijriyah merupakan masa penuh tantangan dalam dunia Islam. Baghdad, pusat kekuasaan Dinasti Abbasiyah, menjadi magnet bagi para pencari ilmu, namun juga sarat dengan konflik, perpecahan mazhab, dan kemerosotan moral di kalangan penguasa dan rakyat. Dalam kondisi seperti ini, Allah menumbuhkan seorang pemuda suci dari negeri jauh — yang kelak akan menghidupkan kembali semangat Islam dengan ilmu dan ruh.

> “Wahai anakku, jangan pernah berbohong dalam keadaan apa pun. Karena Allah bersama orang-orang yang jujur.”
— Nasihat sang ibu sebelum Abdul Qodir kecil berangkat ke Baghdad.

Refleksi untuk Perjalanan Ruhani Kita:

Apa yang kita warisi dari orang tua kita, baik secara ruhani maupun adab?

Apakah kita sudah menjaga kejujuran dalam hidup, seperti nasihat sang ibu kepada beliau?


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca