Wafatnya Sang Wali dan Warisan Abadi

Setiap yang hidup akan berpulang, namun ada jiwa-jiwa yang tidak mati bersama jasadnya. Tuan Syeikh Abdul Qodir Al-Jaelani wafat, namun namanya tetap hidup dalam hati jutaan pecinta Allah di seluruh dunia.
Detik-detik Terakhir Seorang Kekasih Allah
Menjelang akhir hayatnya, Syeikh Abdul Qodir mengalami sakit. Namun mulutnya tetap basah dengan dzikir, dan hatinya tetap terhubung dengan Rabb-nya. Dalam kondisi lemah, beliau masih memberikan wasiat kepada murid dan keluarganya.
Kata-kata terakhirnya yang masyhur:
> “Kakiku ini berada di atas pundak setiap wali Allah.”


Kalimat ini bukan kesombongan, tapi isyarat maqam quthbiyyah (kedudukan sebagai poros para wali) yang Allah anugerahkan padanya. Ia bukan mengaku, tapi menyampaikan amanah.
Wafatnya terjadi pada 11 Rabi’ul Akhir tahun 561 H (1166 M) di kota Baghdad. Hari itu langit Baghdad terasa redup. Ulama, fuqaha, awam hingga raja-raja menangis dalam kehilangan.
Makam yang Menjadi Magnet Cinta
Beliau dimakamkan di madrasahnya, dan hingga hari ini makamnya di Baghdad menjadi tempat ziarah ruhani umat Islam dari berbagai penjuru dunia. Ribuan ulama, sufi, dan pecinta ilmu datang setiap tahun, menyambung sanad cinta yang tak pernah putus.
Namun warisan terbesar beliau bukan terletak di makam, melainkan di:
Kitab-kitabnya yang menghidupkan hati,
Tarekatnya yang membimbing jiwa,
Akhlaknya yang menjadi teladan,
Dan semangatnya dalam mendidik umat menuju Allah.

Jejak yang Menyala Hingga Kini
Nama beliau terus disebut dalam majelis dzikir, thariqah, pesantren, hingga di lidah para pencari Tuhan. Banyak ulama besar yang mengambil ilham dari beliau:
Imam Nawawi,
Imam Ibnu Qudamah,
Syekh Ahmad Tijani,
Dan bahkan para Wali Songo di Nusantara.

Warisan Syeikh Abdul Qodir bukan hanya milik satu golongan. Ia milik siapa pun yang ingin bersihkan jiwa dan mencintai Allah dengan sungguh-sungguh.


Refleksi Diri Kita Hari Ini:
Apakah kita siap meninggalkan dunia dengan membawa warisan amal?
Apakah nama kita akan dikenang karena manfaat, atau dilupakan karena kesia-siaan?
Sudahkah kita menapaki jejak sang wali, walau hanya setapak kecil?

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca