
Dalam sejarah panjang Islam di Nusantara, para wali Allah (awliya’) memainkan peran sentral dalam membentuk peradaban, menebarkan cahaya petunjuk, dan menghidupkan kembali semangat cinta kepada Rasulullah ﷺ. Mereka bukan hanya tokoh agama biasa, tetapi pewaris warisan kenabian yang menyinari hati manusia dengan hikmah, akhlak, dan ilmu laduni. Di antara mereka, sosok KH. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani al-Banjari, yang lebih masyhur disebut Abah Guru Sekumpul, muncul sebagai salah satu tokoh karismatik paling berpengaruh dalam sejarah Islam modern di Indonesia.
Dikenal karena kealiman, ketawadhuan, dan kecintaan yang mendalam kepada Rasulullah ﷺ, Abah Guru Sekumpul telah menjadi magnet spiritual bagi jutaan umat Islam, tidak hanya di Kalimantan, tapi juga di seluruh Nusantara dan bahkan mancanegara. Majelis beliau bukan sekadar tempat pengajian, tetapi menjadi samudera cinta yang dalam, tempat ribuan hati berteduh, menangis, dan berubah. Wajahnya yang teduh dan kata-katanya yang lembut telah menghidupkan kembali nilai-nilai Islam yang penuh rahmat dan kasih sayang.
Uniknya, meskipun beliau hidup di zaman modern, nama dan ajaran beliau dikenal lintas generasi dan strata sosial. Dari para kiai hingga artis, dari ulama sufi hingga pedagang pasar, semua merasa dekat dan terhubung dengan sosok wali ini. Hal ini menunjukkan bahwa kewalian tidak mengenal batas ruang dan waktu; ia adalah getaran ruhani yang melampaui logika manusia biasa.
Artikel ini ditulis sebagai bentuk penghormatan dan dokumentasi ilmiah atas jejak kehidupan, ajaran, dan karamah Abah Guru Sekumpul. Di tengah minimnya literatur akademik yang mendalam tentang beliau, artikel ini diharapkan menjadi salah satu rujukan terbaik dan paling lengkap yang pernah ditulis di dunia maya. Dengan niat tulus dan adab yang tinggi, kita menelusuri jejak seorang kekasih Allah yang telah mengubah wajah dakwah Islam dengan kelembutan, cinta, dan kemuliaan.
Silsilah dan Kelahiran
Dalam tradisi Islam, silsilah seorang ulama adalah cerminan keberkahan ilmu dan warisan ruhani yang ia bawa. Begitu pula dengan Abah Guru Sekumpul—beliau bukan hanya lahir dari keluarga yang shaleh, tetapi juga memiliki garis keturunan yang mulia dan bersambung hingga kepada Baginda Nabi Muhammad ﷺ melalui jalur para habaib yang tersambung kepada Sayyid Abdullah al-‘Aidrus dan kemudian ke Imam Ahmad al-Muhajir, sosok kunci dalam penyebaran Islam di wilayah Hadhramaut dan Asia Tenggara.
Nama Lengkap dan Garis Nasab


Silsilah Lengkap Abah Guru Sekumpul hingga Rasulullah ﷺ
- KH. Muhammad Zaini (Abah Guru Sekumpul)
- Bin KH. Abdul Ghani
- Bin KH. Abdul Manaf
- Bin KH. Muhammad Seman
- Bin KH. Muhammad Sa’ad
- Bin KH. Abdullah
- Bin Mufti Muhammad Khalid
- Bin Khalifah Hasanuddin
- Bin Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (Datu Kalampayan)
- Bin Abdullah
- Bin Abu Bakar
- Bin Sultan Abdurrasyid Mindanao
- Bin Abdullah Mindanao
- Bin Zainal Abidin Abu Bakar al-Hindi
- Bin Ahmad Ash Shalaibiyyah
- Bin Husein
- Bin Abdullah
- Bin Syekh Abdullah al-Idrus al-Akbar
- Bin Abu Bakar as-Sakran
- Bin Abdurrahman as-Saqaf
- Bin Muhammad Maula Dawilah
- Bin Ali Maula Ad-Dark
- Bin Alwi al-Ghoyyur
- Bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam
- Bin Ali Faqih Nuruddin
- Bin Muhammad Shahib Mirbath
- Bin Ali Khaliqul Qassam
- Bin Alwi
- Bin Muhammad Maula Shama’ah
- Bin Alawi Abi Sa’dah
- Bin Ubaidillah
- Bin Imam Ahmad al-Muhajir
- Bin Imam Isa ar-Rumi
- Bin Imam Muhammad an-Naqib
- Bin Imam Ali al-Uraidhy
- Bin Imam Ja’far as-Shadiq
- Bin Imam Muhammad al-Baqir
- Bin Imam Ali Zainal Abidin
- Bin Sayyidina Husain
- Bin Sayyidah Fatimah az-Zahra
- Binti Rasulullah Muhammad ﷺ
Silsilah ini menunjukkan bahwa Abah Guru Sekumpul adalah keturunan ke-41 dari Rasulullah ﷺ melalui jalur Sayyidina Husain.
📌 Catatan Penting
- Silsilah ini bersumber dari berbagai kitab klasik dan manuskrip seperti Syajaratul Arsyadiyah, Silsilah Siti Fatimah, serta catatan lisan yang dijaga oleh para ulama dan keluarga beliau.PECINTA BIOGRAFI HABAIB DAN ULAMA’
- Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (Datu Kalampayan) merupakan tokoh sentral dalam silsilah ini, yang dikenal sebagai ulama besar di Kalimantan Selatan dan penulis kitab Sabilal Muhtadin.Kompas+6jatman.or.id+6kumparan+6
- Abah Guru Sekumpul dikenal tidak menonjolkan nasabnya, sebagai bentuk tawadhu’ dan untuk menghindari fitnah, sebagaimana yang dilakukan oleh para leluhurnya.
Nama lengkap beliau adalah KH. Muhammad Zaini bin KH. Abdul Ghani bin H. Abdul Manaf bin KH. Muhammad Seman. Dari jalur ibunda, beliau bersambung kepada jalur para habaib, sedangkan dari jalur ayah, merupakan keturunan ulama-ulama besar di tanah Banjar. Ayahandanya, KH. Abdul Ghani, adalah ulama terpandang dan salah satu penerus ajaran ulama besar Kalimantan, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, penulis kitab monumental Sabilal Muhtadin.
Dengan demikian, Abah Guru Sekumpul mewarisi dua arus utama dalam dunia Islam: keilmuan fiqh dan tasawuf dari para ulama lokal, serta garis nasab spiritual dari para Ahlul Bait Rasulullah ﷺ. Perpaduan ini menjadikan kehadiran beliau sebagai jembatan ruhani yang kokoh antara umat dengan Rasulullah ﷺ.
Kelahiran yang Penuh Tanda
Beliau dilahirkan pada hari Kamis, 27 Muharram 1361 H, bertepatan dengan 11 Februari 1942 M, di sebuah kampung yang kelak akan dikenal di seluruh Nusantara: Sekumpul, bagian dari Martapura, Kalimantan Selatan. Tempat ini kemudian menjadi pusat cahaya spiritual yang tak pernah padam hingga hari ini.
Sejak dalam kandungan, ibundanya sering merasakan getaran ruhani yang tidak biasa. Dikisahkan bahwa sang ibu sering bermimpi bertemu orang berpakaian putih, dan merasakan ketenangan luar biasa saat mengandung beliau. Banyak orang tua di sekitarnya menyatakan bahwa bayi ini kelak akan menjadi “anak yang membawa keberkahan bagi ummat”.
Lingkungan Keluarga dan Suasana Keilmuan
Lingkungan tempat beliau tumbuh bukanlah lingkungan biasa. Martapura, terutama daerah Sekumpul, adalah tanah yang subur dengan tradisi keilmuan dan tasawuf. Sejak kecil, Abah Guru sudah akrab dengan suara pengajian, dzikir, dan majelis-majelis ilmu. Ayah beliau, KH. Abdul Ghani, adalah sosok yang disiplin dan sangat memperhatikan pendidikan adab dan tauhid. Ibunda beliau pun dikenal sebagai wanita yang sangat menjaga kebersihan hati dan lisan, serta mencintai dzikir.
Kedekatan beliau dengan dunia ruhani sudah terlihat sejak kecil. Beliau dikenal tenang, tidak suka bermain berlebihan, dan lebih senang duduk mendengar orang mengaji. Bahkan banyak saksi mata menyebutkan bahwa wajahnya sejak bayi sudah membawa keteduhan, seolah “ada cahaya” yang terpancar darinya.
Masa Kecil dan Pendidikan
Masa kecil seorang wali biasanya sudah menunjukkan tanda-tanda istimewa yang tak lazim ditemukan pada anak seusianya. Demikian pula dengan Abah Guru Sekumpul—sejak usia dini, beliau dikenal sangat berbeda. Ketenangan, kesantunan, serta kecenderungan kepada hal-hal ruhani adalah ciri yang melekat sejak awal kehidupannya. Beliau bukan hanya anak yang cerdas secara intelektual, tetapi lebih dari itu: beliau memiliki kedewasaan ruhani yang sulit dijelaskan oleh logika biasa.
Anak Kecil yang Tidak Seperti Anak-anak Lain
Orang-orang tua di kampung Sekumpul sering berkata, “Zaini itu anak aneh, tapi aneh yang baik.” Maksud mereka, meskipun usianya masih kecil, beliau tidak pernah terlihat berperilaku kekanak-kanakan. Beliau sangat menjaga adab, bahkan kepada orang yang jauh lebih muda maupun tua. Jarang terdengar suaranya keras, tidak pernah membantah orang tua, dan tidak suka bermain-main yang sia-sia seperti anak sebayanya.
Diriwayatkan, sejak usia 7 tahun beliau telah gemar menyendiri untuk membaca Al-Qur’an dan wirid. Ketika ditanya kenapa tidak ikut bermain bersama teman-temannya, beliau menjawab dengan lembut, “Kita tidak tahu kapan malaikat maut datang…”
Kecintaan kepada Ilmu Sejak Dini
Pendidikan dasar agama beliau mulai dari ayahnya sendiri, KH. Abdul Ghani, yang merupakan guru besar fiqh dan tasawuf di Martapura. Ayahnya sangat keras dalam mendidik, namun penuh kasih. Abah Guru Sekumpul kecil belajar Al-Qur’an, fiqh dasar, tauhid, dan adab langsung dari sang ayah. Metode belajarnya sangat disiplin, dan beliau tidak hanya menghafal, tapi juga memahami makna di balik setiap ilmu.
Setelah itu, beliau belajar kepada beberapa ulama besar di Kalimantan Selatan, di antaranya:
- Guru Haji Sa’aduddin, yang dikenal sebagai ulama zuhud.
- Guru Haji Muhammad Yamani, ahli qiraat dan tafsir.
- Guru Haji Hasan, seorang mursyid tarekat dan wali kharismatik.
- Dan masih banyak lagi yang tidak disebutkan karena beliau sangat merendahkan diri dan enggan menonjolkan siapa gurunya secara publik.
Namun satu hal yang menjadi perhatian besar adalah kecintaan luar biasa beliau terhadap kitab-kitab karangan ulama salaf. Sejak remaja, beliau telah mengkhatamkan berbagai kitab besar, seperti:
- Syarah Hikam Ibnu ‘Athaillah,
- Ihya Ulumuddin Imam Al-Ghazali,
- Al-Hikam,
- Sabilal Muhtadin,
- Nihayatuz Zain, dan lainnya.
Bahkan menurut kesaksian beberapa murid dekatnya, di usia belasan tahun beliau sudah memahami hakikat ilmu tauhid dan tasawuf tingkat tinggi, sesuatu yang biasanya baru digapai oleh mereka yang berumur di atas 40 tahun ke atas.
Pendidikan Ruhani dan Tarekat
Masa remaja beliau juga menjadi fase pembentukan spiritual yang dalam. Di usia 14 tahun, Abah Guru Sekumpul mulai mengambil ijazah tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Beliau mendalami ilmu suluk, dzikir, dan adab thariqah secara serius di bawah bimbingan mursyid yang telah mencapai maqam fana’ dan baqa’.
Tidak hanya mengamalkan tarekat, beliau juga memiliki kedekatan khusus dengan ruh para wali, terutama Syekh Abdul Qadir al-Jailani dan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Sering beliau mendapat ilham dan petunjuk dalam bentuk mimpi yang jelas, bahkan ada kalanya mendapatkan pembukaan ruhani (futuh) dalam keadaan jaga.
Pengembaraan Ruhani dan Keilmuan
Jika ilmu syariat adalah pondasi, maka ilmu hakikat adalah menara tinggi tempat seorang hamba dapat memandang Tuhannya dengan kejernihan hati. Bagi Abah Guru Sekumpul, perjalanan ruhani bukan sekadar proses pencarian, tetapi jalan pulang menuju Allah yang dipenuhi dengan adab, mahabbah, dan fana’ dalam cinta Ilahi. Pengembaraan ruhani beliau mencerminkan kematangan spiritual yang sulit dicapai kecuali oleh hamba-hamba pilihan Allah.
Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah
Dalam usianya yang masih muda, Abah Guru Sekumpul telah mengambil baiat tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, dua jalan sufi besar yang saling melengkapi: Qadiriyah menekankan kekuatan mahabbah dan khidmah, sementara Naqsyabandiyah mendidik dengan dzikir khafi (dzikir dalam hati) dan suluk dalam kesunyian.
Beliau menerima ijazah tarekat ini dari beberapa guru mursyid yang tidak semuanya beliau sebutkan secara terbuka, karena menjaga adab dan kerahasiaan spiritual. Namun yang masyhur di kalangan dekat beliau adalah bahwa salah satu mursyidnya bersanad langsung kepada Syekh Ahmad Khatib Sambas, pendiri tarekat Qadiriyah-Naqsyabandiyah di Indonesia.
Dalam tarekat ini, beliau tidak hanya sebagai murid, tetapi juga mencapai maqam mursyid kamil, yakni seorang pembimbing ruhani yang telah fana’ dalam Allah dan baqa’ bersama Rasulullah ﷺ. Namun, dengan kerendahan hati yang luar biasa, beliau tidak pernah mengumumkan dirinya sebagai mursyid secara formal. Beliau lebih memilih menyebarkan ajaran melalui kelembutan dan keteladanan.
Ilmu Laduni dan Futuhat
Salah satu ciri utama wali Allah adalah terbukanya “futuhat”, yakni pembukaan makna batin dari Allah tanpa melalui proses logika biasa. Abah Guru Sekumpul dikenal sebagai sosok yang memiliki ilmu laduni, yakni ilmu yang diberikan langsung oleh Allah kepada hamba-Nya yang ikhlas, sebagaimana Nabi Khidir ‘alaihissalam.
Kesaksian para murid menyatakan bahwa beliau mampu menjelaskan makna ayat, hadits, bahkan kalam hikmah dari kitab tasawuf klasik dengan kedalaman luar biasa. Penjelasan beliau tidak kaku seperti teks, tetapi hidup dan menggugah hati.
Pernah dalam suatu majelis, ketika menjelaskan kalimat:
“Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu”
Barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya,
beliau berkata:
“Kenali dirimu yang sebenar-benarnya, maka engkau akan tahu bahwa dirimu bukanlah siapa-siapa, hanya hamba yang lemah. Di situlah engkau mulai melihat Allah dengan mata hati.”
Penjelasan-penjelasan seperti ini tidak hanya membuka akal, tapi menetes ke hati dan menggugah jiwa. Banyak yang menangis tanpa tahu sebab, karena ruh mereka sedang disentuh oleh kebenaran ilahi yang mengalir dari lisan sang kekasih Allah.
Hubungan Ruhani dengan Rasulullah ﷺ
Puncak dari seluruh pengembaraan ruhani Abah Guru Sekumpul adalah mahabbah (cinta) yang sangat dalam kepada Rasulullah ﷺ. Dalam banyak kesempatan, beliau mengatakan bahwa segala ilmu, amal, bahkan maqam wali sekalipun tidak akan bermakna jika tidak membawa kecintaan kepada Baginda Nabi.
Beliau sering terlihat menangis saat membaca shalawat atau menceritakan kisah Nabi. Bahkan dalam banyak kesaksian murid dekatnya, Abah Guru Sekumpul sering bertemu Rasulullah ﷺ, baik dalam mimpi maupun dalam keadaan jaga. Beliau pernah berkata dalam majelis:
“Rasulullah itu bukan hanya kekasih kita, tapi juga guru kita, pelindung kita, dan cahaya hidup kita. Jangan sampai sehari pun lewat tanpa bershalawat kepadanya.”
Inilah yang menjadikan dakwah beliau begitu menyentuh: ia dibangun di atas cinta yang dalam kepada Rasulullah ﷺ, bukan sekadar wacana atau hafalan. Dan cinta itu menular. Siapa pun yang duduk di majelis beliau, akan merasakan getaran cinta yang membuat hati rindu kepada Nabi.
Bagian ini menunjukkan bahwa pengembaraan ruhani Abah Guru Sekumpul bukanlah sekadar perjalanan pribadi, tetapi merupakan jalan suci yang dilalui dengan penuh adab, kesungguhan, dan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.
Karamah dan Keistimewaan
Dalam dunia tasawuf, karamah bukanlah tujuan, tetapi buah dari kedekatan seorang hamba kepada Allah. Ia bukan pertunjukan keajaiban, melainkan pancaran kasih sayang Allah kepada wali-Nya. Para wali tidak pernah membanggakan karamah, bahkan banyak dari mereka yang menyembunyikannya. Begitu pula Abah Guru Sekumpul—beliau tidak pernah menyebut dirinya wali, tidak pernah menceritakan karamahnya, namun karamah itu terlihat dan dirasakan oleh ribuan orang yang bersentuhan dengannya.
Prinsip Abah Guru Sekumpul Tentang Karamah
Dalam banyak pengajian, Abah Guru Sekumpul justru mengingatkan:
“Jangan kejar karamah. Kejarlah ridha Allah. Karamah itu hanya efek samping. Yang utama adalah istiqamah.”
Bagi beliau, karamah terbesar bukanlah bisa berjalan di atas air atau tahu hal gaib, tapi bisa menjaga hati dari riya, menjaga lidah dari ghibah, dan menjaga waktu dari kemaksiatan. Inilah hakikat kewalian.
Meski begitu, banyak kisah karamah beliau yang diceritakan oleh para saksi mata dan murid beliau—bukan sebagai hiburan, tapi sebagai penguat iman dan cinta kepada wali Allah. Berikut ini beberapa kisah yang terjaga sanadnya secara lisan dan menjadi bagian dari warisan ruhani umat Islam di Nusantara.
1. Mengetahui Isi Hati dan Keadaan Orang Lain
Seorang jamaah datang ke Sekumpul dengan niat buruk, ingin “menguji” Abah Guru dengan pertanyaan-pertanyaan jebakan. Sebelum sempat bertanya, Abah Guru berkata:
“Kalau mau tanya yang baik-baik saja, jangan bawa niat yang tidak bagus. Kita semua sama-sama hamba Allah.”
Orang itu gemetar dan langsung menangis. Ia mengaku bahwa memang membawa niat buruk. Sejak hari itu, ia menjadi pengikut setia dan berubah total kehidupannya.
Kisah seperti ini banyak disaksikan oleh orang-orang, termasuk ulama, pejabat, dan orang awam yang datang dengan berbagai masalah.
2. Muncul di Banyak Tempat dalam Waktu yang Sama (Tayyu al-Makan)
Dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan luar negeri, banyak orang bersaksi pernah bertemu Abah Guru Sekumpul di luar Kalimantan—di Mekkah, di Madinah, bahkan di Sulawesi dan Sumatera—padahal di waktu yang sama, beliau tetap berada di Sekumpul.
Sebagian ulama menyebut ini sebagai karamah tayyu al-makan (melipat tempat), suatu maqam yang sangat tinggi, dan hanya terjadi atas izin Allah. Tapi yang lebih ajaib lagi adalah beliau tidak pernah membanggakan atau mengakuinya.
3. Memberi Solusi Tanpa Diminta
Banyak orang datang kepada beliau dengan beban hidup: hutang, rumah tangga, penyakit, atau kebingungan. Tanpa menjelaskan masalahnya, Abah Guru kadang langsung berkata:
“Sudah, hutang itu nanti selesai. Ikhlaskan. Banyakin shalawat.”
Dan tak lama kemudian, jalan keluar pun datang dengan cara yang tidak disangka-sangka. Yang menarik, beliau tidak pernah meminta bayaran, hadiah, atau balasan dari siapa pun. Bahkan sering justru beliau yang memberi sedekah kepada orang yang datang.
4. Ketika Hujan Turun atau Berhenti karena Doa Beliau
Dalam beberapa haul akbar yang dihadiri jutaan jamaah, langit kadang mendung dan hujan deras sebelum acara. Tapi ketika doa dibacakan oleh Abah Guru, hujan berhenti atau tertahan di sekitar lokasi acara. Para jamaah menyebutnya “hujan yang patuh” kepada wali Allah. Bahkan setelah wafatnya pun, karamah ini masih sering dirasakan dalam haul tahunan beliau.
5. Keharuman dan Ketenangan yang Luar Biasa
Banyak orang menyebut aroma tubuh beliau seperti wangi kasturi, bahkan setelah beliau lewat, tempat itu tetap harum selama beberapa waktu. Sebagian jamaah mengatakan mereka bisa mengenali kedatangan beliau hanya dari aroma tubuhnya.
Yang lebih kuat dari itu adalah ketenangan hati yang muncul ketika duduk di dekat beliau. Banyak orang yang hatinya gundah tiba-tiba tenang saat memandang wajah beliau atau mendengar suaranya. Ini adalah bentuk karamah ruhani yang jauh lebih dalam dari sekadar keajaiban fisik.
Karamah Setelah Wafat
Sampai hari ini, ribuan orang bersaksi bahwa mereka mendapat mimpi bertemu Abah Guru Sekumpul. Dalam mimpi itu, beliau menasihati, menghibur, atau bahkan menyembuhkan. Sebagian merasa mendapatkan solusi hidup setelah “dikunjungi” beliau dalam mimpi.
Haul beliau di Sekumpul setiap tahun dihadiri jutaan orang dari seluruh penjuru Indonesia, bahkan dari luar negeri. Kehadiran massa yang begitu besar, penuh adab, dan tanpa kekacauan, adalah karamah tersendiri yang sulit dijelaskan dengan logika biasa.
Penutup Bagian Ini
Karamah-karamah ini bukan untuk dikultuskan, tetapi untuk menguatkan keyakinan bahwa Allah masih menurunkan wali-wali-Nya ke dunia. Abah Guru Sekumpul tidak ingin diagungkan secara berlebihan. Beliau hanya ingin umat mencintai Rasulullah ﷺ, beramal dengan ikhlas, dan kembali kepada Allah dengan hati yang bersih.
Seperti yang sering beliau katakan:
“Jadilah orang shaleh yang tak dikenal di bumi, tapi dikenal di langit.”
Dakwah dan Pengaruh
Jika banyak orang berdakwah dengan suara yang lantang, maka Abah Guru Sekumpul berdakwah dengan kelembutan yang meluluhkan hati. Beliau bukan orator, tapi kalamnya masuk ke dalam hati. Beliau bukan politikus, tapi jutaan orang tunduk padanya. Dan beliau bukan penguasa, tapi memiliki “kerajaan cinta” yang menjangkau seluruh penjuru negeri, dari rakyat jelata hingga presiden.
Dakwah yang Berlandaskan Cinta
Akar dari seluruh dakwah Abah Guru Sekumpul adalah mahabbah kepada Rasulullah ﷺ. Beliau selalu memulai setiap pengajian dengan pujian dan shalawat kepada Nabi. Menurut beliau, mencintai Nabi adalah pintu segala kebaikan. Banyak murid beliau bersaksi: setelah mengikuti majelis Abah Guru, mereka mulai mencintai sunnah, memperbaiki shalat, memperbanyak shalawat, dan meninggalkan maksiat—tanpa pernah dimarahi, tanpa dikritik, cukup dengan melihat wajah dan mendengar nasihat beliau.
“Jangan paksa orang jadi baik. Kasih contoh, doakan, dan cinta dia karena Allah,”
begitu pesan beliau yang terkenal.Pendekatan ini menjadikan dakwah beliau inklusif, tidak menghakimi, dan menghidupkan, bukan mematikan semangat orang.
Majelis Sekumpul: Samudera Cinta
Setiap malam Senin, rumah beliau di Sekumpul menjadi lautan manusia. Ribuan orang duduk bersimpuh mendengar beliau mengaji kitab, menyampaikan nasihat, atau sekadar memberi salam. Tak ada batasan status. Pejabat duduk di samping pedagang kaki lima. Santri muda berdampingan dengan ibu rumah tangga. Semua larut dalam suasana yang syahdu.
Majelis ini tidak diisi teriakan atau debat. Yang ada hanyalah suara pelan yang menenangkan, senyum yang meneduhkan, dan dzikir yang mendalam. Bahkan setelah wafatnya, majelis ini tetap hidup, dilanjutkan oleh murid-muridnya yang menjaga adab dan kemurnian ajaran beliau.
Dakwah Tanpa Politik, Tapi Diperhitungkan Penguasa
Abah Guru Sekumpul menjauhi politik praktis, namun para pemimpin bangsa datang kepada beliau. Presiden, gubernur, jenderal, hingga menteri sering meminta nasihat, namun beliau selalu meletakkan posisi sebagai hamba Allah yang tidak haus kekuasaan. Beliau pernah berpesan:
“Kalau bisa jangan jadi pejabat. Tapi kalau sudah jadi, banyakin shalawat dan jangan zolim.”
Para pejabat yang datang biasanya pulang dengan mata berkaca-kaca. Mereka tidak dinasihati secara keras, tapi dihujani cinta dan keheningan yang menyentuh batin.
Pengaruh Lintas Generasi dan Budaya
Yang luar biasa dari dakwah beliau adalah: bisa menyentuh semua kalangan. Anak muda senang mendengar nasihatnya. Para ulama segan dan hormat. Ibu-ibu rindu majelisnya. Bahkan non-Muslim pun mengakui kelembutan beliau. Banyak kisah muallaf yang masuk Islam setelah melihat wajah atau mendengar rekaman suara beliau.
Di era digital, ceramah-ceramah beliau terus beredar. Suaranya masih menenangkan, bahkan dari video yang telah puluhan tahun berlalu. Di TikTok, YouTube, dan Instagram, potongan ceramah beliau menjadi viral dan menginspirasi generasi baru.
Dakwah yang Membentuk Umat, Bukan Sekadar Penonton
Salah satu keistimewaan Abah Guru Sekumpul adalah beliau tidak menciptakan pengagum, tapi membentuk umat yang beramal. Setelah pulang dari majelis beliau, orang tidak hanya menangis, tapi berubah. Mereka mulai menutup aurat, berdzikir, memperbaiki adab, mencintai Rasulullah ﷺ, dan berhenti dari kebiasaan buruk—semua itu karena pancaran keteladanan beliau, bukan tekanan atau rasa takut.
Penutup Bagian Ini
Dakwah Abah Guru Sekumpul adalah cermin dari dakwah Rasulullah ﷺ: lemah lembut, penuh kasih, dan membangkitkan harapan. Beliau tidak membentak, tidak memaki, tidak menyudutkan. Tapi kata-katanya menembus hati, karena keluar dari hati yang penuh cinta.
“Kita dakwah bukan untuk menang debat. Kita dakwah supaya orang pulang membawa cinta kepada Nabi,”
adalah kalimat yang sering beliau ucapkan, dan menjadi warisan besar yang tak ternilai.
Wafat dan Haul
Setiap jiwa pasti akan merasakan mati. Tapi ada kematian yang menggetarkan bumi, karena ruh yang kembali adalah ruh pilihan, kekasih Allah yang telah menanamkan cinta di hati ribuan, bahkan jutaan manusia. Begitulah peristiwa wafatnya Abah Guru Sekumpul: bukan sekadar kehilangan, tapi perpisahan agung yang mengubah kesedihan menjadi lautan shalawat dan air mata cinta.
Wafat Sang Kekasih Allah
Abah Guru Sekumpul wafat pada hari Rabu, 5 Rajab 1426 H, bertepatan dengan 10 Agustus 2005 M, di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura. Beliau wafat dengan tenang dalam keadaan berzikir, diiringi lantunan shalawat dan kalimat tauhid. Dunia seakan berhenti sejenak—kabar duka itu menyebar ke seluruh penjuru Indonesia dalam hitungan jam.
Tak menunggu lama, ribuan orang dari berbagai daerah langsung bergerak menuju Martapura. Mereka datang tanpa diundang, tanpa dikomando, hanya karena cinta. Kota kecil Sekumpul mendadak menjadi lautan manusia. Rumah-rumah terbuka, masjid-masjid penuh, dan jalan-jalan dipadati jamaah yang ingin mengiringi kepergian beliau untuk terakhir kalinya.
Jasad beliau dimakamkan di dekat rumah beliau, di kompleks Sekumpul, Martapura. Prosesi pemakaman diiringi tangis tak berkesudahan. Tapi tidak ada keributan, tidak ada teriakan. Yang terdengar hanya dzikir, istighfar, dan shalawat. Inilah kematian yang hidup—kematian yang justru membangkitkan jiwa-jiwa yang selama ini tertidur.
Haul: Lautan Cinta yang Tak Pernah Surut
Sejak tahun pertama wafat beliau, Haul Abah Guru Sekumpul menjadi tradisi tahunan yang luar biasa. Jutaan orang datang dari seluruh penjuru Nusantara—bahkan dari Malaysia, Brunei, Singapura, hingga Timur Tengah—untuk menghadiri acara haul yang penuh adab, dzikir, dan shalawat.
Jumlah jamaah yang hadir dalam haul ini terus meningkat dari tahun ke tahun. Tidak ada undangan resmi, tidak ada sponsor besar, tapi orang-orang datang dengan hati. Mereka tidur di masjid, di teras rumah warga, di halaman, di dalam mobil. Mereka tidak minta dilayani. Mereka hanya ingin satu hal: mengenang dan menyambung ruh cinta kepada sang wali Allah.
Beberapa keistimewaan haul yang mencengangkan:
- Jumlah jamaah bisa mencapai 1–3 juta orang, menjadikannya haul terbesar di Asia Tenggara, bahkan dunia.
- Semua berlangsung dengan tertib dan damai, tanpa ada kerusuhan, padahal tanpa aparat keamanan besar.
- Warga Sekumpul melayani dengan ikhlas, membuka rumah, memberi makan gratis, menyediakan kamar mandi, dan tempat berteduh.
- Di setiap sudut kota, terdengar lantunan shalawat, dzikir, dan ceramah tentang cinta kepada Rasulullah ﷺ dan Abah Guru Sekumpul.
Haul bukan sekadar acara mengenang, tapi momentum ruhani tahunan, tempat berkumpulnya para pecinta Nabi, pecinta dzikir, pecinta shalawat, dan para pencari jalan pulang kepada Allah.
Kehidupan Setelah Wafat
Kematian Abah Guru Sekumpul justru menjadi awal dari kehidupan ruhani yang lebih luas. Video ceramahnya semakin tersebar. Buku-buku dan catatan nasihat beliau dikumpulkan. Majelis-majelis di berbagai daerah memakai namanya sebagai wasilah. Dan yang paling mencengangkan: masih banyak orang mendapat mimpi dan petunjuk dari beliau, seolah ruh beliau terus hidup dan membimbing.
Wafat beliau menjadi bukti bahwa:
“Orang-orang yang hidup karena Allah, tidak akan mati dalam hati umat.”
Makna Haul bagi Umat
Haul Abah Guru Sekumpul bukan hanya ritual tahunan, tapi pengingat akan nilai-nilai beliau:
- Cinta kepada Rasulullah ﷺ,
- Dzikir kepada Allah,
- Adab kepada guru dan orang tua,
- Istiqamah dalam ibadah,
- Dan lembut kepada sesama.
Haul adalah momentum untuk memperbarui janji ruhani, menguatkan tali silaturrahmi, dan membasuh hati dalam lautan cinta.
Penutup Bagian Ini
Wafatnya Abah Guru Sekumpul adalah bukti nyata bahwa kemuliaan tidak mati bersama jasad, tapi terus hidup dalam adab, cinta, dan dzikir umat yang ditinggalkannya. Setiap haul yang diadakan, setiap air mata yang menetes, dan setiap shalawat yang dilantunkan atas namanya—adalah saksi bahwa beliau telah mencintai umat ini, dan kini umat ini mencintainya kembali dengan sepenuh hati.
“Orang yang mencintai, tak pernah benar-benar pergi.”
Warisan Spiritual dan Kultural
Wali Allah tidak hanya dikenang karena karamah atau ketenarannya. Yang paling abadi dari mereka adalah warisan ruhani yang menyentuh hati manusia lintas zaman. Abah Guru Sekumpul telah wafat secara jasad, namun nilai-nilai yang beliau wariskan terus hidup: dalam dzikir, dalam shalawat, dalam lembutnya lisan para murid, dan dalam mata umat yang selalu basah ketika menyebut namanya.
Ajaran-Ajaran Utama
Berikut adalah warisan ajaran utama Abah Guru Sekumpul, yang terus menjadi pondasi bagi jutaan pengikutnya:
1. Mahabbah kepada Rasulullah ﷺ
Ini adalah ruh utama seluruh perjalanan ruhani beliau. Beliau selalu menekankan bahwa inti dari seluruh agama adalah cinta kepada Nabi Muhammad ﷺ. Bukan hanya melalui lisan, tetapi dengan amal dan pengamalan sunnah.
“Cintailah Nabi, karena beliau adalah jalan kita menuju Allah,”
begitu pesan yang selalu diulang-ulang.
2. Menjaga Adab dan Akhlak
Abah Guru selalu mengajarkan agar umat Islam tidak hanya sibuk dengan ibadah formal, tapi juga menjaga adab: kepada orang tua, guru, sesama, dan terutama kepada Allah dan Rasul-Nya. Beliau menekankan bahwa adab lebih tinggi daripada ilmu, karena ilmu tanpa adab bisa menyesatkan.
3. Dzikir, Shalawat, dan Istighfar
Beliau menganjurkan agar setiap Muslim memperbanyak:
- Shalawat (minimal 300 kali sehari),
- Istighfar (minimal 100 kali sehari),
- Dzikir La ilaha illallah,
- Dan wirid-wirid harian lainnya yang disusun para ulama salaf.
Dzikir ini tidak hanya sebagai ritual, tapi sebagai penjernih hati dan penarik rahmat Allah.
4. Beramal Ikhlas dan Diam-Diam
Salah satu ciri khas murid-murid beliau adalah tidak suka menonjolkan diri dalam beramal. Karena beliau sangat menekankan keikhlasan. Beliau sendiri tidak pernah mengiklankan kebaikannya, namun justru jutaan orang merasakannya.
“Kalau bisa beramal tanpa ada yang tahu, itu lebih baik. Karena syaitan tidak bisa mengganggu amal yang tersembunyi,”
kata beliau dalam salah satu pengajiannya.
5. Cinta Damai, Tidak Suka Konflik
Abah Guru Sekumpul dikenal sangat hati-hati dalam menyampaikan kritik. Beliau lebih memilih menyampaikan solusi, bukan perdebatan. Bahkan ketika ada yang mencela atau meremehkannya, beliau hanya tersenyum. Prinsip beliau adalah:
“Jangan balas keburukan dengan keburukan. Balaslah dengan do’a dan diam yang mulia.”
Karya dan Tulisan
Meskipun tidak banyak menulis, ada beberapa karya penting beliau dan catatan-catatan yang ditulis murid-muridnya, antara lain:
- Manâqib Syekh Abdul Qadir Jailani, yang sering dibacakan dalam majelis.
- Pengajian kitab Hikam, Syarah Sabilal Muhtadin, dan kitab-kitab tasawuf lainnya yang direkam dan ditranskripsikan.
- Wasiyat-wasiyat ruhani, yang disampaikan secara lisan tapi kini terdokumentasi dalam bentuk buku dan video.
Yang menarik, warisan terbesar beliau bukan pada tulisan, tetapi pada hati manusia yang berubah karena dakwah beliau.
Penerus dan Lembaga Pendidikan
Meskipun beliau tidak menunjuk secara resmi seorang “khalifah” atau penerus langsung, dakwah beliau dilanjutkan oleh:
- Para murid utama, seperti Guru Zuhdi (rahimahullah), Guru Wildan Salman, Guru Udin Samarinda, dan lainnya.
- Majelis-majelis Sekumpul yang tersebar di seluruh Indonesia.
- Pondok pesantren dan lembaga pendidikan yang terinspirasi oleh metode beliau: lembut, cinta damai, berlandaskan mahabbah Rasulullah.
Anak-anak muda pun kini mulai meneruskan dakwah beliau lewat media sosial, podcast, YouTube, dan TikTok—dengan tetap menjaga ruh adab dan kelembutan yang menjadi ciri khas dakwah Sekumpul.
Pengaruh Budaya
Warisan Abah Guru juga menyentuh ranah budaya:
- Munculnya tradisi haul yang ditiru di berbagai daerah.
- Munculnya lagu-lagu shalawat khas Sekumpul.
- Busana muslim tradisional yang lembut dan sopan seperti yang beliau kenakan, kini ditiru banyak orang.
- Bahkan banyak nama anak diberi “Zaini”, sebagai bentuk cinta kepada beliau.
Penutup Bagian Ini
Warisan spiritual Abah Guru Sekumpul tidak berbentuk istana atau gelar dunia, melainkan berupa jiwa-jiwa yang hidup, hati yang tersentuh, dan umat yang bangkit dengan cinta. Beliau telah menanam pohon kebaikan, dan kini kita semua menikmati buahnya.
“Jika engkau ingin meninggalkan warisan terbaik, tinggalkanlah akhlak dan cinta yang akan terus hidup setelah kematianmu.”
Itulah yang dilakukan Abah Guru Sekumpul.
Dalam setiap zaman, Allah tidak pernah membiarkan umat-Nya tanpa cahaya. Ketika dunia diliputi kegersangan ruhani, Allah hadirkan para kekasih-Nya—para wali—yang menyejukkan, menuntun, dan menghidupkan kembali cinta kepada Rasulullah ﷺ dan Allah Ta’ala. KH. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani, atau yang lebih dikenal sebagai Abah Guru Sekumpul, adalah salah satu dari mereka: pelita yang menerangi malam-malam gelap umat, dan oase bagi hati-hati yang haus akan cinta Ilahi.
Kehidupan beliau adalah rangkaian keteladanan. Dalam kelembutan lisannya, kita belajar bagaimana menegur tanpa menyakiti. Dalam senyumnya yang tenang, kita belajar bagaimana mencintai tanpa syarat. Dalam dzikirnya yang dalam, kita belajar bagaimana kembali kepada Allah dengan hati yang bersih. Dan dalam wafatnya yang agung, kita tahu bahwa wali Allah tidak pernah benar-benar pergi—mereka hanya berpindah dari pandangan mata ke pelukan cinta di dalam dada.
Bukan hal yang berlebihan jika dikatakan bahwa Abah Guru Sekumpul adalah warisan ruhani terbesar Kalimantan Selatan di era modern, dan salah satu tokoh sentral Islam di Nusantara. Bukan karena pengaruh politik, bukan karena jaringan kekuasaan, tapi karena satu hal yang tak bisa dipalsukan: cinta sejati kepada Rasulullah ﷺ yang meresap dalam setiap laku hidupnya.
Melalui artikel ini, kita telah menelusuri jejak kehidupan beliau: dari silsilah mulia, pendidikan ruhani yang dalam, keistimewaan yang Allah anugerahkan, hingga pengaruh luas dakwah beliau yang menyejukkan jutaan jiwa. Namun sejatinya, mengenal seorang wali bukanlah dengan membaca biografinya semata—melainkan dengan menghidupkan ajarannya dalam kehidupan kita.
Kini, tugas kita bukan sekadar mengagumi, tapi melanjutkan jejak langkah beliau: menjaga adab, memperbanyak dzikir, memperkuat cinta kepada Nabi ﷺ, serta menjadi pribadi yang lembut, sabar, dan penuh kasih kepada sesama.
Karena sesungguhnya, seperti pesan Abah Guru:
“Jadilah orang yang kalau meninggal, dirindukan orang shaleh. Bukan karena harta atau jabatan, tapi karena hatimu yang hidup bersama Allah dan Rasul-Nya.”
Akhir Kata
Semoga artikel ini menjadi amal jariyah bagi kita semua. Semoga setiap kata menjadi wasilah bertambahnya cinta kita kepada Abah Guru Sekumpul, dan lebih-lebih lagi kepada Rasulullah ﷺ. Dan semoga kita semua kelak dikumpulkan bersama para wali dan orang-orang yang dicintai Allah, di dunia ini maupun di akhirat kelak.
Al-Fatihah untuk Abah Guru Sekumpul.
اللَّهُمَّ اجعلنا من أوليائك، وارزقنا الأدب مع أوليائك، ولا تحرمنا من صحبتهم في الدنيا والآخرة. آمين.



Tinggalkan komentar