Malaikat Izrail Menurut Abuya Muhammad Amin Yusuf: Mencabut Keburukan Dalam Diri

Dalam pandangan umum, Malaikat Izrail dikenal sebagai malaikat pencabut nyawa. Namun dalam pemahaman ruhani yang disampaikan oleh Abuya Muhammad Amin Yusuf, tugas Izrail bukan sekadar mencabut ruh secara fisik, melainkan mencabut sifat-sifat keburukan dalam diri manusia, bahkan sejak ia masih hidup di dunia.


1. Siapa Malaikat Izrail?

Nama Izrail berasal dari bahasa Ibrani, yang berarti “Penolong Tuhan”. Dalam Islam, ia dikenal sebagai Malak al-Maut (Malaikat Maut) yang bertugas mencabut nyawa manusia saat ajal tiba.

Namun Abuya Muhammad Amin Yusuf memaknai tugas ini secara lebih dalam. Menurut beliau:

“Izrail hadir bukan hanya ketika nyawa dicabut dari jasad, tapi juga ketika sifat buruk dicabut dari hati.”


2. Dalil Al-Qur’an dan Hadis

“Katakanlah: Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu, kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.” (QS. As-Sajdah: 11)

Menurut ulama sufi, ayat ini bisa dimaknai secara lebih batin:

  • “Mematikan kamu” bisa berarti mematikan hawa nafsu
  • “Dikembalikan kepada Tuhanmu” berarti kembali pada fitrah ruhani

Hadis Nabi SAW:

“Matilah sebelum kamu mati” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman)

Hadis ini menjadi dasar bahwa kematian ruhani (mati dari dosa, ego, dan keburukan) adalah bagian dari perjalanan menuju Allah.


3. Tugas Izrail Menurut Abuya Muhammad Amin Yusuf

Menurut Abuya:

  • Malaikat Izrail ditugaskan untuk mencabut sifat takabbur, ujub, riya, cinta dunia, malas ibadah, dan penyakit hati lainnya
  • Pencabutan ini dilakukan secara bertahap, melalui kejadian-kejadian hidup yang mengikis ego dan membuka hati manusia
  • Izrail hadir dalam momen kesadaran, rasa sesal, hancurnya keangkuhan, dan tumbuhnya keikhlasan

“Jika seseorang tiba-tiba sadar bahwa selama ini ia sombong, dan menangis menyesal, maka itu tanda Izrail telah mencabut sifat takabbur dari hatinya.”


4. Pandangan Ulama Sufi

  • Imam Al-Ghazali: “Setiap sifat buruk adalah bagian dari ruh kebinatangan dalam diri manusia. Maka mencabutnya adalah bentuk kematian ruhani.”
  • Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani: “Mati bukan akhir, tapi permulaan. Orang yang belum mati dari dunianya tidak akan hidup dalam Tuhan.”
  • Ibn Arabi: “Malaikat maut datang dalam bentuk yang berbeda untuk setiap hamba. Bagi para wali, ia hadir dalam bentuk cahaya penyuci.”

5. Bagaimana Malaikat Izrail Mencabut Keburukan?

Menurut Abuya, prosesnya meliputi:

  • Musibah yang menghancurkan rasa angkuh
  • Peringatan dari Allah lewat mimpi, nasihat, atau firasat
  • Kesadaran saat melihat orang lain wafat
  • Ujian yang membuat seseorang belajar sabar, ikhlas, dan tawakal

Izrail mengangkat satu demi satu penyakit hati agar kita siap bertemu Allah dalam keadaan suci.


6. Tanda-Tanda Izrail Sedang Bekerja Dalam Diri

  • Hati terasa pedih karena menyadari kesalahan
  • Rasa malu kepada Allah karena dosa yang lalu
  • Menangis tanpa sebab ketika mengingat Allah
  • Tiba-tiba merasa jijik terhadap dunia dan nafsu
  • Munculnya semangat untuk hijrah dan taubat

7. Dalam Filsafat Islam

Dalam filsafat Islam, kematian dipahami sebagai perpindahan dari dunia zahir ke alam ruhani. Proses penyucian diri dari sifat-sifat buruk dianggap sebagai bentuk kematian transenden.

Al-Kindi menyebutkan bahwa penyempurnaan akhlak adalah kematian terhadap sifat hewani dan kelahiran jiwa rasional.


8. Cara Menyambut Izrail Dalam Diri

  • Jangan tolak rasa bersalah, itu tanda pencabutan sifat buruk sedang dimulai
  • Bersyukurlah saat diuji, karena ujian adalah alat Izrail menyucikanmu
  • Berdoalah agar Allah mengizinkan hatimu disucikan sebelum ruh dicabut
  • Perbanyak istighfar dan dzikir, karena itu membuka pintu cahaya untuk ruh

“Izrail mencabut keburukan agar kelak ia tak berat saat mencabut ruh.”


9. Pertanyaan Untuk Tadabbur

  • Apa sifat buruk yang masih kuat dalam diriku?
  • Adakah peristiwa hidup yang membuatku kehilangan keangkuhan?
  • Sudahkah aku ridha saat dicabut dari kemewahan dunia?

10. Penutup

Menurut Abuya Muhammad Amin Yusuf, Izrail tidak hanya datang di akhir usia, tetapi datang setiap kali hati kita dibersihkan dari sifat buruk. Maut ruhani inilah yang membuka jalan menuju kehidupan yang sebenarnya. Maka jangan hanya takut akan mati, tapi takutlah jika mati dalam keadaan belum suci.



Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca