Malaikat Malik Menurut Abuya Muhammad Amin Yusuf: Penjaga Neraka Duniawi Dalam Diri

Malaikat Malik dikenal dalam syariat sebagai penjaga neraka. Dalam Al-Qur’an, ia disebut sebagai kepala dari para penjaga neraka (zabaniyah). Namun menurut Abuya Muhammad Amin Yusuf, tugas Malaikat Malik tidak hanya di akhirat. Di dunia ini, Malik berfungsi sebagai pengingat dan pembimbing agar manusia tidak menciptakan neraka dalam dirinya sendiri, melalui rasa kepemilikan, kerakusan, dan kezaliman.

“Malik menjaga agar manusia tidak menjadikan dunia ini neraka dengan merasa memiliki apa yang bukan miliknya.”


1. Siapa Malaikat Malik?

Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

وَنَادَوْا يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ ۖ قَالَ إِنَّكُم مَّاكِثُونَ
“Dan mereka berseru, ‘Wahai Malik! Biarlah Tuhanmu membinasakan kami saja.’ Dia menjawab, ‘Sesungguhnya kamu akan tetap tinggal (di dalam neraka).’” (QS. Az-Zukhruf: 77)

Malaikat Malik adalah simbol dari keadilan yang tegas, tanpa kompromi bagi yang melampaui batas.


2. Pandangan Abuya Muhammad Amin Yusuf

Menurut Abuya:

  • Malaikat Malik hadir di dunia dalam bentuk kesadaran akan batas dan tanggung jawab
  • Neraka itu bukan hanya nanti, tetapi bisa terjadi saat manusia:
    • Merasa memiliki dunia secara mutlak
    • Tidak ridha pada ketetapan Allah
    • Menyakiti orang lain karena ambisi pribadi
  • Malik mengingatkan: semua hanyalah titipan Allah, bukan milik kita yang hakiki

“Kita masuk ke dalam neraka dunia jika hati kita membakar diri sendiri karena serakah dan tidak rela.”


3. Dalil Al-Qur’an Tambahan

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ * وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
“Semua yang ada di bumi akan binasa, dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 26–27)

Ayat ini memperkuat bahwa kepemilikan dunia adalah fana. Bila kita bergantung padanya, kita sedang menciptakan neraka batin.


4. Malaikat Malik Sebagai Pengingat Hati

  • Malik adalah perwujudan keadilan Allah dalam diri kita
  • Ketika kita menolak berbagi, mencintai harta berlebihan, atau zalim karena kekuasaan, Malik mengingatkan: “Ini jalan menuju api”
  • Ia “menjaga gerbang” hati kita agar tidak dilewati syahwat dan keserakahan tanpa kendali

5. Pandangan Ulama Sufi

  • Imam Al-Ghazali: “Api neraka berasal dari api amarah, iri, dan rakus yang tumbuh dalam diri.”
  • Ibn Arabi: “Neraka itu bukan tempat, tapi keadaan. Dan Malik adalah malaikat penjaga agar manusia sadar akan kondisi batinnya.”

6. Tanda Malik Sedang Mengingatkan

  • Tiba-tiba merasa tidak tenang setelah menyakiti orang lain
  • Rasa berat dalam hati saat menumpuk harta secara berlebihan
  • Ketidaktenangan meski memiliki kekayaan
  • Perasaan bersalah saat melampaui batas hak orang lain

7. Hadis Terkait

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ
“Jagalah diri kalian dari api neraka walaupun hanya dengan bersedekah sepotong kurma.” (HR. Bukhari dan Muslim)

إِنَّ اللَّهَ عَدَلٌ، يُحِبُّ الْعَدْلَ
“Sesungguhnya Allah Maha Adil dan mencintai keadilan.” (HR. Ahmad)

Hadis ini menunjukkan bahwa Allah ingin kita hidup adil, dan neraka adalah akibat dari kezaliman dan ketidakadilan. Malik hadir sebagai penjaga prinsip ini.


8. Cara Menjaga Diri dari Neraka Dunia

  • Jangan merasa memiliki apa pun secara absolut: semuanya milik Allah
  • Berlaku adil, bahkan kepada diri sendiri
  • Jaga lisan, harta, dan kekuasaan dari menzalimi
  • Ingat bahwa setiap kenikmatan akan dipertanggungjawabkan

“Selama kita tidak terikat pada dunia, Malik tidak akan mengunci kita di neraka dunia.”


9. Pertanyaan Tadabbur

  • Adakah sesuatu yang kuanggap milik pribadi yang membuatku tamak?
  • Sudahkah aku membagikan nikmat dunia kepada orang lain?
  • Apakah aku sedang menciptakan neraka kecil dalam keluarga, bisnis, atau pergaulanku?

10. Penutup

Menurut Abuya Muhammad Amin Yusuf, Malaikat Malik bukan hanya penjaga neraka akhirat, tapi juga penjaga kesadaran manusia dari menciptakan neraka dalam dirinya sendiri. Ia hadir untuk membimbing manusia agar tidak membakar hidupnya dengan kezaliman, keserakahan, dan rasa memiliki yang melampaui batas. Siapa yang hidup dengan adil dan ridha, maka ia jauh dari neraka—baik yang lahir maupun yang batin.



Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca