
Dalam pemahaman umum, Malaikat Munkar dan Nakir dikenal sebagai malaikat yang bertugas menanyai manusia di alam kubur tentang siapa Tuhan mereka, apa agama mereka, dan siapa nabi mereka. Namun menurut Abuya Muhammad Amin Yusuf, tugas Munkar dan Nakir lebih dari sekadar bertanya setelah kematian jasmani. Mereka adalah penjaga kesadaran ruhani yang senantiasa bertanya dalam hidup manusia, agar manusia selalu menjadikan Allah dan Rasulullah sebagai jawaban dari segala sesuatu dalam hidupnya.
1. Siapa Munkar dan Nakir?
Dalam tradisi syariat, Munkar dan Nakir adalah dua malaikat yang menguji iman seseorang di alam kubur. Namun menurut Abuya Muhammad Amin Yusuf, hakikat pertanyaan ini tidak menunggu sampai tubuh dikubur dalam tanah:
“Ruhmu sudah berada dalam kubur jasadmu sejak lahir ke dunia. Maka Munkar dan Nakir bertanya setiap saat: Siapa Tuhanmu dalam pencarianmu? Siapa Nabimu dalam tindakanmu? Siapa yang kau ikuti dalam pilihan hidupmu?”
2. Dalil Al-Qur’an dan Hadis
“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat…” (QS. Ibrahim: 27)
Ayat ini menegaskan bahwa ujian keyakinan terjadi di dunia dan akhirat. Maka, menjadikan Allah dan Rasulullah sebagai pusat kehidupan adalah bentuk jawaban sejati.
3. Abuya: Munkar dan Nakir Mengarahkan Kita Kepada Satu Jawaban
Abuya menjelaskan bahwa:
- Munkar dan Nakir hadir bukan sekadar bertanya, tapi mengarahkan manusia agar kembali pada jawaban sejati: Allah dan Rasul-Nya
- Dalam setiap pilihan, bisikan, dan dorongan hati, mereka hadir untuk mengingatkan
- Pertanyaan sejatinya bukan “Siapa Tuhanmu?”, tapi “Apakah engkau benar-benar menjadikan Allah sebagai Tuhanmu?”
“Pertanyaan yang sesungguhnya adalah: Siapa yang menjadi jawaban dari seluruh persoalanmu—hartamu, sakitmu, gelisahmu, bahagiamu? Jika bukan Allah dan Rasul, maka engkau belum menjawab dengan benar.”
4. Bentuk Pertanyaan Dalam Hidup Sehari-Hari
Menurut Abuya, Munkar dan Nakir hadir dalam:
- Saat kita bingung memilih: ikut hawa nafsu atau syariat?
- Ketika diuji, apakah kita bersandar pada logika dunia atau tawakkal?
- Saat bahagia, apakah kita bersyukur kepada Allah atau lupa?
- Dalam tindakan, apakah kita meneladani Rasulullah atau tokoh dunia?
5. Tujuan Pertanyaan: Bukan Menguji, Tapi Mengembalikan
Pandangan Abuya sangat unik dan dalam:
- Munkar dan Nakir bukan hanya penguji, tapi pengarah ke jawaban yang benar
- Mereka bertanya bukan untuk menjatuhkan, tapi agar manusia tersadar dan kembali
- Jika manusia telah menjadikan Allah dan Rasul sebagai pusat hidupnya, maka pertanyaan pun akan dijawab oleh hatinya secara otomatis
6. Pandangan Ulama Sufi
- Ibn Athaillah: “Apa yang menempati hatimu itulah Tuhanmu.”
- Imam Al-Qusyairi: “Kubur adalah tempat ruhmu diuji tentang siapa yang kau cintai.”
- Para sufi sepakat: pertanyaan Munkar dan Nakir dijawab dengan kondisi hati dan amal, bukan sekadar lisan.
7. Tanda Bahwa Kita Menjawab Dengan Benar
- Segala keputusan hidup didasarkan pada keridhaan Allah
- Rasulullah menjadi teladan nyata dalam akhlak dan sikap
- Hati selalu kembali kepada Allah dalam setiap masalah
- Tidak silau oleh dunia, karena keyakinan tertambat kepada Tuhan
8. Cara Mempersiapkan Diri
- Perbanyak menyebut nama Allah dan Rasulullah dalam doa dan dzikir
- Jadikan sunnah Rasul sebagai dasar tindakan
- Tanyakan dalam hati sebelum mengambil keputusan: “Apakah ini sesuai dengan Allah dan Rasul-Nya?”
- Bangun cinta sejati kepada Allah dan Nabi, bukan hanya dalam ucapan tapi dalam sikap
“Orang yang selalu menjadikan Allah dan Rasul sebagai jawaban, akan mudah menjawab pertanyaan Munkar dan Nakir tanpa perlu berpikir.”
9. Pertanyaan Tadabbur:
- Dalam hal apa saja aku masih menjadikan dunia sebagai jawaban?
- Apakah aku mengingat Rasulullah saat marah, saat bekerja, saat diuji?
- Siapa sebenarnya yang menjadi pegangan utama dalam hidupku?
10. Penutup
Menurut Abuya Muhammad Amin Yusuf, pertanyaan Munkar dan Nakir bukan hanya akan terjadi, tapi sudah terjadi dan terus terjadi dalam keseharian kita. Mereka hadir sebagai penjaga hati, agar manusia tidak tersesat dalam jawaban yang salah. Tujuan akhirnya adalah: agar kita menjadikan Allah dan Rasulullah sebagai jawaban dari seluruh hidup ini.




Tinggalkan komentar