Malaikat Raqib dan Atid Menurut Abuya Muhammad Amin Yusuf: Pembimbing Ruhani Menuju Kebaikan

Dalam pemahaman umum, Malaikat Raqib dan Atid dikenal sebagai dua malaikat pencatat amal, masing-masing mencatat perbuatan baik dan buruk manusia. Namun menurut Abuya Muhammad Amin Yusuf, tugas mereka bukan hanya mencatat, tapi juga membimbing ruh manusia agar senantiasa condong pada kebaikan dan menjauhi keburukan.

“Raqib dan Atid bukan sekadar sekretaris yang diam mencatat. Mereka adalah pembisik ilham kebaikan dan peringatan agar ruh manusia tidak tersesat.”


1. Siapa Malaikat Raqib dan Atid?

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18)

Ayat ini menyebut dua malaikat: Raqib (pengamat/pengawas) dan Atid (selalu hadir/siap mencatat), yang senantiasa bersama manusia.


2. Pandangan Abuya Muhammad Amin Yusuf

Menurut Abuya:

  • Raqib adalah malaikat yang membisikkan kebaikan, mendorong manusia untuk bertindak sesuai nurani dan petunjuk ilahi
  • Atid adalah malaikat yang memperingatkan kita setiap kali mendekati keburukan, menyadarkan kita agar menjauh
  • Keduanya adalah pembimbing batin, bukan hanya pencatat pasif

“Ketika engkau merasa ingin berbuat baik tanpa alasan logis, bisa jadi itu bisikan dari Raqib. Ketika engkau merasa tidak nyaman hendak melakukan dosa, bisa jadi itu peringatan dari Atid.”


3. Dalil Tambahan dari Al-Qur’an

وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ * كِرَامًا كَاتِبِينَ * يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ
“Dan sesungguhnya bagi kalian ada penjaga-penjaga (malaikat), yang mulia lagi mencatat, mereka mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Infithar: 10–12)

Ayat ini menegaskan bahwa fungsi malaikat bukan hanya mencatat, tapi juga menjaga.


4. Raqib dan Atid dalam Perspektif Tasawuf

Dalam tasawuf, Raqib dan Atid dipahami sebagai:

  • Manifestasi dari kesadaran ilahiah dalam diri
  • Wujud dari dua sisi ruh manusia: satu cenderung pada nur, satu lagi menolak dzulmah (kegelapan)

Imam Al-Ghazali mengatakan:

“Allah menempatkan dua penjaga dalam diri manusia: satu mengarahkan kepada Allah, satu memperingatkan dari tergelincir.”


5. Bagaimana Mereka Membimbing?

Menurut Abuya, pembimbingan itu terjadi melalui:

  • Bisikan kebaikan: ingin shalat, membaca Al-Qur’an, atau bersedekah
  • Perasaan bersalah saat akan berbuat maksiat
  • Kegelisahan jika lalai dari dzikir
  • Dorongan kuat untuk bertobat atau memperbaiki diri

6. Tanda Raqib dan Atid Sedang Bekerja

  • Hati tiba-tiba tersentuh untuk menghindari dosa
  • Ada rasa malu berbuat salah meskipun tidak ada yang melihat
  • Tergerak membantu orang lain tanpa mengharap imbalan
  • Sering muncul kesadaran diri: “Allah sedang melihatku”

“Jika hati kita masih bisa merasa bersalah, itu bukti Raqib dan Atid belum meninggalkan kita.”


7. Cara Menyambut Bimbingan Mereka

  • Banyakkan dzikir dan muraqabah (mengawasi diri dalam kesadaran bahwa Allah melihat)
  • Jauhi lingkungan yang mematikan rasa malu
  • Perbanyak istighfar dan membaca Al-Qur’an
  • Latih diri untuk mendengarkan suara hati yang lembut

8. Hadis Pendukung

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ، ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ، فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِندَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً…
“Sesungguhnya Allah mencatat semua kebaikan dan keburukan… barang siapa yang berniat berbuat baik namun tidak melakukannya, maka dicatat satu kebaikan penuh.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa malaikat bukan hanya mencatat, tapi menimbang niat dan menumbuhkan kesadaran.


9. Pertanyaan Tadabbur

  • Apakah saya masih bisa membedakan mana yang baik dan buruk?
  • Apakah saya merasa bersalah jika berbuat dosa saat sendiri?
  • Bisakah saya mendengar bisikan nurani untuk kembali kepada Allah?

10. Penutup

Menurut Abuya Muhammad Amin Yusuf, Malaikat Raqib dan Atid adalah pembimbing ruhani yang menjaga manusia dari gelapnya kelalaian. Mereka bukan hanya saksi, tapi juga penolong yang diutus Allah agar manusia terus berada di jalan cahaya. Tugas kita adalah menjaga hati agar tetap peka terhadap bimbingan halus dari mereka.


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca