🌹 Sholawat Khobbiri: Ungkapan Cinta Abadi kepada Rasulullah ﷺ


🌟 Pendahuluan: Sholawat sebagai Jalan Cinta

Sholawat adalah perhiasan lisan seorang pecinta Nabi Muhammad ﷺ. Ia bukan sekadar lantunan, tetapi doa, cinta, rindu, dan harapan yang berpadu dalam harmoni. Salah satu sholawat yang telah menyentuh hati jutaan umat, khususnya di Indonesia, adalah Sholawat Khobbiri – sholawat yang sangat akrab di kalangan pecinta Abah Guru Sekumpul (KH. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani), seorang wali Allah dari Kalimantan Selatan.

Sholawat ini bukan hanya merdu di telinga, tetapi juga mengandung kedalaman makna yang membangkitkan cinta kepada Rasulullah ﷺ.


🕊️ Asal Usul dan Penyebaran

Sholawat Khobbiri dikenal luas di kalangan jamaah majelis-majelis maulid dan haul Guru Sekumpul. Meski tidak diketahui secara pasti pencipta awalnya, sholawat ini semakin populer berkat dibacakan dan diajarkan oleh Abah Guru Sekumpul, yang memiliki kecintaan luar biasa kepada Rasulullah ﷺ.

Nama “Khobbiri” berasal dari kata dalam bahasa Arab “خَبِّرِي” yang berarti “kabarkanlah padaku”. Kata ini menjadi pembuka bait pertama, menyimbolkan permohonan seorang pecinta yang rindu kabar tentang kekasihnya, Nabi Muhammad ﷺ.


📜 Teks Lengkap Sholawat Khobbiri

🅰️ Tulisan Arab:

خَبِّرِي خَبِّرِي خَبِّرِي يَا نُسَيْمَى عَنْ مُغْرَامٍ شَذِيٍّ وَالْهَانٍ
عَاشِقٌ عَاشِقٌ عَاشِقُ الْأَنْوَارِ
أَنْتِ عَنِّي تَشْتَكِينَ وَالْحَالُ كُلُّ اللَّيَالِي سَهْرَانٌ
كَيْ أَرَى الْمُخْتَارَ كَيْ أَرَى الْمُخْتَارَ
مَنْ يَلُومُنِي فِي غَرَامِي طَالَمَا عَاشِقٌ جَمَالَكَ
يَا مُكَرَّمُ يَا مُمَجَّدُ يَا مُؤَيَّدُ بِالشَّفَاعَةِ
هَا أَنَا أَنَالُهَا

🔤 Tulisan Latin:

Khobbirī khobbirī khobbirī yā nusaimā ‘an mughraamin shadhiyyin walhān
‘Āshiqun ‘āshiqun ‘āshiqul anwār
Anti ‘annī tasytakīna wal ḥālu kullu al-layāli sahrān
Kay arā al-Mukhtār kay arā al-Mukhtār
Man yalūmunī fī gharāmī ṭālamā ‘āshiqun jamālak
Yā mukarram yā mumajjid yā mu’ayyad bisy-syafā‘ah
Hā anā anāluhā

🇮🇩 Terjemahan:

Kabarkanlah kepadaku, wahai angin sepoi, tentang kerinduan yang harum dan menggelisahkan.
Aku adalah pecinta… pecinta… pecinta cahaya (Nabi).
Engkau mengeluhkan diriku, padahal aku begadang sepanjang malam…
Hanya agar aku bisa melihat Al-Mukhtar (Nabi Pilihan).
Siapa yang mencelaku karena cintaku? Bukankah aku telah lama mencintai keindahanmu?
Wahai yang dimuliakan, diagungkan, yang diberi syafa’at…
Kini aku memperolehnya (yakni syafa’at dan cinta Nabi).


💖 Makna Spiritual yang Dalam

Sholawat ini bagaikan puisi cinta sufi, penuh kerinduan yang luhur kepada Nabi Muhammad ﷺ. Bukan cinta biasa, tetapi cinta yang membakar jiwa, membuat sang pecinta begadang malam-malam, meneteskan air mata, hanya untuk satu hal: melihat Nabi ﷺ, meski hanya dalam mimpi.

  • “Khobbiri ya Nusayma” → Seruan kepada angin sepoi, simbol kehalusan dan bisikan rindu.
  • “Aashiqul Anwar” → Pecinta cahaya, yakni pecinta cahaya kenabian.
  • “Kay aral Mukhtar” → Harapan tertinggi: memandang sang Nabi Pilihan, Rasulullah.

Bait-bait ini menyentuh bukan hanya rasa, tetapi juga ruhaniyah, membangkitkan semangat mahabbah (cinta) dan tawassul (wasilah) kepada Nabi.


🌿 Mengapa Santri dan Masyarakat Perlu Mencintai Sholawat Ini?

  1. Menumbuhkan Cinta Nabi ﷺ
    – Melantunkan Khobbiri menanamkan cinta yang dalam kepada Rasulullah, mewarisi semangat para ulama salaf.
  2. Melembutkan Hati
    – Melodi lembut dan maknanya yang puitis membuat hati menjadi teduh dan tunduk pada kebaikan.
  3. Syiar Dakwah yang Indah
    – Sholawat ini dapat menjadi sarana dakwah yang estetis, menyentuh hati lintas usia dan latar belakang.
  4. Menghubungkan dengan Wali Allah
    – Sholawat ini diwariskan oleh Abah Guru Sekumpul, yang dikenal sebagai pecinta sejati Rasulullah. Membacanya, kita ikut nyambung sanad cinta itu.

📢 Penutup: Jadikan Sholawat Sebagai Gaya Hidup

Sholawat Khobbiri adalah mutiara cinta dari para kekasih Allah untuk umat yang rindu Rasulullah. Mari kita hidupkan di majelis-majelis, pesantren, rumah, dan hati kita.
Jadikan ia penyejuk lisan, penarik rahmat, dan pengundang syafa’at.

اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca