
Guru mulia, Kiai Abuya Muhammad Amin Yusuf, pernah menyampaikan satu hikmah yang mendalam:
“Kemakmuran adalah hasil dari kita menabur, bukan menabung.”
Sekilas, pernyataan ini terasa berlawanan dengan prinsip ekonomi modern. Namun, jika ditinjau dari sudut pandang tasawuf dan tarekat, ucapan ini mencerminkan kedalaman spiritual dan pemahaman terhadap hukum Allah dalam alam batin.
Makna Menabur dalam Tarekat
Dalam jalan tarekat, menabur adalah simbol dari memberi, berbagi, bersedekah, dan mengalirkan rezeki kepada sesama. Hal ini sejalan dengan fitrah seorang hamba yang senantiasa menjadi saluran rahmat Allah kepada makhluk lainnya.
Rasulullah SAW bersabda:
«مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ»
“Sedekah tidak akan mengurangi harta.”
(HR. Muslim, no. 2588)
Secara lahir, harta mungkin tampak berkurang, namun secara batin dan hakikat, keberkahan serta pertumbuhan rezeki justru ditambah oleh Allah Ta’ala.
Dalil Al-Qur’an tentang Keutamaan Memberi
Allah SWT berfirman:
{وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ ۚ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ}
“Apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya. Dan Dia-lah Pemberi rezeki yang terbaik.”
(QS. Saba’ : 39)
Dalam ayat ini, Allah menjanjikan langsung bahwa setiap yang ditabur akan diganti. Bukan hanya diganti dalam bentuk materi, tetapi juga dalam bentuk ketenangan, kelapangan hati, kemudahan hidup, dan kecintaan makhluk.
Menabung: Kewaspadaan atau Ketakutan?
Menabung dalam batas tertentu tidaklah tercela. Bahkan Nabi Yusuf AS mengajarkan perencanaan dan simpanan dalam menghadapi masa paceklik. Namun, jika menabung berubah menjadi rasa takut kehilangan dan terlalu mengandalkan harta simpanan, maka itu bisa menjadi hijab antara hamba dan Rabb-nya.
Rasulullah SAW bersabda:
«لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ، تَغْدُو خِمَاصًا، وَتَرُوحُ بِطَانًا»
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki; ia pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.”
(HR. At-Tirmidzi, no. 2344)
Menabur: Jalan Futuh dan Fana’
Seorang salik yang terbiasa menabur dan memberi, sedang melatih dirinya menuju fana’ — meleburkan ego kepemilikan. Ia menyadari bahwa semua harta adalah milik Allah. Ketika seseorang bersedekah dengan ikhlas, ia sedang membebaskan dirinya dari syirk khafi (kemusyrikan tersembunyi) terhadap dunia.
Dalam konteks ini, menabur menjadi salah satu cara untuk membuka futuh — pintu-pintu kemakmuran, ilmu, dan pengalaman ruhani yang mendalam.
Penutup
Kiai Abuya Muhammad Amin Yusuf tidak sekadar memberi nasihat, tapi membimbing umat untuk memahami bahwa rezeki adalah pancaran dari relasi dengan Allah, bukan hanya hasil dari akumulasi materi. Dalam tarekat, harta yang diberi akan kembali dengan bentuk yang lebih tinggi: keberkahan dan kedekatan dengan Allah.
Menaburlah tanpa takut kekurangan. Karena Allah tidak akan mengecewakan orang yang berserah diri dan memberi demi-Nya.




Tinggalkan komentar