Shalawat Al-Banjari: Keutamaan, Sejarah, dan Perkembangannya di Nusantara

Pengertian dan Keutamaan Shalawat

Shalawat merupakan bentuk puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW yang telah menjadi tradisi umat Islam di seluruh dunia. Dalam bahasa Arab, shalawat (صلوات) adalah bentuk jamak dari shalat (صلوة) yang berarti doa. Dalam konteks ini, shalawat merupakan doa yang disampaikan sebagai bentuk kecintaan kepada Rasulullah SAW, yang memiliki kedudukan tinggi di hadapan Allah SWT. Allah SWT sendiri memerintahkan umat Islam untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW dalam Al-Qur’an, seperti yang tercantum dalam Surah Al-Ahzab ayat 56:

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)

Shalawat menjadi simbol kecintaan umat Islam terhadap Rasulullah SAW, dan di dalamnya terkandung banyak keutamaan, baik untuk mendekatkan diri kepada Allah maupun untuk mendapatkan syafaat dari Nabi Muhammad SAW di hari kiamat.

Asal Usul Shalawat Al-Banjari

Shalawat Al-Banjari, yang dikenal luas di kalangan umat Islam di Indonesia, memiliki sejarah yang menarik. Nama “Al-Banjari” sebenarnya berkaitan dengan masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan, dan berasal dari syair-syair yang sering dilantunkan dalam tradisi masyarakat tersebut. Meskipun demikian, istilah “Al-Banjari” tidak berasal dari tanah Banjar saja, tetapi berhubungan erat dengan kebudayaan dan kontribusi masyarakat Banjar terhadap perkembangan seni shalawat ini di Nusantara.

Peran Abah Guru Sekumpul dalam Penyebaran Shalawat Al-Banjari

Abah Guru Sekumpul, atau Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani, adalah salah satu tokoh utama yang mempopulerkan shalawat Al-Banjari, terutama melalui seni hadrah yang khas. Abah Guru Sekumpul dikenal karena suara merdu dan penghayatan mendalam saat membacakan syair-syair shalawat, yang sering kali menggetarkan hati pendengarnya. Pengaruh beliau sangat besar dalam menyebarkan shalawat ini, tidak hanya di kalangan masyarakat Banjar, tetapi juga di seluruh Indonesia.

Selawat Al-Banjari sendiri sering dibawakan dalam acara-acara keagamaan dan sosial, termasuk peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, pernikahan, dan acara selamatan. Dalam perkembangannya, Abah Guru Sekumpul mengembangkan shalawat ini dengan memasukkan unsur-unsur seni, seperti tabuhan rebana yang diiringi dengan suara merdu dan penghayatan yang mendalam.

Syair Shalawat Al-Banjari

Syair dalam shalawat Al-Banjari terdiri dari pujian kepada Nabi Muhammad SAW, yang juga sering menyebutkan keluarga Rasulullah (Ahlul Bait) dan para sahabatnya. Abah Guru Sekumpul juga dikenal mengarang beberapa syair, di antaranya adalah Nūr al-Musthafā dan Sādatī, yang menjadi pujian sekaligus tawasul kepada Datu Kalampayan, leluhur beliau. Salah satu syair yang sering dibawakan dalam selawat Al-Banjari adalah “Yā Ahl al-Bayt an-Nabī”, yang meskipun berasal dari Habib Sholeh Tanggul, Jember, diadaptasi oleh Abah Guru Sekumpul.

Metode Hadrah dalam Shalawat Al-Banjari

Shalawat Al-Banjari tidak hanya dikenal karena syair-syairnya yang indah, tetapi juga karena tabuhan terbang (rebana) yang mengiringinya. Tabuhan terbang ini mengikuti rumus dasar yang terbagi dalam tiga bagian utama, yakni marasuk, maningkahi, dan manggulung, dengan masing-masing bagian memiliki tempo dan pola yang khas. Tabuhan ini mengiringi pembacaan shalawat dengan berbagai macam tempo yang mempengaruhi suasana hati pendengar.

Penyebaran dan Pengaruh Shalawat Al-Banjari

Walaupun shalawat Al-Banjari awalnya berkembang di kalangan masyarakat Banjar, popularitasnya segera merambah ke berbagai daerah di Indonesia, termasuk Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jakarta. Seiring dengan perkembangan media sosial dan semakin banyaknya orang yang tertarik pada budaya Banjar, shalawat ini mulai dikenal di berbagai festival dan lomba selawat, semakin memperluas jangkauan pengaruhnya.

Kesimpulan

Shalawat Al-Banjari yang dikembangkan oleh Abah Guru Sekumpul adalah bentuk ekspresi cinta dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Melalui syair-syair yang memuji Rasulullah dan Ahlul Bait, serta penghayatan yang mendalam dalam setiap lantunannya, shalawat ini menjadi sarana yang sangat efektif dalam mempertebal rasa cinta umat Islam terhadap Rasulullah. Keunikan dan kekhasan dalam pelaksanaan Shalawat Al-Banjari, terutama melalui seni hadrah, menjadikannya sebagai salah satu warisan budaya Islam yang layak untuk terus dilestarikan dan dikembangkan.


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca