Mengatasi Kesulitan dengan Prasangka Baik
KH.Muhhamad Amin Yusuf

Dalam dinamika kehidupan manusia, kesulitan merupakan suatu keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Namun demikian, para ahli tasawuf memiliki sudut pandang yang mendalam dalam memaknai kesulitan. KH. Muhammad Amin Yusuf,menyampaikan satu pandangan yang sangat esensial:

> “Kesulitan adalah buah dari prasangka buruk yang bersemayam di dalam hati kita.”

Pernyataan ini, jika dikaji lebih dalam, tidak hanya memiliki akar dalam tradisi spiritual Islam (tasawuf), namun juga selaras dengan prinsip-prinsip dalam filsafat, psikologi, dan teologi Islam. Artikel ini akan menguraikan secara sistematis bagaimana prasangka buruk (سوء الظن) dapat menjadi sebab munculnya kesempitan hidup dan kesulitan batiniah.

1. Landasan Teologis dan Hadits Nabi

Islam menekankan pentingnya husnuzhan billāh (berbaik sangka kepada Allah) sebagai bagian dari keimanan yang sehat. Rasulullah SAW bersabda dalam hadits Qudsi:

> قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: أَنَا عِندَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، فَإِنْ ظَنَّ خَيْرًا فَلَهُ، وَإِنْ ظَنَّ شَرًّا فَلَهُ
“Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Jika ia berprasangka baik, maka baginya kebaikan. Dan jika ia berprasangka buruk, maka baginya keburukan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa prasangka seorang hamba memiliki efek langsung terhadap bentuk pertolongan dan takdir yang ia rasakan. Maka, siapa yang mengisi hatinya dengan sangka buruk kepada Allah, sejatinya sedang menutup pintu rahmat dan membiarkan dirinya terperangkap dalam persepsi negatif yang mendatangkan kesulitan.

2. Perspektif Tasawuf: Hati sebagai Cermin Realitas

Dalam pandangan para sufi, hati (القلب) adalah tempat tajalli (penampakan) sifat-sifat Ilahi. Bila hati seseorang dipenuhi kegelapan berupa syak (keraguan), su’uzhan (prasangka buruk), dan hasad (iri hati), maka yang tampak dalam hidupnya pun adalah kesempitan, keresahan, dan penderitaan.

Ibn ‘Athaillah dalam al-Hikam berkata:

> ما ترك من الجهل شيئاً من أراد أن يحدث في الوقت غير ما أظهره الله فيه
“Tak tersisa lagi kebodohan bagi orang yang ingin mengubah takdir yang telah ditampakkan Allah pada waktu itu.”

Hal ini menegaskan bahwa keburukan prasangka terhadap Allah dan takdir-Nya menunjukkan kebodohan spiritual yang menghambat jalan menuju kemudahan.

3. Pandangan Filsafat dan Psikologi: Konstruksi Pikiran dan Realitas

Dalam filsafat eksistensial, seperti yang dikemukakan Viktor Frankl dan Jean-Paul Sartre, manusia tidak semata-mata mengalami realitas, tetapi membentuknya melalui makna yang ia bangun dalam pikirannya.

Sementara dalam psikologi kognitif, dikenal istilah self-fulfilling prophecy, yaitu keyakinan negatif yang terus-menerus diyakini dapat mempengaruhi perilaku hingga akhirnya menciptakan kenyataan tersebut.

Sebagai contoh, jika seseorang terus berpikir bahwa dirinya tidak berharga atau tidak akan ditolong Allah, maka ia akan hidup dalam kecemasan, tidak percaya diri, dan terus-menerus merasa gagal.

Ini menunjukkan bahwa prasangka negatif terhadap diri sendiri maupun kepada Allah merupakan akar dari kesulitan psikologis yang dirasakan.

4. Kisah Hikmah: Seorang Salik dan Ujian Kehidupan

Dikisahkan seorang salik (penempuh jalan Allah) mengadu kepada mursyidnya bahwa hidupnya penuh kesulitan. Ia merasa Allah tidak adil, doanya tak dikabulkan, dan usahanya sia-sia.

Sang mursyid tersenyum dan berkata,
“Kau datang padaku bukan membawa musibah, tapi membawa prasangka buruk. Bersihkan itu terlebih dahulu, maka kau akan melihat takdir dengan cahaya yang berbeda.”

Beberapa bulan kemudian, sang murid kembali, dan berkata,
“Ujian masih ada, tapi hati saya lebih lapang. Saya merasa Allah dekat, dan semuanya jadi terasa ringan.”

Inilah transformasi spiritual. Kesulitan belum tentu hilang, tapi hati yang bersih akan mampu melihat hikmah dan mendapatkan kemudahan dalam menghadapinya.

5. Penutup: Memurnikan Hati, Melapangkan Hidup

Kesulitan dalam hidup tidak selalu berasal dari luar diri. Sering kali, ia merupakan buah dari prasangka buruk yang berakar dalam hati. Maka langkah awal dalam mengubah hidup bukanlah semata-mata mengubah keadaan, tetapi memurnikan hati, menyucikan prasangka, dan membangun keyakinan bahwa:

> وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ خَيْرٌۭ لَّكُمْ ۖ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu.”
(QS. Al-Baqarah: 216)

Dengan husnuzhan billāh, hati menjadi lapang, pikiran menjadi jernih, dan jalan hidup menjadi lebih mudah. Maka marilah kita memulai dengan memperbaiki apa yang ada di dalam, agar dunia luar pun turut membaik.


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca