Kasih Semesta: Menelusuri Rahmat Allah dalam Tasawuf

Disarikan dari perbincangan bersama Dr. I Wayan Mustika dalam Ngaji Roso


Dalam dimensi tasawuf, manusia bukan sekadar makhluk jasadi, tapi ruhani yang senantiasa merindukan asal-usulnya: Allah Ta’ala, Sang Pencipta dan Pemilik Cinta Kasih. Percakapan mendalam antara Mas Hendra dan Dr. I Wayan Mustika dalam video ini menggambarkan perjalanan ruhani, kerinduan pada “ayah ibu semesta”, dan bagaimana semesta memeluk kita dalam kasih sayang Ilahi — semua ini sangat dekat dengan nilai-nilai thoriqot dan tasawuf.


🕊️ Kasih Semesta: Wujud Rahmat Allah di Alam Dunia

Pak Wayan menggambarkan alam semesta seperti ayah dan ibu, yang tidak pernah benar-benar meninggalkan anak-anaknya. Ini paralel dengan konsep Rahmah Allah (Kasih Allah) dalam tasawuf:

  • Ibu Semesta = Materi dan Fasilitas Hidup
    • Memberi makan, minum, tempat berpijak (bumi).
    • Seperti rahim ibu yang membesarkan.
  • Ayah Semesta = Langit dan Ruhaniyah
    • Memberi cahaya, udara, dan penjagaan (langit).
    • Seperti sirr (rahasia ilahi) yang mengawasi manusia.

Dalam ajaran thoriqot, ini identik dengan pemahaman bahwa Allah selalu dekat, lebih dekat dari urat leher (QS Qaf: 16).


🌌 Keikhlasan dalam Amal: Jejak Burung Bangau Terbang

Salah satu pelajaran tasawuf yang sangat dalam adalah tentang keikhlasan dalam amal, sebagaimana dijelaskan Pak Wayan:

  • “Tapak kuntul anglayang” (jejak burung bangau di angkasa):
    Amal yang dilakukan tanpa keinginan untuk terlihat, namun manfaatnya dirasa.

Ini sesuai dengan prinsip ikhlas dalam tasawuf:

“Beramallah tanpa mengharapkan balasan, selain Ridha-Nya.”


🫂 Dokumentasi Sedekah: Flexing atau Syiar Kebaikan?

Dalam konteks zaman digital, muncul pertanyaan:
“Bolehkah mendokumentasikan sedekah?”

Jawaban Pak Wayan sangat tasawufik:

  • Niat adalah kunci.
    • Bila dokumentasi dilakukan untuk transparansi dan menumbuhkan empati → diperbolehkan.
    • Bila niatnya riya (ingin dipuji) → terlarang.

Dalam tasawuf: Amal tergantung niat dan kebeningan hati pelakunya.


💔 Menghadapi Takdir: Menerima dan Meresapi Hikmah

Diskusi juga menyentuh soal suara batin dan isyarat ruhani yang terkadang datang sebelum musibah:

  • Meski isyarat telah datang, takdir tetap harus dijalani.
  • Dalam thoriqot, ini adalah bentuk latihan ridha dan sabar.

Pak Wayan menganalogikan:

“Obat itu pahit, tapi harus diminum.”

Seorang salik (pejalan spiritual) belajar menerima getirnya ujian hidup sebagai bagian dari tajalli (penampakan rahmat Allah dalam bentuk musibah).


🧘‍♀️ Rasa Rindu kepada Semesta: Jalan Pulang kepada Allah

Kerinduan terhadap “ayah dan ibu semesta” sebenarnya adalah simbol dari:

  • Kerinduan kepada Allah yang Maha Lembut (Latif) dan Maha Pengasih (Rahim).
  • Dalam tasawuf, ini dikenal sebagai syauq — rasa rindu ruh menuju Sang Khalik.

“Kerinduan itu adalah tanda bahwa ruh telah mengenali asal-usulnya.”


Kesimpulan

Video ini adalah perjalanan ruhani yang sangat mendalam — ajakan untuk:

  • Merasakan kasih Allah melalui ciptaan-Nya (alam).
  • Beramal tanpa pamrih.
  • Menerima takdir dengan penuh kesadaran.
  • Membuka hati untuk cinta semesta yang sejatinya adalah pancaran Rahmat-Nya.


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca