Disarikan dari diskusi Mas Hendra & Kumailah Hakimah dalam Ngaji Roso
🌿 Di Antara Kitab dan Realitas
Tasawuf mengajarkan kita untuk menembus simbol menuju esensi, meninggalkan fanatisme menuju makrifat. Dalam diskusi ini, Kumailah Hakimah menyoroti bagaimana masyarakat masih terjebak pada simbol agama, sementara esensi spiritual kerap terabaikan. Artikel ini menafsirkan obrolan kritis mereka dari sudut pandang tasawuf dan thoriqot.
⚖️ Hukum Tuhan atau Hukum Manusia?
- Masalah Aktual: Banyak masyarakat yang ingin menerapkan hukum agama secara literal, tanpa mempertimbangkan konteks zaman dan efektivitasnya.
- Kumailah menyampaikan: hukum harus dilihat dari tujuan dan dampaknya, bukan sekadar sumbernya.
Dalam tasawuf, kebaikan bukan sekadar hukum formal, tapi apa yang membawa kemaslahatan (
jalb al-mashalih) dan menolak kerusakan (dar’ al-mafasid).
🧠 Agama dan Rasionalitas: Antara Taklid dan Kesadaran
- Kritik terhadap taklid buta kepada tokoh agama hanya karena gelar, logat Arab, atau simbol-simbol fisik seperti jubah dan sorban.
- Reaksi publik terhadap Habib Rizieq dan narasi perhabiban menunjukkan kesadaran umat mulai tumbuh.
Tasawuf mendorong keluar dari taklid menuju tajrid — dari ketaatan membabi buta menuju pencerahan batin dan penilaian jernih.
👥 Zina, Korupsi, dan Konteks Sosial
- Zina & Hukuman Mati: Perlu ditinjau dari konteks sosial dan usia pelaku. Remaja yang bertindak karena dorongan hormon tak bisa disamakan dengan pelaku korupsi yang sadar merugikan publik.
- Korupsi dianggap lebih berbahaya karena merusak tatanan sosial dan ekonomi.
Dalam pandangan sufistik, kezaliman kepada manusia (haqq al-adami) jauh lebih berat ketimbang pelanggaran individual.
👒 Jilbab sebagai Simbol atau Esensi?
- Jilbab sering kali dipahami sebagai simbol kesucian, bukan kesadaran batin.
- Banyak yang memakai jilbab karena standar sosial, bukan kesadaran ruhani.
- Bahkan pelaku korupsi pun memakai jilbab saat ke pengadilan demi pencitraan moral.
Dalam tasawuf: Pakaian hati lebih penting dari pakaian luar. Kesucian ruh jauh lebih utama daripada simbol fisik.
💔 Pelecehan Seksual dan Kekeliruan Fokus
- Negara yang mewajibkan jilbab tetap tinggi kasus pelecehannya.
- Penyebab utama adalah budaya patriarkis dan tidak terdidiknya laki-laki untuk menghormati perempuan.
Tasawuf menekankan adab dan akhlak — bukan hanya hukum kaku.
Mengendalikan nafsu (mujahadah an-nafs) adalah kunci keselamatan ruhani.
📜 Kitab Suci vs Konteks Zaman
- Gagasan bahwa kitab suci tidak bisa direvisi, tapi tafsirnya harus kontekstual.
- Hukum wahyu harus diterjemahkan dengan hikmah, bukan dimutlakkan secara rigid.
“Al-Qur’an itu turun untuk manusia sepanjang zaman, maka tafsirnya harus hidup sesuai zamannya.”
(al-Hakim at-Tirmidzi)
🏁 Kesimpulan: Jalan Tengah Tasawuf
Diskusi ini menegaskan pentingnya:
- Menghidupkan akal dan hati dalam menilai hukum.
- Melepaskan fanatisme simbol dan menuju esensi spiritual.
- Melatih masyarakat untuk menghormati martabat manusia, bukan terjebak pada budaya feodal keagamaan.
Jalan sufi mengajarkan keseimbangan: antara syariat yang berkeadilan dan hakikat yang membebaskan.




Tinggalkan komentar