Ruh Tertidur dalam Kuburan Jasad dan Gua Sukma

KH. Abuya Muhammad Amin Yusuf

Dalam perjalanan suluk, manusia seringkali diperhadapkan pada kenyataan bahwa jiwanya gelisah, hatinya kosong, dan hakikat ruhnya seakan mati rasa. KH. Abuya Muhammad Amin Yusuf, melalui jalan thariqah yang terbuka terhadap hikmah ilmu-ilmu modern dan klasik, menyampaikan sebuah ungkapan mendalam:

“Ruh tertidur di dalam oleh kuburan jasad dan gua sukma.”

Ungkapan ini bukan sekadar perumpamaan puitis, tapi sebuah peta jalan spiritual (khariṭah sulūkiyyah) yang mengandung kedalaman tafsir ruhani, filosofis, hingga psikologis. Mari kita telaah maknanya secara mendalam.


1. Ruh: Amanah Ilahiyyah yang Terlupakan

Ruh adalah inti eksistensi manusia. Ia suci, berasal dari perintah Allah, dan hanya bisa dikenali melalui pendekatan yang bukan semata akal, tetapi dengan dzikir dan tazkiyatun nafs.

Allah ﷻ berfirman:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”
(QS. Al-Isra: 85)

Ruh ini tertidur karena terkurung dalam dua penjara besar: jasad dan sukma (jiwa).


2. Jasad: Kuburan bagi Ruh

Tubuh dalam thariqah bukan semata jasad, tetapi bisa menjadi penghalang spiritual. Ia disebut “kuburan” karena menutup potensi ruhani seseorang bila dikuasai nafsu syahwat dan cinta dunia.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ
“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau (menggoda), dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian khalifah di dalamnya, maka Dia akan melihat bagaimana kalian beramal.”
(HR. Muslim)

Tanpa mujahadah (latihan diri), tubuh ini akan menjadi kubur yang mengubur cahaya ruh, membuat manusia hidup dalam gelap, meskipun mata terbuka.


3. Sukma: Gua Jiwa yang Menyimpan Nafsu dan Luka

Sukma (jiwa atau nafs) disebut sebagai gua, karena seperti gua: ia dalam, gelap, dan sering kali menyimpan makhluk yang tidak kita sadari—yakni nafsu dan luka batin. Gua ini perlu diterangi cahaya ilmu dan dzikir.

Dalam Al-Qur’an, nafs memiliki beberapa tingkatan:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ﴿٢٧﴾ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai.”
(QS. Al-Fajr: 27–28)

Namun sebelum mencapai nafs muthmainnah, manusia harus melewati fase nafs ammarah, lawwamah, hingga mulhamah. Gua ini penuh dengan ilusi ego, obsesi dunia, dan luka masa lalu yang belum disembuhkan.


4. Jalan Penyadaran dalam Thariqah: Membangunkan Ruh

KH. Abuya Muhammad Amin Yusuf tidak sekadar mengajarkan dzikir sebagai lafadz lisan, tapi juga menyadarkan pentingnya mengaktifkan dzikir akal dan dzikir ruh, melalui pendekatan keilmuan lintas bidang.

  • Dzikir dan Riyadhah: Menjernihkan hati dan melemahkan dominasi jasad.
  • Tafakkur dan Ilmu: Menerangi gua sukma, menyinari jalan keluar dari kesesatan batin.

Ilmu yang Menyatu dalam Thariqah:

  • Filsafat: Mengajarkan berpikir tentang makna keberadaan.
  • Fisika: Ruh bisa dipahami melalui konsep energi tak kasat mata yang eksis meskipun tak terlihat.
  • Kimia: Ruh ibarat elemen murni yang hanya bisa aktif bila tercampur dengan ‘katalis’ yakni zikir dan ilmu.
  • Psikologi: Gua sukma adalah alam bawah sadar, tempat penyimpanan luka batin dan konflik ego.

5. Jalan Keluar: Tazkiyah dan Tajalli

Untuk membangunkan ruh dari tidur panjangnya, seorang salik harus:

  1. Membersihkan diri dari hawa nafsu
  2. Menghadirkan kesadaran terus-menerus akan Allah
  3. Mendekat kepada guru yang shaleh dan berilmu, bukan sekadar bergelar—sebab sebagaimana KH. Abuya Muhammad Amin Yusuf sampaikan, derajat seperti ‘mursyid’ bukan penunjukan manusia, tetapi anugerah langsung dari Allah ﷻ.

Ungkapan “ruh tertidur di dalam oleh kuburan jasad dan gua sukma” adalah pengingat bagi setiap jiwa agar tidak tertipu oleh dunia dan nafsu. Jalan thariqah bukanlah pelarian dari dunia, melainkan cara untuk mengubah dunia dari dalam—melalui penyadaran, pembersihan jiwa, dan pencahayaan ruh.

Dengan membangun pemahaman dari berbagai cabang ilmu dan didampingi oleh bimbingan orang shaleh yang berilmu, kita berharap ruh akan terbangun dari tidurnya dan kembali pada fitrah sucinya.


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca