
Dalam tradisi Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN), manakib Tuan Syekh Abdul Qodir al-Jaelani bukan hanya sekadar kegiatan ritual, melainkan merupakan majlis dzikir, ilmu, dan pembaruan ruhani. Salah satu amalan yang kerap menyertai kegiatan ini adalah penyembelihan kerbau. Tindakan ini memiliki makna yang sangat dalam dalam laku spiritual, bukan hanya sebagai budaya, tetapi sebagai bentuk taqarrub ilallah yang terstruktur dalam laku thariqah.
1. Penyembelihan Sebagai Simbol Tazkiyah dan Fana’
Dalam TQN, proses suluk (perjalanan ruhani) menuntut fana’nya diri dari kehendak nafsu dan ego. Kerbau secara simbolik melambangkan nafsu kebinatangan dalam diri manusia. Dengan menyembelih kerbau dalam rangka manakiban, seorang salik (pejalan ruhani) memanifestasikan tekad untuk “menyembelih” nafsunya sendiri—sebuah langkah menuju tazkiyatun nafs.
> “Tidak akan sampai seorang salik pada hakikat ma’rifat hingga ia mematikan nafsunya.”
(Syekh Abdul Qodir al-Jaelani)
2. Ta’alluq Ruhani kepada Wali Qutub
Syekh Abdul Qodir al-Jaelani dalam TQN dipandang sebagai Quthub al-Aqthab (poros para wali). Manakib adalah bentuk pembaruan bai’at ruhani kepada beliau. Penyembelihan kerbau dalam acara manakiban merupakan bentuk tabarruk (mengambil berkah) dan ta’alluq (keterikatan ruhani) kepada wali qutub sebagai wasilah mendekatkan diri kepada Allah.
Dalam maqam cinta, segala sesuatu yang dikaitkan dengan kekasih Allah menjadi jalan menuju Sang Kekasih Yang Maha Agung.
3. Amal untuk Meningkatkan Futuh dan Tajalli
Para mursyid TQN sering menyampaikan bahwa penyembelihan dalam manakiban bisa menjadi wasilah futuh (terbukanya rahasia ilahi) dan tajalli (penampakan cahaya hakikat) jika disertai dengan niat yang benar, ikhlas, dan dzikir yang kuat. Sebab, dalam majlis manakib, keberkahan berkumpul: ada dzikir, ada shalawat, ada mahabbah, dan ada infaq.
> “Barang siapa yang memberi makan dalam majlis dzikir, maka dia seolah memberi makan Rasulullah SAW dan para wali Allah.”
(Petuah ulama thariqah)
4. Menyatukan Hati Umat dalam Mahabbah
Dalam TQN, pentingnya jama’ah menjadi salah satu aspek utama. Penyembelihan kerbau dan makan bersama dalam manakiban adalah media membangun ukhuwah ruhaniyah, membersihkan hati dari penyakit sosial seperti iri, dengki, dan syak wasangka. Daging yang dibagi menjadi infak fi sabilillah, bentuk konkret dari rahmah dan kasih sayang terhadap sesama.
5. Penebusan dan Doa melalui Sembelihan
Sebagian mursyid TQN mengajarkan bahwa penyembelihan ini bisa diniatkan sebagai bentuk penebusan dosa-dosa pribadi, keluarga, atau umat, sebagaimana qurban atau nazar. Dagingnya diniatkan agar membawa keberkahan kepada yang menerima dan mengangkat bala’ dari kampung atau masyarakat yang mengadakan manakiban.
—
Dalam perspektif TQN, penyembelihan kerbau bukanlah tindakan simbolik semata, tetapi ritual ruhani yang bertingkat maqam. Ia menjadi bentuk:
Fana’ dari nafsu,
Tajalli ruhani dari keberkahan wali,
Mahabbah jama’i,
Sumber keberkahan dan futuh.
Kerbau yang disembelih menjadi saksi bahwa nafsu diserahkan di bawah pisau dzikir dan cinta.




Tinggalkan komentar