Banyak dari kita merasa sangat membutuhkan Allah ketika jatuh dalam maksiat. Kita menangis, kita memohon ampunan. Tapi sesungguhnya, menurut para arifin, dalam keadaan taat kita justru lebih membutuhkan Allah.

Dalam video disampaikan pelajaran mendalam yang berakar dari hikmah Kitab Al-Hikam: Amal ketaatan bukan tanda kekuatan diri, melainkan tanda kemurahan Allah.

Mari kita renungkan bersama, dengan hati yang jujur di hadapan-Nya.


Ketika Taat: Membutuhkan Allah Lebih dari Sebelumnya

Saat kita melakukan amal saleh — salat, zikir, sedekah — di situlah bahaya ujub dan takabur mengintai. Maka dalam ketaatan:

  • Kita butuh Allah untuk menjaga keikhlasan.
  • Kita butuh Allah untuk menyadarkan bahwa amal itu anugerah, bukan hasil upaya pribadi.

Ibnu ‘Athaillah dalam Al-Hikam berkata:

من أشرقت بدايته أشرقت نهايته

“Barang siapa yang bersinar awal perjalanannya, maka bersinar pula akhirnya.”

Awal perjalanan adalah kesadaran bahwa segala amal datang dari Allah. Tanpa kesadaran ini, amal berubah menjadi racun yang membinasakan.

Refleksi:

  • Di saat kita taat, adakah rasa tunduk dan syukur, ataukah rasa bangga tersembunyi?

Mengapa Dalam Taat Kita Lebih Butuh Kasih Allah?

Karena dalam taat:

  • Kita butuh nur untuk melihat amal itu adalah “sedekah Allah” kepada kita.
  • Kita butuh hilm (kesabaran Allah) agar tidak tergelincir ke dalam ujub.

Allah berfirman:

وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللهِ

“Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan pertolongan Allah.” (QS. Hud: 88)

Refleksi:

  • Setiap amal baik, sudahkah kita melihatnya sebagai pemberian, bukan prestasi?

Maksiat: Butuh Perlindungan dari Allah

Dalam keadaan maksiat:

  • Kita butuh Allah untuk menutupi aib.
  • Kita butuh Allah untuk menghapus kecenderungan berbuat dosa.

Namun ironinya, dalam maksiat kita sering lebih merasa lemah, lebih berdoa, lebih menangis. Sedangkan dalam taat, sering kali manusia lalai.

Dalam Al-Hikam dikatakan:

خَيْرُ ذَنْبِيْنَ يُورِثُ ذلّاً وانْكِساً خَيرٌ مِنْ طاعَةِيْورِثُ عُجْبًا وَ اسْتِكْبَاً

“Dosa yang mewariskan kehinaan dan ketundukan lebih baik daripada ketaatan yang mewariskan kebanggaan dan kesombongan.”

Refleksi:

  • Ketika jatuh dalam dosa, adakah hati ini bertambah rendah di hadapan Allah?

Tugas Ruhani: Menjaga Amanah Amal

Setiap amal adalah titipan.
Setiap sujud, setiap zikir, adalah hadiah.

Seperti orang yang diberi barang berharga:

  • Ia harus menjaga.
  • Ia harus merawat.
  • Ia harus mengembalikannya dengan selamat.

Begitu pula amal. Amal harus dikembalikan kepada Allah dalam keadaan bersih dari penyakit hati.

Refleksi:

  • Sudahkah kita menjaga amal kebaikan dengan rasa takut dan harap kepada Allah?

Kesimpulan: Amal Adalah Anugerah, Bukan Prestasi

Dalam setiap ketaatan, jangan pernah merasa berjasa.
Dalam setiap amal, jangan pernah merasa memiliki.
Karena amal kita hanyalah percikan kasih sayang-Nya.

Karena hamba yang benar, adalah hamba yang malu atas kebaikan yang ia kerjakan, sebagaimana ia malu atas dosa yang ia lakukan.

Wallahu a’lam bishawab.


Penutup

Semoga setiap taat yang kita lakukan menjadi jembatan untuk makin bersandar kepada Allah.
Semoga setiap amal menjadi sebab kerendahan hati, bukan keangkuhan diri.

اللهم اجْعَلْ أَعْمَالَنَا خَالِصَةً لِوَجْهِكَ الكَرِيم


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca