Dalam perjalanan menuju Allah,
sering kali kita tergoda untuk bersandar,
bukan pada-Nya,
tetapi pada diri kita sendiri.
Kita merasa:
“Aku sudah banyak beramal.”
“Aku sudah banyak berdoa.”
“Aku sudah banyak berjuang.”
Lalu tanpa sadar,
hati mulai bersandar pada amal.
Bukan lagi pada rahmat-Nya.
Padahal, amal kita…
bagaimanapun banyaknya,
bagaimanapun indahnya,
tak akan pernah cukup untuk membeli surga.
Tak akan pernah cukup untuk menebus cinta-Nya.
Amal adalah hadiah.
Amal adalah bentuk kasih sayang Allah yang menggerakkan kita untuk berbuat.
Amal adalah titipan,
bukan alasan untuk menuntut.
Bersandar kepada Allah, bukan kepada amal,
adalah tanda jiwa yang mengerti hakikat perjalanan ini.
Karena amal bisa diterima,
bisa juga ditolak.
Karena amal bisa cacat niatnya,
bisa rapuh ketulusannya.
Tetapi rahmat Allah…
tak pernah rapuh.
Tak pernah cacat.
Tak pernah habis.
Nabi Muhammad ﷺ — manusia terbaik, amalnya paling sempurna —
pun tidak bersandar pada amalnya.
Beliau bersabda:
“Tidak seorang pun dari kalian yang akan masuk surga karena amalnya.”
Para sahabat bertanya,
“Bahkan Anda juga wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab,
“Bahkan aku juga, kecuali bila Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Refleksi:
Amal adalah bekal.
Bukan jaminan.
Amal adalah tanda cinta.
Bukan harga tebusan.
Maka jangan pernah merasa aman hanya karena amal.
Dan jangan pernah putus asa karena kekurangan amal.
Karena pintu keselamatan itu berdiri atas kasih sayang,
bukan atas hitungan amal.
Ketika hatimu bersandar kepada Allah,
bukan kepada amalmu,
kau akan merasa lebih ringan.
Karena kau tahu:
“Aku beramal bukan karena ingin membayar surga,
tetapi karena aku mencintai-Nya.”
“Aku beramal bukan untuk menumpuk kebanggaan,
tetapi untuk mempersembahkan cinta.”
“Aku beramal bukan untuk merasa lebih baik dari orang lain,
tetapi untuk menunjukkan betapa aku butuh kepada-Nya.”
Bersandar kepada amal, membuatmu mudah sombong.
Bersandar kepada Allah, membuatmu tunduk dan tenang.
Bersandar kepada amal, membuatmu kecewa saat gagal.
Bersandar kepada Allah, membuatmu lapang menerima apa pun hasilnya.
Bersandar kepada amal, membuatmu bergantung pada usahamu.
Bersandar kepada Allah, membuatmu bergantung pada kasih-Nya yang tanpa batas.
Jangan lihat amalmu.
Lihatlah siapa yang memberimu kekuatan untuk beramal.
Jangan bangga dengan ibadahmu.
Banggalah bahwa Allah masih menggerakkan hatimu untuk taat.
Karena pada akhirnya,
bukan amalmu yang mengangkatmu,
tetapi rahmat-Nya yang memelukmu.
Maka, teruslah beramal.
Tapi sandarkan hatimu hanya kepada Allah.
Amalmu adalah persembahan cintamu.
Bukan alat untuk mengikat-Nya.
Bukan alasan untuk menuntut-Nya.
Tetapi bukti bahwa kau ingin kembali kepada-Nya.
Dan Allah…
lebih melihat hatimu yang bersandar,
daripada banyaknya amalan yang kau persembahkan.
Hanya dengan rahmat-Nya kita selamat.
Hanya dengan cinta-Nya kita sampai.
Hanya dengan keikhlasan kita diterima.




Tinggalkan komentar