Bersandar kepada Allah, Bukan kepada Amal

Menyelami Al-Hikam Pasal 1


مِنْ عَلَامَاتِ الْاعْتِمَادِ عَلى العَمَلِ نَقْصُ الرَّجَاءِ عِندَ وُجُودِ الزَّلَلِ

“Di antara tanda orang yang bersandar pada amal adalah berkurangnya rasa harap ketika ia melakukan kesalahan.”


Amal bukanlah sandaran, amal adalah persembahan.
Rahmat Allah adalah sandaran sejati bagi hamba yang berjalan menuju-Nya.

Dalam kajian tentang Al-Hikam pasal pertama, kita diajak memahami: bahwa tanda orang yang bergantung pada amal adalah berkurangnya harapan saat melakukan kesalahan.

Mari kita telusuri dengan hati yang tunduk dan penuh kehati-hatian.


Makna Ar-Raja’ dan Wuujudi Zalal

  • Ar-raja’ adalah harapan kepada rahmat Allah.
  • Wuujudi zalal berarti “adanya kesalahan atau kekeliruan”, atau secara lebih luas, keberadaan dunia fana yang penuh kehancuran.

Hikmah ini tidak berbicara tentang harapan setelah dosa, melainkan tentang keteguhan harap dalam perjalanan menuju Allah meski terikat dalam dunia yang fana.

Seorang mukmin yang kuat tauhidnya:

  • Tidak bergantung pada amal.
  • Tidak berputus asa walau tergelincir.
  • Tetap berharap penuh kepada rahmat Allah.

Refleksi:

  • Apakah harapan kita lebih bergantung pada amal kita atau pada rahmat Allah yang tanpa batas?

Bersandar pada Amal: Bahaya yang Tersembunyi

Saat seseorang:

  • Merasa amalnya cukup.
  • Bergantung pada usahanya sendiri.

Maka:

  • Ketika amal rusak, harapannya pun runtuh.
  • Ia merasa terputus dari rahmat Allah.

Ini adalah syirik halus:

  • Menyandarkan diri kepada amal, bukan kepada Allah.

Rasulullah SAW bersabda:

“Tidaklah seseorang masuk surga karena amalnya.” Ditanyakan, “Sekalipun engkau wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Sekalipun saya, hanya saja Allah telah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Refleksi:

  • Dalam setiap amal, adakah kita lebih merasa layak di hadapan Allah atau lebih merendah dan berharap hanya pada kasih sayang-Nya?

Hakikat Syariat: Usaha Tanpa Ketergantungan

Syariat memerintahkan:

  • Berusaha.
  • Beramal.

Namun hakikatnya mengajarkan:

  • Jangan menggantungkan keselamatan pada amal.
  • Gantungkan segala sesuatu hanya kepada karunia dan rahmat Allah.

لَا إِلَهَ إِلَّا الله

“Tiada Tuhan selain Allah.”

Artinya:

  • Tiada tempat bersandar selain Allah.
  • Tiada kekuatan selain dari Allah.

Refleksi:

  • Sejauh mana hati kita merasa cukup hanya dengan pertolongan Allah, bukan dengan kekuatan sendiri?

Kesalahan: Jalan untuk Kembali kepada Allah

Saat berbuat salah:

  • Bukan waktu untuk berputus asa.
  • Tapi waktu untuk kembali lebih dalam kepada Allah.

Allah berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِيْنَ أَسْرَفُوا عَلى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللهِ

“Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53)

Refleksi:

  • Setelah setiap jatuh, apakah kita kembali berdiri dengan membawa harapan yang lebih dalam kepada Allah?

Kesimpulan: Amal adalah Persembahan, Bukan Sandaran

Hidup ini:

  • Bukan tentang membanggakan amal.
  • Tapi tentang membangun harapan tanpa batas kepada Allah.

Beramallah:

  • Dengan ikhlas.
  • Dengan sadar bahwa kekuatan amal itu pun berasal dari Allah.

Bergantunglah:

  • Hanya pada rahmat dan karunia-Nya.

Karena keselamatan kita, dari awal hingga akhir, hanyalah dengan rahmat Allah, bukan amal kita.

Wallahu a’lam bishawab.


Penutup

Semoga Allah membersihkan hati kita dari ketergantungan kepada amal,
meneguhkan harapan kita hanya kepada-Nya,
dan menerima kita dalam pelukan rahmat-Nya yang tidak bertepi.

اللهم اغفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقَبِّلْ تَوْبَتَنا وَاسْتَرْ عَيْبَنا وَلا تَرْدِنَا خَائِبِين.


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca