Ada banyak anugerah yang Allah limpahkan dalam hidup ini. Sebagian tampak jelas di mata. Namun, sebagian lagi tersembunyi rapi, hanya bisa dirasakan oleh hati yang bersyukur. Salah satu anugerah terbesar itu adalah sitr: tabir kelembutan Allah yang menutupi aib dan mengangkat kita dari kejatuhan.
Dalam kajian video ini kita diajak menyelami makna hikmah dari Kitab Al-Hikam tentang bagaimana Allah menjaga kehormatan hamba-Nya, bahkan di saat hamba itu sendiri sering lupa menjaga dirinya.
Mari kita renungkan, perlahan, dengan hati yang tunduk.
Dua Macam Tutupan Allah: Benteng Tak Terlihat
Allah menutup aib kita dengan dua cara:
- Menutupi maksiat yang telah terjadi
- Banyak dosa kita yang tidak diketahui manusia lain.
- Allah menjaga rahasia kita, bukan karena kita layak, tetapi karena cinta-Nya.
- Menghalangi terjadinya maksiat sebelum sempat terjadi
- Berapa banyak niat buruk yang gagal terlaksana?
- Itu bukan semata kekuatan kita, tetapi Allah yang membatalkannya.
Ibnu ‘Athaillah berkata dalam Al-Hikam:
العمل صورة قائمة وروحه وجود الإخلاص فيه
“Amal adalah bentuk lahiriah; ruhnya adalah keikhlasan di dalamnya.”
Refleksi:
- Berapa banyak dosa kita yang tersembunyi hanya karena rahmat-Nya?
Permintaan Orang Awam dan Orang Khusus: Jalan Menuju Kedewasaan Ruhani
Dalam permintaan kepada Allah, ada tingkatan ruhani:
- Orang Awam:
- Memohon agar aibnya ditutupi.
- Takut jatuh martabat di mata manusia.
- Orang Khusus:
- Memohon agar selera maksiat dihilangkan.
- Takut jatuh martabat di hadapan Allah.
- Orang Khususul Khusus:
- Tidak lagi sibuk dengan aib atau martabat.
- Hanya takut kehilangan kedekatan dengan Allah dan Rasulullah.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا تُوْبُوا إِلَى اللهِ تَوْبَةً نَصوُحًا
“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya.” (QS. At-Tahrim: 8)
Refleksi:
- Dalam setiap doa, apa yang lebih kita takutkan: jatuh di hadapan manusia, atau jatuh di hadapan Allah?
Semua Gerak, Semua Pikir: Dari Allah, Oleh Allah
Video ini mengingatkan: bahkan gerakan badan, lintasan pikiran, semuanya digerakkan oleh Allah.
Dalam Al-Hikam tertulis:
لا تُحَرِّكْ ذَاتَكَ بِالتَدْبِيرِ وَلَا يَحْمِلكَ حُرْصُكَ عَلَى اختِيَارِ
“Jangan engkau gerakkan dirimu dengan perencanaan sendiri, dan jangan pula keinginanmu yang membawa kepada pilihan.”
Refleksi:
- Seberapa sering kita merasa ‘menguasai’ hidup ini, padahal semua hanya dalam genggaman-Nya?
Nur Rasulullah: Penuntun di Gelapnya Jalan
Ketika semua terasa berat, ketika ruh kehilangan arah, maka yang menjadi penyelamat adalah nur Rasulullah yang diwariskan kepada umatnya.
- Nur itu menguatkan hati.
- Nur itu menerangi batin.
- Nur itu menuntun langkah pulang ke Allah.
Tanpa nur itu, langkah kaki kita akan goyah.
Refleksi:
- Sudahkah kita meminta cahaya Rasulullah untuk menuntun hati kita?
Kesimpulan: Berjalan dalam Cahaya Sitr Allah
Mari syukuri tabir yang Allah bentangkan untuk menutup aib kita.
Mari usahakan hati ini bersih dari selera maksiat.
Mari rindukan hanya satu hal: kedekatan abadi dengan Allah dan Rasul-Nya.
Karena sitr bukan sekadar penutup dosa, tapi undangan untuk bertobat, membersihkan diri, dan menyongsong cahaya.
Karena ruh yang dibasuh sitr Allah, adalah ruh yang dipersiapkan untuk bertemu dengan-Nya.
Wallahu a’lam bishawab.
Penutup
Semoga Allah terus menutup aib kita,
menahan kita dari maksiat,
membersihkan batin kita,
dan mempertemukan kita dengan Rasulullah dalam keadaan bersih dan bercahaya.
اللهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِنَا وَآمِنْ رَوْعَاتِنَا واغْسِلْ خَطَايَانَا بِمَاءِ الثَّلْجِ وَالبَرَد



Tinggalkan komentar