
Ada satu momen dalam perjalanan hidup manusia,
yang terasa berat, kelam, dan seolah tanpa harapan.
Momen ketika semua usaha sudah dikerahkan.
Semua jalan sudah ditempuh.
Semua pintu sudah diketuk.
Semua kekuatan sudah diperas sampai tetes terakhir.
Dan hasilnya…
tetap tak ada perubahan.
Tetap buntu.
Tetap gelap.
Kau terjatuh berulang kali.
Kau bangkit, hanya untuk jatuh lagi.
Kau berdoa, berusaha, bersabar…
dan tetap, dunia seakan membisu.
Saat itu, mungkin kau merasa Allah jauh.
Kau bertanya dalam sunyi:
“Dimana Engkau, ya Allah?”
“Mengapa Kau diam saja saat aku berjuang mati-matian?”
Tetapi ketahuilah,
justru saat itu,
ketika semua kekuatan lahiriahmu sudah habis,
ketika semua ego sudah luruh,
ketika semua sandaran dunia telah hancur,
di situlah jalan pertolongan Allah terbuka.
Karena selama kita masih mengandalkan kekuatan diri,
kita belum sepenuhnya mengandalkan Allah.
Selama kita masih merasa “Aku bisa,”
kita belum sepenuhnya berserah.
Allah, dalam kelembutan-Nya,
menunggu kita sampai kita sungguh-sungguh kehabisan daya,
agar kita datang kepada-Nya dengan hati yang kosong,
dengan jiwa yang pasrah,
dengan keikhlasan yang sebenar-benarnya.
Di saat itulah pertolongan Allah turun.
Menyentuh hidup kita.
Membuka jalan yang tak pernah kita duga.
Menghadirkan keajaiban di tengah kebuntuan.
Allah berfirman:
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar,
dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
(QS. At-Talaq: 2-3)
Maka, jangan takut saat usahamu mentok.
Jangan putus asa saat semua jalan dunia tertutup.
Karena batas akhir kekuatanmu,
adalah titik awal kekuatan Allah.
Karena ketika kau menyerah dari usahamu,
bukan berarti kau kalah,
tetapi berarti kau sedang diajari untuk bersandar penuh kepada-Nya.
Terkadang Allah membiarkan semua usaha kita gagal,
agar kita sadar bahwa yang mengatur hasil bukan usaha kita,
tetapi kehendak-Nya.
Terkadang Allah membiarkan kita terluka,
agar kita bersujud lebih dalam.
Terkadang Allah membiarkan kita menangis,
agar air mata itu mencuci bersih keangkuhan kita.
Dan setelah semua itu,
barulah pertolongan-Nya datang,
membasuh jiwa kita dengan kasih yang tak terlukiskan.
Refleksi:
Saat semua sudah kau lakukan,
dan tidak ada hasil yang terlihat,
jangan buru-buru merasa gagal.
Itu bisa jadi tanda:
Allah ingin kau berhenti melihat usahamu,
dan mulai melihat pertolongan-Nya.
Karena hasil terbaik dalam hidup ini,
bukan yang lahir dari kekuatan kita,
tetapi yang lahir dari kelembutan Allah.
Tersenyumlah di tengah kebuntuan.
Berdoalah dalam kepasrahan.
Bangkitlah dengan keikhlasan.
Karena saat seluruh usaha lahir sudah mentok,
di situlah keajaiban-Nya turun tanpa batas.
Karena saat manusia menyerah,
Allah berfirman di langit:
“Saatnya Aku turun tangan.”




Tinggalkan komentar