
Ada saat dalam hidup ini
ketika semua jalan terasa buntu.
Semua pintu tertutup.
Semua harapan runtuh.
Semua kekuatan habis.
Kau berusaha.
Kau mengetuk semua pintu.
Kau berlari mengejar semua kemungkinan.
Tapi tidak satu pun terbuka.
Tidak satu pun bersinar.
Tidak satu pun mengulurkan tangan.
Di saat seperti itu…
hati bertanya dalam bisu:
“Tuhan, kemana aku harus berpaling?”
Itulah saat di mana kau sedang dibimbing.
Dibimbing untuk berhenti bersandar pada dunia.
Dibimbing untuk berhenti menggantungkan diri pada makhluk.
Dibimbing untuk melihat,
bahwa satu-satunya sandaran sejati…
adalah Allah.
Saat semua pintu dunia tertutup,
Allah membuka pintu yang tak bisa dilihat mata biasa:
Pintu langit.
Pintu rahmat.
Pintu keajaiban.
Berharap kepada Allah saat dunia menolakmu,
itulah harapan sejati.
Berdoa saat semua kekuatan dunia menyerah,
itulah doa yang lahir dari kedalaman jiwa.
Berserah saat dunia memunggungimu,
itulah penyerahan yang membuka gerbang-gerbang langit.
Karena ketika dunia berkata,
“Tidak ada jalan,”
Allah berbisik lembut di hatimu:
“Aku cukup untukmu.”
Keajaiban itu turun,
bukan di puncak kekuatanmu,
tetapi di dasar ketidakberdayaanmu.
Keajaiban itu tidak hadir saat tanganmu penuh dengan rencana dunia,
tapi ketika tanganmu kosong,
dan kau mengangkatnya dengan air mata kepada Allah.
Keajaiban itu bukan terjadi karena usahamu yang hebat,
tetapi karena hatimu yang lurus berserah.
Allah mencintai hamba-Nya yang patah,
yang hatinya remuk,
yang tak lagi bergantung pada selain-Nya.
Karena di saat seperti itu,
hati menjadi murni.
Hati menjadi kosong dari dunia.
Hati menjadi hanya untuk Allah.
Dan Allah tidak akan pernah menolak hati yang datang kepada-Nya dengan sungguh-sungguh.
“Aku bersama hamba-Ku, ketika ia mengingat-Ku dan berharap kepada-Ku.”
Maka, saat dunia mengecewakanmu,
jangan bersedih terlalu lama.
Saat semua pintu menutup wajahmu,
jangan merasa ditinggalkan.
Karena sesungguhnya,
penutupan pintu dunia adalah tanda pembukaan pintu langit.
Karena sesungguhnya,
ketika dunia melepasmu,
Allah sedang memelukmu.
Berharaplah hanya kepada-Nya.
Saat tak ada yang tersisa.
Saat semua hilang.
Saat semua diam.
Disitulah,
keajaiban turun.
Bukan karena dunia mengabulkanmu,
tetapi karena Allah mendengarmu.
Jangan takut saat semua pintu tertutup.
Takutlah kalau hatimu tidak lagi berharap hanya kepada Allah.
Karena bagi hati yang menggantungkan seluruh hidupnya kepada Allah,
tak pernah ada pintu yang benar-benar tertutup.
Yang ada hanya jalan-jalan rahasia,
yang Allah buka dengan kunci tak terlihat:
kunci keikhlasan,
kunci doa,
kunci tawakal.
Tersenyumlah dalam air matamu.
Bersyukurlah dalam kehancuranmu.
Bersujudlah dalam ketidakberdayaanmu.
Karena itulah saat di mana keajaiban sedang bersiap turun.
Karena itulah saat di mana hatimu paling dekat dengan Sang Maha Penyayang.
Karena itulah saat di mana Allah berkata:
“Mintalah, dan Aku akan berikan.
Berserahlah, dan Aku akan cukupkan.
Berharaplah, dan Aku akan turunkan keajaiban-Ku.”




Tinggalkan komentar