Di dunia ini, tak ada satu helai daun pun yang gugur,
kecuali dengan izin-Nya.
Tak ada satu detak jantung pun yang berdetak,
kecuali dengan cinta-Nya.
Dan di balik setiap kejadian yang mengelilingi hidup kita —
baik rezeki yang melimpah,
maupun kesulitan yang menggulung,
baik pujian yang membahagiakan,
maupun penolakan yang menyakitkan —
ada satu suara halus yang tak pernah berhenti berbisik:
“Aku ini Maha Baik.”
“Aku ini Maha Penyayang.”
“Aku ini Tuhanmu.”
Kita sering lupa.
Kita hanya mengira Allah mencintai kita saat rezeki datang.
Saat pintu-pintu terbuka.
Saat dunia tersenyum kepada kita.
Tapi ketika badai datang,
ketika jalan buntu,
ketika dunia menolak dan menghantam,
kita bertanya dengan penuh curiga:
“Apakah Allah masih mencintaiku?”
Seolah-olah kasih sayang Allah hanya berbentuk kemudahan.
Seolah-olah cinta Tuhan harus selalu terasa manis.
Padahal, cinta sejati tidak selalu memanjakan.
Kadang, cinta sejati justru membentuk.
Menyakitkan untuk sejenak,
hanya agar menyelamatkan untuk selamanya.
Ketika rezeki mengalir deras,
Allah berkata:
“Nikmatilah, Aku memberimu karena Aku mencintaimu.”
Ketika rezeki tertahan,
Allah berkata:
“Aku mengujimu, karena Aku ingin hatimu lebih bergantung kepada-Ku.”
Ketika manusia memujimu,
Allah berkata:
“Aku memperindahmu di mata mereka, agar kau mensyukuri-Ku.”
Ketika manusia menghina dan menolakkanmu,
Allah berkata:
“Aku ingin kau kembali hanya kepada-Ku, bukan bergantung pada penilaian makhluk.”
Setiap kejadian adalah surat cinta tersembunyi.
Setiap peristiwa adalah getaran dari tangan-Nya yang lembut.
Setiap senyuman, setiap air mata, setiap harapan, setiap kehilangan —
semuanya mengucapkan satu pesan yang sama:
Allah mencintaimu.
Bukan dengan cinta yang dunia pahami.
Tapi dengan cinta yang membersihkan.
Cinta yang menyelamatkan.
Cinta yang membawa pulang ruhmu menuju-Nya.
Refleksi:
Saat rezeki datang —
apakah kau melihat tangan kasih Allah yang memberikannya?
Saat ujian menimpa —
apakah kau melihat tangan kasih Allah yang sedang membentuk jiwamu?
Saat dunia memelukmu —
apakah kau tetap sadar bahwa itu dari-Nya?
Saat dunia menolakmu —
apakah kau percaya bahwa itu pun untuk menjagamu dari jalan yang salah?
Cinta Allah itu tak tergantung situasi.
Tak bertambah karena kau bahagia.
Tak berkurang karena kau sedang terluka.
Allah mencintaimu sama kuatnya —
di tengah pesta keberhasilan,
ataupun di dasar jurang kehancuran.
Ketika kau belajar melihat segala sesuatu dengan kacamata cinta-Nya,
hidupmu berubah.
Bukan dunia yang menjadi lebih ringan,
tetapi hatimu yang menjadi lebih dalam.
Rezeki tak lagi membuatmu sombong.
Ujian tak lagi membuatmu putus asa.
Pujian tak lagi membuatmu mabuk.
Penolakan tak lagi membuatmu hancur.
Semua hanyalah gelombang di lautan cinta.
Semua hanyalah bagian dari tarian indah menuju keabadian.
Ingatlah:
Allah tidak pernah berhenti mencintaimu.
Bahkan ketika kau merasa paling ditinggalkan,
bahkan ketika kau merasa dunia ini membungkammu,
bahkan ketika kau merasa hancur sehancur-hancurnya,
kasih-Nya tetap mengalir,
seperti sungai rahmat yang tak pernah kering.
Allah berkata dalam setiap kejadian:
“Aku di sini.”
“Aku lebih dekat dari urat lehermu.”
“Aku mencintaimu lebih dari dunia mencintaimu.”
Maka, bukalah hatimu.
Bacalah surat-surat cinta Allah dalam kejadian-kejadian hidupmu.
Dan percayalah:
Dalam segala hal — rezeki atau ujian —
Allah selalu berkata:
‘Aku ini Maha Baik.
Aku ini Maha Penyayang.
Aku ini Tuhanmu.’




Tinggalkan komentar