Menggali Makna Kehidupan di Tengah Dunia yang Sementara

umah Singgah

Pernahkah kaMu duduk sendirian, di antara sunyi yang membungkus bumi?
Memandang langit yang biru kelam,
merasakan desir angin yang mengusap wajahmu,
dan tiba-tiba, kamu bertanya dalam hati:
“Apa sebenarnya arti semua ini?”

Orang-orang sibuk berlomba.
Membangun istana megah.
Mengumpulkan harta tanpa batas.
Mengejar nama yang disanjung.
Memupuk cinta yang fana.

Tapi diam-diam…
hati kecilmu berbisik:
“Akhirnya, semua ini akan berakhir, bukan?”

Dunia.
Yang tampak begitu nyata.
Begitu padat.
Begitu menggoda.

Namun sesungguhnya…
dunia ini hanyalah bayangan.
Bayangan dari sebuah hakikat yang jauh lebih dalam,
lebih abadi,
lebih sejati.

Seperti fatamorgana di padang pasir,
dunia menggoda mata yang haus,
menawarkan oase yang sebenarnya hanya ilusi.

Kita berlari.
Kita mengejar.
Kita berpeluh.
Hanya untuk mendapati diri kita tetap kosong.
Tetap haus.
Tetap mencari.

Dunia ini… bukan rumahmu.

Ia hanya halte.
Ia hanya singgahan.
Ia hanya persinggahan bagi ruh yang tengah berjalan pulang.


Bayangkan seorang musafir,
yang kelelahan di tengah perjalanan panjangnya.
Ia menemukan sebuah pondok kecil di tengah gurun.
Untuk sekadar berteduh.
Untuk sekadar minum seteguk air.

Tapi, apakah ia akan membangun rumah di sana?
Apakah ia akan menghabiskan seluruh hidupnya untuk mempercantik pondok sementara itu?

Tidak.
Ia sadar, tempat itu hanya perhentian sejenak.
Bukan tujuan.

Begitu juga dunia ini.

Namun mengapa kita lupa?
Mengapa kita menjadikan pondok sementara ini sebagai istana impian?
Mengapa kita menanam hati kita pada tanah yang pasti akan runtuh?

Karena dunia mempesona.
Karena dunia menawarkan rasa aman palsu.
Karena dunia membungkus dirinya dengan warna-warni yang menghipnotis.

Tapi apapun yang kita kumpulkan,
sekuat apapun kita mempertahankannya,
akhirnya akan terlepas juga dari genggaman.

Semua yang kita cintai,
semua yang kita banggakan,
semua yang kita perjuangkan,
akan kita tinggalkan,
atau meninggalkan kita.


Lihatlah orang-orang sebelum kita.
Dimanakah mereka sekarang?
Dimanakah harta mereka, mahkota mereka, ketenaran mereka?

Semuanya terkubur bersama waktu.
Semuanya lenyap ditelan sejarah.
Dan hanya ruh mereka yang melanjutkan perjalanan.

Karena pada akhirnya, hanya satu yang abadi:
Allah.
Hanya Dia.
Segala sesuatu selain-Nya… fana.


Dunia ini seperti bayangan yang muncul ketika ada cahaya.
Bayangan itu indah.
Bayangan itu bergerak.
Bayangan itu membentuk rupa.

Tapi ia tidak pernah benar-benar ada.

Yang ada hanyalah sumber cahayanya.

Begitu pula kehidupan ini.

Ia ada hanya karena Allah mengizinkannya ada.
Ia bergetar hanya karena Allah meniupkan ruh-Nya.

Dan pada waktunya,
semua ini akan kembali kepada-Nya.
Semua bayangan ini akan lenyap.


Tapi bukan berarti kita harus membenci dunia.
Tidak.
Islam tidak mengajarkan kita untuk melarikan diri dari dunia.
Tetapi Islam mengajarkan:
Letakkan dunia di tanganmu, jangan di hatimu.

Gunakan dunia untuk perjalanan.
Gunakan dunia sebagai kendaraan.
Tapi jangan pernah menjadikannya tujuan.

Karena dunia ini diciptakan untuk mengantarkanmu…
menuju hakikat.
menuju keabadian.
menuju Allah.


Tanyakan pada dirimu:
“Untuk apa aku diciptakan?”

Apakah hanya untuk makan, minum, menikah, bekerja, lalu mati?
Apakah hanya untuk mengejar angka-angka dalam rekening bank?
Apakah hanya untuk mencari tepuk tangan yang hampa?

Tidak.
Jiwamu lebih mulia dari itu.
Ruhmu lebih luhur dari sekadar mengejar bayangan.

Kau diciptakan untuk mengenal Tuhanmu.
Kau diciptakan untuk mencintai-Nya.
Kau diciptakan untuk pulang kepada-Nya dengan membawa hati yang bersih.


Hiduplah di dunia,
tapi jangan jadi budak dunia.

Berusahalah,
tapi jangan jatuh cinta pada hasil.

Bangunlah mimpi,
tapi jangan letakkan hatimu pada mimpi itu.

Karena semua yang ada di dunia ini…
hanya sementara.
hanya fatamorgana.
hanya bayangan.


Bila kau memahami ini,
kau akan lebih ringan.
Kau akan lebih bebas.
Kau akan berjalan di dunia dengan senyum di hati,
karena kau tahu, dunia bukan tempat tinggalmu.
Dunia hanyalah jalanmu pulang.

Kau akan mencintai, tapi tidak terikat.
Kau akan memiliki, tapi tidak diperbudak.
Kau akan berjuang, tapi tetap lapang.

Karena kau tahu,
yang sejati bukan di sini.
Yang abadi bukan di dunia.


Bayangan ini,
pada akhirnya, akan menghilang.

Saat itu tiba,
satu-satunya yang akan menemanimu adalah amalmu.
Satu-satunya yang akan bersamamu adalah dzikirmu.
Satu-satunya yang akan menyelamatkanmu adalah cinta dan rindu kepada Allah.

Semua harta, semua jabatan, semua popularitas…
akan tinggal cerita.
Tinggal kenangan.
Tinggal nama di batu nisan.


Maka, sebelum dunia ini benar-benar hilang,
sebelum nafas terakhir meninggalkan tubuhmu,
bangunlah kesadaranmu.

Jangan hidup hanya untuk memburu bayangan.
Hiduplah untuk mencari cahaya.
Cahaya yang memancar dari Sang Sumber Kehidupan.

Allah.
Hanya Allah.


Pulanglah.

Tinggalkan keterikatanmu pada dunia.
Bawa hanya hatimu yang bersih,
amalmu yang tulus,
cintamu yang dalam kepada-Nya.

Karena pada akhirnya,
ketika dunia ini lenyap,
yang tersisa hanyalah Dia.

Yang Kekal.
Yang Maha Cinta.
Yang Maha Hidup.


Tersenyumlah…
Dunia ini hanyalah bayangan.
Dan kau, ruh yang abadi,
diciptakan untuk melintasi bayangan ini…
menuju rumah cahaya.


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca