Menghancurkan Patung Dunia di Dalam Hati
patung dunia dalam hati

Pernahkah kamu merasa,
seolah ada sesuatu yang mengikatmu,
menahan langkahmu,
membebani napasmu…
padahal kamu ingin bebas?

Itulah patung-patung dunia di dalam hati.

Tak selalu berbentuk berhala batu.
Tak selalu berupa ukiran kayu.
Kadang ia tersembunyi jauh lebih dalam, jauh lebih halus.
Ia hidup di dalam rasa takutmu yang berlebihan.
Ia bernafas dalam harapanmu yang salah tempat.
Ia berakar dalam kecintaanmu yang berlebihan terhadap dunia.


Setiap ketakutan berlebihan — terhadap rezeki, terhadap masa depan, terhadap pandangan manusia —
adalah patung kecil di dalam hatimu.

Setiap harapan berlebihan kepada makhluk — berharap pada manusia untuk kebahagiaan, untuk keselamatan, untuk harga diri —
adalah patung lain yang kau letakkan di ruang hatimu.

Setiap kecintaan berlebihan kepada dunia — cinta harta, cinta nama, cinta tahta —
adalah patung besar yang perlahan menyesakkan relung jiwamu.


Kita mengira kita bertauhid,
kita mengira kita hanya menyembah Allah,
tetapi diam-diam…
hati kita penuh dengan patung-patung itu.

Patung rasa aman palsu.
Patung ketergantungan palsu.
Patung ketakutan palsu.

Hati yang seharusnya menjadi baitullah, rumah Allah,
kita penuhi dengan berhala dunia.


Tauhid sejati bukan sekadar lisan yang berkata “La ilaha illallah.”
Tauhid sejati adalah hati yang bersih dari semua selain-Nya.
Tauhid sejati adalah menghancurkan semua patung itu, satu per satu, hingga yang tersisa hanya Dia.

Bukan berarti kita tidak boleh mencintai.
Bukan berarti kita tidak boleh berharap.
Bukan berarti kita tidak boleh takut.

Tetapi semua cinta, semua harap, semua takut,
harus bermuara hanya kepada Allah.
Bukan kepada makhluk.
Bukan kepada dunia.
Bukan kepada bayangan.


Ketika kau takut kehilangan dunia,
tanya dirimu:
“Apakah aku menyembah dunia?”

Ketika kau berharap berlebihan pada manusia,
tanya hatimu:
“Apakah aku telah menaruh hatiku di tangan makhluk, bukan di tangan Sang Khalik?”

Ketika cintamu kepada dunia membuatmu lupa pada kematian,
tanya ruhmu:
“Apakah aku telah menggadaikan keabadian untuk mimpi yang fana?”


Menghancurkan patung dunia di dalam hati
adalah jihad yang paling sunyi.
Tidak ada suara pedang.
Tidak ada sorak-sorai.
Hanya air mata.
Hanya doa-doa panjang dalam sujud malam.
Hanya pergulatan di antara keikhlasan dan kelekatan.

Tetapi siapa yang berani menghancurkan patung-patung itu,
akan menemukan hatinya kembali kosong.
Kosong bukan dalam arti hampa,
tetapi kosong dari selain Allah,
dan penuh dengan kehadiran-Nya.


Hati yang bersih dari patung dunia
adalah hati yang ringan.
Adalah hati yang tenang.
Adalah hati yang bebas mencintai tanpa takut kehilangan.
Adalah hati yang bergantung tanpa takut ditinggalkan.
Adalah hati yang hidup dalam tauhid murni:
Hanya Allah.
Tiada yang lain.


Setiap ketakutan,
setiap harapan,
setiap cinta duniawi,
harus dihancurkan…
agar kita bisa benar-benar berkata,
bukan hanya di lisan, tapi dalam denyut darah kita:
“La ilaha illallah.”

Tiada Tuhan selain Allah.
Tiada sandaran selain Allah.
Tiada tujuan selain Allah.
Tiada cinta selain Allah.


Menghancurkan patung dunia di dalam hati
adalah jalan pulang menuju cahaya yang sejati.
Adalah langkah pertama menuju kebebasan abadi.
Adalah gerbang pembuka bagi cinta Allah yang tiada bertepi.

Beranilah.
Pecahkan semua patung itu.
Biarkan hatimu menjadi baitullah yang murni.
Biarkan hatimu hanya dihuni oleh Satu Nama:
Allah.


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca