Menyibak Tirai Dunia: Ruh yang Rindu Pulang ke Cahaya

Dunia ini hanyalah bayangan.
Semua yang kita kejar, kita tangisi, kita banggakan —
hanyalah pantulan sementara dari rahmat Allah yang Maha Lembut.

Dalam video ini, kita diajak menapaki kembali hakikat: bahwa hidup ini bukan untuk dunia, tapi untuk perjalanan ruh pulang ke Allah.

Mari kita hayati bersama, dalam keheningan hati.


Dunia: Bayangan yang Tidak Sejati

Segala sesuatu di dunia ini:

  • Harta.
  • Jabatan.
  • Kehormatan.
  • Kecantikan.

Semuanya akan sirna.
Yang sejati hanyalah:

  • Ruh yang bercahaya.
  • Tauhid yang murni.
  • Cinta kepada Allah dan Rasulullah ✨.

Allah berfirman:

مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللهِ بَاقٍ

“Apa yang ada di sisi kalian akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah-lah yang kekal.” (QS. An-Nahl: 96)

Refleksi:

  • Dalam usaha dan keinginan kita, mana yang lebih dominan: dunia yang sementara atau akhirat yang kekal?

Amal Tanpa Kesadaran: Kosong di Dalam

Ibadah lahiriah:

  • Salat.
  • Puasa.
  • Zakat.

Tanpa kesadaran ruh:

  • Hanya memperkuat ego.
  • Menjadi ritual tanpa ruhani.

Ibnu ‘Athaillah berkata dalam Al-Hikam:

العَمَلُ الصَالِحُ هُوَ الَّذِي يَصُحَّ مَعَهُ القَصْد

“Amal yang benar adalah amal yang disertai tujuan (menuju Allah).”

Refleksi:

  • Ketika beribadah, adakah ruh kita ikut sujud bersama tubuh?

Nur dan Pertolongan: Sedekah dari Allah dan Rasulullah

Ketika kita:

  • Bisa salat.
  • Bisa zikir.
  • Bisa berbuat baik.

Itu semua:

  • Bukan murni usaha kita.
  • Tapi sedekah dari Allah dan Rasulullah ✨ kepada ruh kita.

Setiap amal:

  • Adalah hadiah.
  • Bukan hak.

Refleksi:

  • Dalam setiap amal hari ini, sudahkah kita merasa sebagai penerima anugerah, bukan pemilik amal?

Kesiapan Hati Menentukan Besarnya Cahaya

Allah selalu:

  • Mengalirkan Nur-Nya.
  • Menerangi jalan hamba-hamba-Nya.

Tetapi:

  • Besar kecilnya cahaya tergantung kesiapan hati kita.

Seperti tanah:

  • Yang subur cepat menumbuhkan benih.
  • Yang keras menolak air.

Refleksi:

  • Apakah hati kita hari ini siap menerima cahaya baru dari Allah?

Kesulitan: Pintu Rahmat yang Disembunyikan

Setiap:

  • Penolakan.
  • Kesulitan.
  • Kejadian pahit.

Adalah tanda:

  • Allah sedang memperkenalkan Diri-Nya.
  • Allah sedang membersihkan hati kita.

Bukan untuk menghancurkan, tapi untuk menguatkan.

Refleksi:

  • Dalam ujian yang menimpa, adakah kita mendengar bisikan cinta dari Allah?

Menghancurkan Patung Dunia di Dalam Hati

Setiap:

  • Ketakutan berlebihan.
  • Harapan kepada makhluk.
  • Kecintaan pada dunia.

adalah patung di dalam hati.

Tauhid sejati:

  • Menghancurkan semua patung itu.
  • Menyerahkan sepenuhnya hati hanya kepada Allah.

Refleksi:

  • Patung dunia apa yang masih tersimpan diam-diam dalam hati kita?

Puncak Tauhid: Pulang Bersama Ruh Rasulullah

Tauhid bukan sekadar:

  • Mengucap “La ilaha illallah”.

Tetapi:

  • Ruh kita benar-benar kembali melalui ruh Rasulullah ✨ kepada Allah.
  • Bersambung penuh cinta dan fana dalam kehadiran Ilahi.

Refleksi:

  • Sejauh apa ruh kita sudah bergetar mencintai Rasulullah dalam amal dan doa?

Kasih Sayang Allah dalam Segala Kejadian

Dalam:

  • Rezeki.
  • Penolakan.
  • Kebaikan.
  • Kesulitan.

Allah selalu berkata:

  • “Aku ini Maha Baik.”
  • “Aku ini Maha Penyayang.”
  • “Aku ini Tuhanmu.”

Refleksi:

  • Ketika rezeki atau ujian datang, adakah hati kita melihat tangan kasih Allah yang mengaturnya?

Kesimpulan: Pulang Bukan Sekadar Mati, Tapi Sampai ke Cahaya

Hidup ini:

  • Bukan tentang membangun dunia.
  • Tapi tentang menumbuhkan ruh.

Perjalanan ini:

  • Bukan tentang panjang usia.
  • Tapi tentang dalamnya kesadaran.

Karena pulang sejati adalah ruh yang tiba di hadapan Allah dalam keadaan bercahaya.

Wallahu a’lam bishawab.


Penutup

Semoga Allah membukakan pintu hati kita,
menyucikan ruh kita dengan cahaya-Nya,
dan memanggil kita pulang dalam keadaan penuh cinta dan fana dalam kehadiran-Nya.

اللهم ارْجِعْ رُوُحَنَا إِلَيْكَ نَوَرٍا مِنْ نُوْرِكَ وَرَحْمَةٍ مِنْ رَحْمَتِكَ.


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca