Mustahil Hanya Berlaku bagi Makhluk, Tidak bagi Allah

Ada hal-hal di dunia ini yang membuat kita berhenti.
Ada mimpi yang terasa terlalu jauh.
Ada doa yang terasa terlalu mustahil.

Logika kita membisikkan:
“Itu tidak mungkin.”
“Itu terlalu berat.”
“Itu di luar jangkauan.”

Kita membatasi diri,
kita mengecilkan harapan,
karena kita terbiasa hidup dalam keterbatasan makhluk.


Bagi manusia,
banyak hal terasa mustahil.
Banyak keinginan tampak seperti bayangan yang tidak mungkin digapai.
Banyak harapan perlahan redup,
terkubur di bawah beratnya realita.

Tetapi bagi Allah —
Yang menciptakan langit tanpa tiang,
Yang menghidupkan tanah gersang menjadi hijau,
Yang membelah laut untuk Musa,
Yang melindungi Maryam tanpa suami,
Yang mengangkat Muhammad ﷺ dari bumi ke Sidratul Muntaha —
Tidak ada yang mustahil.


Allah berfirman:

وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرًۭا

“Dan itu adalah perkara yang mudah bagi Allah.”
(QS. Al-Ahzab: 19)

Mudah.
Ringan.
Sebagaimana matahari terbit setiap pagi tanpa kita memintanya.
Sebagaimana angin berhembus tanpa kita mampu menahannya.

Semua mudah bagi-Nya.
Karena Dialah Yang Maha Kuasa.
Yang hanya berkata “Kun”“Jadilah”,
maka ia pun terjadi.


Refleksi:

Mengapa kita membatasi harapan kita sebesar logika kita?
Mengapa kita menyandarkan kemungkinan hanya pada ukuran manusia?

Allah tidak terikat oleh logika manusia.
Allah tidak terikat oleh sebab-akibat duniawi.
Allah menciptakan sebab, dan Dia pula yang meniadakannya jika Dia kehendaki.

Apa yang tampak mustahil di matamu,
mungkin sudah lama ditetapkan-Nya dalam takdirmu,
menunggu saat yang tepat untuk diwujudkan.


Jangan batasi doamu.
Jangan kecilkan harapanmu.
Jangan ukur rahmat Allah dengan logikamu.

Mintalah sebesar mimpimu.
Berharaplah seluas langit dan bumi.
Percayalah bahwa Allah tidak pernah kehabisan jalan.

Ketika logikamu berkata “tidak mungkin,”
hatimu harus menjawab:
“Tapi Tuhanku Maha Kuasa.”

Ketika dunia berkata “terlambat,”
hatimu harus membisikkan:
“Tapi Tuhanku mengatur waktu sesuka-Nya.”

Ketika akal berkata “habis,”
hati harus berkata:
“Rahmat Allah tidak pernah habis.”


Mustahil hanya berlaku bagi makhluk.
Tidak pernah berlaku bagi Allah.

Dia yang meniupkan ruh ke dalam segumpal darah,
Dia yang menghidupkan hati setelah mati,
Dia yang mengubah tangis menjadi tawa,
Dia yang mengubah derita menjadi nikmat.

Apakah ada sesuatu yang terlalu besar untuk Dia lakukan?
Tidak ada.


Maka, jangan menyerah.
Jangan kecilkan doamu.
Jangan redupkan harapanmu.

Mintalah, bahkan untuk hal yang menurutmu mustahil.
Berdoalah, bahkan untuk keajaiban yang menurut akalmu tidak masuk akal.

Karena bagi Allah,
semua itu kecil.
Semua itu mudah.
Semua itu dekat.


Saat kau menggantungkan harapanmu hanya kepada Allah,
kau bukan hanya berharap…
kau sedang beriman.

Dan iman,
adalah kunci untuk membuka pintu-pintu keajaiban
yang bahkan logika tidak bisa membayangkannya.


Percayalah,
mustahil itu hanya di dunia manusia,
bukan di hadapan Yang Maha Segala.


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca