Kita bukan tubuh ini. Kita bukan nama, jabatan, atau rupa.
Hakikat kita adalah ruh — titipan ilahi yang rindu pulang ke asalnya.
Dalam video ini kita diajak menelusuri jalan agung itu: perjalanan ruh dari dunia menuju Allah, dengan bekal tauhid, nur, dan cinta.
Mari kita susuri perlahan, dengan hati yang bersujud.
Tubuh: Pakaian Sementara, Ruh: Hakikat Abadi
Tubuh hanyalah:
- Pakaian pinjaman.
- Kontrakan yang akan kita tinggalkan.
Ruh:
- Berasal dari alam Lahut.
- Rindu kembali ke hadirat Allah.
Allah berfirman:
وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوْحِي
“Lalu Aku tiupkan ke dalamnya ruh-Ku.” (QS. Al-Hijr: 29)
Refleksi:
- Sudahkah kita memperlakukan ruh ini sebagai permata abadi, bukan sekadar bayangan dunia?
Ibadah: Jalan Menjaga Nur Tauhid
Salat, puasa, zakat, sedekah:
- Bukan untuk Allah, karena Allah Maha Kaya.
- Tapi untuk kita, agar ruh ini tetap bercahaya.
Tanpa ibadah:
- Ruh akan gelap.
- Nur Tauhid akan memudar.
Ibnu ‘Athaillah berkata dalam Al-Hikam:
الأَعْمَالُ قُشُورٌ وَالمَعْنَى قُلوب
“Amal adalah kulit, hakikatnya adalah isi hati.”
Refleksi:
- Saat beribadah, adakah hati kita benar-benar bergetar karena mengingat Allah?
Empat Alam: Perjalanan Ruh Menuju Asal
Ruh harus:
- Menembus dunia (mulki).
- Melintasi malakut (alam ruh dan malaikat).
- Menyentuh jabarut (kekuasaan mutlak Allah).
- Kembali ke lahut (cinta dan hadirat Allah).
Tanpa tauhid sejati, ruh akan:
- Tersesat dalam dunia.
- Terlena dalam bayangan.
Refleksi:
- Apakah hati kita sudah belajar melepaskan dunia sebagai tujuan?
Wali Mursyid: Induk Ruhani yang Menetaskan Kesadaran
Mursyid sejati:
- Adalah matahari ruhani.
- Membimbing ruh untuk lahir di alam kesadaran.
Tanpa mursyid:
- Ruh seperti benih tanpa tanah.
- Sulit berkembang dalam samudera tauhid.
Refleksi:
- Sudahkah kita menghormati para mursyid yang menjadi lentera ruhani kita?
Kesulitan: Rahmat Allah yang Membuka Cahaya
Setiap:
- Kesulitan.
- Ujian.
- Kegagalan.
bukan untuk menghancurkan, tapi untuk:
- Membersihkan hijab hati.
- Membuka pintu kelembutan Allah.
Golden time ruhani:
- Bukan ketika kita kuat.
- Tapi ketika kita merasa amat sangat butuh Allah.
Allah berfirman:
فَفِرُّوْا إِلَى اللهِ
“Maka larilah kamu kepada Allah.” (QS. Adz-Dzariyat: 50)
Refleksi:
- Dalam kesulitan hari ini, adakah kita lebih banyak berlari kepada Allah, atau malah lari dari-Nya?
Nur Rasulullah: Jembatan Menuju Allah
Nur sejati:
- Dari Allah.
- Mengalir lewat Rasulullah ✨.
- Diturunkan ke hati-hati yang bersih.
Cinta kepada Rasulullah:
- Adalah jembatan menuju samudera rahmat Allah.
- Menyambungkan ruh ke sumber cahaya abadi.
Refleksi:
- Dalam sujud dan sholawat kita, sudahkah kita benar-benar merasakan kehadiran Rasulullah di hati?
Takdir: Jalan Terbaik yang Allah Pilihkan
Segala yang terjadi:
- Adalah skenario kasih sayang Allah.
- Adalah pilihan terbaik bagi ruh kita.
Tidak ada musibah kecuali untuk:
- Meninggikan derajat.
- Membersihkan hijab.
- Mempercepat perjalanan pulang.
Refleksi:
- Apakah hari ini kita menyambut takdir dengan ridha, ataukah masih mengeluh di balik kelambu dunia?
Kesimpulan: Jalan Pulang Dimulai dengan Nur di Hati
Tubuh ini akan kembali ke tanah,
tetapi ruh harus kembali bercahaya ke hadirat Allah.
Perjalanan ini:
- Dimulai dengan kesadaran.
- Dijaga dengan ibadah dan cinta.
- Disempurnakan dengan fanā’ (lenyapnya diri) dalam Allah.
Karena pulang sejati bukan hanya berhenti bernafas, tapi ruh yang tiba di hadapan Allah dalam keadaan bercahaya.
Wallahu a’lam bishawab.
Penutup
Semoga Allah membersihkan hati kita, menuntun ruh kita menembus dunia, dan mempertemukan kita dengan Rasulullah dalam cahaya yang tak pernah padam.
اللهم امْلَأ قُلووِبَنَا بِنُوْرِ الْإِيْمَانِ وَمَحَبَّتِكَ وَمَحَبَّةِ رَسولِكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.




Tinggalkan komentar