Ada saat-saat dalam perjalanan ini ketika jiwa bertanya, “Ke mana kita sebenarnya melangkah?” Segala hiruk-pikuk dunia, pencapaian, keluarga, harta — semuanya akhirnya berujung pada satu muara: kepulangan kepada Allah.
Video Diatas membisikkan pesan mendalam tentang kesadaran ruhani: bahwa segala amal lahir dan batin sejatinya adalah perjalanan pulang, perjalanan hati menuju keridhaan Allah.
Mari kita renungkan bersama, dengan hati yang hening.
Kesadaran Ruhani: Bekal Perjalanan Pulang
Segala aktivitas lahiriah kita — bekerja, belajar, berkeluarga — tidaklah semata-mata untuk dunia. Bila jiwa paham, maka semua itu diarahkan untuk satu tujuan mulia: pulang kepada Allah, bersama Rasulullah ✨.
Allah berfirman:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعونَ
“Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.” (QS. Al-Baqarah: 156)
Bahkan ketika tangan kita sibuk bekerja, hati tetap bergerak: melangkah, bergeser sedikit demi sedikit, mendekat kepada-Nya.
Refleksi:
- Apakah dalam setiap kesibukan kita, hati masih mengingat tujuan utamanya?
Menyadari Amanah: Anak dan Keluarga Bukan Milik Kita Sepenuhnya
Ada kalanya kita merasa anak adalah “milik kita”. Kita membesarkannya, mendidiknya, mencintainya seakan-akan mereka sepenuhnya bagian dari diri kita.
Namun, video ini mengingatkan: Mereka lebih dahulu adalah umat Rasulullah ✨.
Saat kita merasa berat, diuji dalam urusan keluarga, mungkin itu adalah teguran halus: “Ingat, mereka titipan. Mereka adalah umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum menjadi bagian keluargamu.”
مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ
“Dan apa saja yang kamu nafkahkan, Allah akan menggantinya.” (QS. Saba’: 39)
Biaya, tenaga, kasih sayang yang kita curahkan pada anak-anak dan keluarga adalah investasi untuk umat Rasulullah sebelum untuk diri kita sendiri.
Refleksi:
- Saat membiayai keluarga, adakah terlintas rasa syukur bahwa kita tengah berkhidmat untuk Rasulullah?
Hakikat Kepemilikan: Semua Adalah Amanah
Saat kesulitan menimpa — masalah keuangan, keluarga, pekerjaan — mungkin Allah sedang mengingatkan: jangan merasa memiliki apa yang bukan milikmu sepenuhnya.
Sang Pemilik Hakiki adalah Allah. Kita hanya penjaga sementara.
Rasulullah bersabda:
الُمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang Muslim adalah yang orang lain selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Refleksi:
- Sudahkah kita menyerahkan sepenuh hati semua urusan kepada Allah, tanpa beban merasa memilikinya?
Kesimpulan: Melangkah Pulang dengan Jiwa yang Lapang
Dalam setiap napas, kita sedang berjalan pulang. Dalam setiap amal, kita sedang mempersiapkan pertemuan agung itu.
Maka, mari perhalus langkah ini:
- Dengan sadar bahwa anak-anak kita adalah amanah dari Rasulullah.
- Dengan yakin bahwa semua kesulitan adalah cara Allah meluruskan arah kita.
- Dengan hati yang terus berzikir, mengingat bahwa dunia ini hanya persinggahan.
Karena pulang bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, melainkan siapa yang paling ikhlas menyerahkan diri.
Wallahu a’lam bishawab.
Penutup
Semoga tulisan ini menjadi lentera kecil di jalan sunyi perjalanan pulangmu.
Semoga Allah melapangkan dada kita, meneguhkan langkah kita, dan mempertemukan kita kelak di surga-Nya bersama Rasulullah tercinta.
اللهم ارزقنا حُسْنَ الْخِتَام




Tinggalkan komentar