Sejatinya, perjalanan ini bukan tentang siapa yang paling banyak amalnya.
Perjalanan ini tentang siapa yang paling hancur dirinya di hadapan Allah,
dan paling berserah kepada rahmat-Nya.

Dalam video diatas kita diingatkan bahwa kita tidak akan pernah sampai kepada Allah kecuali setelah seluruh sifat buruk hancur.
Dan pada akhirnya, rahmat Allah — bukan amal kita — yang mengangkat ruh kembali ke hadirat-Nya.

Mari kita resapi, perlahan, dengan hati yang siap dideras hujan cinta-Nya.


Syarat Sampai: Fanā’ atas Sifat Buruk

Allah tidak mengizinkan ruh bertemu dengan-Nya sebelum:

  • Sifat buruk hancur lebur.
  • Nafsu duniawi mati.
  • Jiwa kosong dari segala selain-Nya.

Ibnu ‘Athaillah berkata dalam Al-Hikam:

لَا يَصِحُّ السَّفَرُ إِلَِا بِمُفارَقَةِ الْأَوطَان

“Tidak sah perjalanan menuju Allah kecuali setelah meninggalkan tanah kelahiran hawa nafsu.”

Refleksi:

  • Sudahkah kita mulai menghancurkan istana kecil kesombongan dalam hati?

Rahmat Allah: Jembatan Menuju Keabadian

Video ini dengan jelas mengingatkan: Bukan amal syariat atau tarekat semata yang menyebabkan kita sampai, melainkan:

  • Rahmat Allah (الرَّحْمَة).
  • Anugerah Allah (الفَضْل).
  • Kasih sayang Allah yang mengalir lewat kekasih-Nya, Rasulullah ✨.

Allah berfirman:

وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللهِ

“Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan pertolongan Allah.” (QS. Hud: 88)

Refleksi:

  • Dalam setiap sujud kita, sudahkah kita sadar bahwa hanya rahmat Allah yang bisa mengangkat kita?

Sifat Buruk: Ditutupi dengan Cahaya Rasulullah

Sifat-sifat buruk kita:

  • Pelit
  • Lemah
  • Tamak
  • Takabur

tidak bisa hilang hanya dengan usaha sendiri.
Allah menutupi mereka dengan sifat agung Rasulullah:

  • Kedermawanan.
  • Kekuatan.
  • Zuhud.
  • Kerendahan hati.

Dari Rasulullah, sifat itu diwariskan ke para pewaris (mursyid sejati), lalu mengalir kepada kita.

Refleksi:

  • Pernahkah kita bersyukur bahwa kebaikan kita adalah pancaran sifat Rasulullah, bukan murni usaha kita?

Proyek Terbesar: Membenahi Diri Sendiri

Dalam hidup ini, kita boleh memiliki banyak proyek:

  • Bisnis
  • Pendidikan
  • Keluarga

Tetapi, proyek terbesar adalah memperbaiki diri:

  • Membersihkan hati.
  • Menguatkan ruh.
  • Menundukkan hawa nafsu.

Ibnu ‘Athaillah dalam Al-Hikam mengajarkan:

مَا نَفَعَ القَلْبَ مِثْلُ عُزْلً يُدْخِلُ فيهِ ميدَانَ فِكْر

“Tidak ada yang lebih bermanfaat bagi hati selain mengasingkan diri ke medan perenungan.”

Refleksi:

  • Seberapa serius kita menempatkan diri kita sendiri sebagai proyek terbesar dalam hidup?

Kesimpulan: Pulang Bukan Karena Amal, Tapi Karena Rahmat

Di ujung perjalanan ini,
bukan amal kita yang membawa ruh terbang pulang, melainkan rahmat Allah yang mengangkat.

Bukan kekuatan langkah kita,
tapi cinta-Nya yang memanggil.

Karena hanya ruh yang hancur dalam fanā’ dan bersandar pada rahmat-Nya yang akan sampai.

Wallahu a’lam bishawab.


Penutup

Semoga Allah menghancurkan semua sifat buruk kita.
Semoga Allah menutupi kelemahan kita dengan sifat Rasulullah.
Semoga kita dipulangkan bukan karena amal, tapi karena cinta dan rahmat-Nya semata.

اللهم اغْسِلْ قُلووِبَنَا مِنْ الشَّرِ كَمَا تُنَقِّي الثَّوْبَ الأَبْيَضَ مِنْ الدَّنَس


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca