
Tidak ada yang suka ditolak.
Tidak ada yang suka gagal.
Tidak ada yang suka merasa kesepian, hancur, atau kehilangan.
Ketika dunia menolakmu,
ketika pintu-pintu tertutup,
ketika tanganmu kosong,
ketika hatimu remuk,
kau mungkin berpikir:
“Apakah aku sedang dihukum?”
Tapi sesungguhnya…
kau sedang dibersihkan.
Kau sedang dipanggil.
Kau sedang ditarik, dengan kasih yang tidak kau pahami saat ini.
Karena Allah, dalam cinta-Nya yang sempurna,
seringkali menyelamatkan kita dengan cara yang menyakitkan.
Seperti seorang ayah yang menarik anak kecil menjauh dari api,
meskipun anak itu menangis tidak mengerti,
begitu pula Allah menarik kita dari dunia yang sedang kita peluk terlalu erat.
Ia merenggut dunia dari tanganmu
agar hatimu bisa kembali mencari-Nya.
Ia membiarkan dunia menolakmu
agar kau berhenti bersandar pada sesuatu yang fana.
Saat dunia berbalik,
saat manusia melupakanmu,
saat jalan-jalan tertutup,
saat mimpimu runtuh,
saat hatimu pecah menjadi serpihan,
disitulah rahasia besar sedang bekerja:
Allah ingin hatimu hanya untuk-Nya.
Kesulitan bukan kutukan.
Penolakan bukan kebetulan.
Rasa sakit bukan kebinasaan.
Mereka adalah tanda-tanda rahmat,
yang dibungkus dalam bentuk yang sulit dimengerti oleh akal duniawi.
Karena selama dunia masih terasa nyaman,
manusia akan lupa.
Manusia akan terbuai.
Manusia akan mengira dirinya mampu hidup tanpa Sang Pencipta.
Allah tahu itu.
Dan karena cinta-Nya lebih besar dari cinta kita kepada diri sendiri,
Ia menghancurkan istana pasir yang kita bangun di tepi pantai.
Ia merobohkan sandaran rapuh yang kita anggap kokoh.
Ia melepaskan kita dari jebakan manis dunia.
Bukan untuk menyakiti,
tetapi untuk menyelamatkan.
Bukan untuk menghancurkan,
tetapi untuk membangunkan.
Maka ketika dunia menolakmu,
tersenyumlah dalam diam.
Tersenyumlah, walaupun air matamu jatuh.
Karena mungkin,
di balik semua yang kau anggap kehilangan,
sedang ada tangan tak terlihat yang sedang membentukmu menjadi lebih murni, lebih kuat, lebih dekat kepada-Nya.
Sakit itu… adalah jembatan.
Kesulitan itu… adalah sapaan.
Keterpurukan itu… adalah undangan untuk bersujud lebih dalam.
Banyak orang jatuh miskin, lalu menemukan kekayaan batin.
Banyak orang kehilangan cinta manusia, lalu menemukan cinta Tuhan yang sejati.
Banyak orang kehilangan segala yang dunia tawarkan,
lalu mendapati bahwa mereka akhirnya bebas,
benar-benar bebas.
Karena dunia ini bukan rumahmu.
Dunia ini bukan pelabuhan abadi.
Dunia ini hanya ujian.
Ujian untuk melihat, apakah hatimu akan tetap teguh mencintai-Nya,
saat dunia menarik semua karpet kenyamanan darimu.
Ingatlah:
Allah tidak pernah menjauh.
Kitalah yang sering terlalu sibuk mencintai dunia hingga melupakan-Nya.
Maka, ketika dunia menjauh darimu,
itu tandanya Allah ingin kau berhenti,
menoleh,
dan kembali mencari-Nya.
Kesulitan adalah isyarat.
Penolakan adalah petunjuk.
Rasa sakit adalah alarm.
Semua itu berkata dalam bahasa yang halus:
“Bangunlah.
Kembalilah.
Jangan tertipu oleh bayangan dunia.”
Allah mencintaimu terlalu dalam untuk membiarkanmu terus tertidur dalam pelukan dunia.
Allah menginginkan seluruh hatimu.
Bukan setengah.
Bukan sisa.
Maka Dia akan membersihkanmu.
Dia akan mencabut kebergantunganmu pada selain-Nya.
Dia akan menjadikanmu kosong…
agar Dia bisa memenuhi ruang hatimu sepenuhnya dengan Cahaya-Nya.
Ketika kau menangis dalam kesendirian,
ketika semua yang kau genggam terlepas,
ketika semua yang kau harapkan runtuh,
ketahuilah:
kau tidak sedang dihancurkan.
Kau sedang disiapkan.
Disiapkan untuk kedekatan yang lebih dalam.
Disiapkan untuk cinta yang lebih sejati.
Disiapkan untuk perjumpaan yang lebih indah.
Dengan Tuhanmu.
Dengan Kekasih Sejatimu.
Dengan Dia yang telah menciptakanmu dari tetesan cinta.
Maka, jangan marah kepada dunia.
Jangan kecewa kepada manusia.
Jangan menyesali kehilangan.
Peluklah kesulitan itu.
Dekaplah penolakan itu.
Tersenyumlah melalui air matamu.
Karena sesungguhnya,
setiap luka yang kau terima,
setiap kehilangan yang kau alami,
setiap pintu yang tertutup di hadapanmu,
adalah surat cinta dari Allah,
yang berkata:
“Aku ingin kau kembali kepada-Ku.
Aku ingin hatimu hanya untuk-Ku.
Aku ingin kau mencintai-Ku, sebagaimana Aku mencintaimu.”
Tersenyumlah.
Kesulitan dan penolakan dunia bukan kehancuranmu.
Mereka adalah jalan pulangmu.
✨




Tinggalkan komentar