Ada saat-saat ketika manusia merasa kuat, merasa mampu, merasa cukup. Tapi sesungguhnya, setiap helaan nafas, setiap detak jantung, adalah tanda betapa kita tak pernah lepas dari kebutuhan kepada Allah.
Dalam video diatas kita diajak kembali merenung: Tidak ada satu detik pun dalam hidup ini di mana kita tidak butuh Allah. Dan menjaga hati dari kegelapan dunia adalah tugas suci yang harus dijaga dengan penuh kesadaran.
Mari kita resapi, perlahan, dengan jiwa yang haus akan cahaya-Nya.
Kebutuhan Mutlak kepada Allah: Di Setiap Keadaan
Allah menciptakan kondisi sempit, sakit, musibah, bukan untuk menyiksa, tapi untuk menyadarkan:
- Bahwa kita bukan apa-apa.
- Bahwa kita tidak punya daya tanpa-Nya.
Namun yang lebih mulia, adalah bila dalam keadaan lapang sekalipun, hati tetap:
- Tunduk.
- Rendah.
- Merasa amat sangat membutuhkan Allah.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمْ الفُقَرَاءُ إِلَى اللهِ
“Wahai manusia, kalianlah yang fakir (butuh) kepada Allah.” (QS. Fathir: 15)
Refleksi:
- Di saat senang, adakah hati kita tetap bergantung hanya kepada Allah?
Sujud: Titik Terdekat antara Hamba dan Tuhannya
Dalam sujud:
- Tidak ada suara.
- Tidak ada kata.
- Hanya ada kehinaan total di hadapan-Nya.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ
“Keadaan paling dekat seorang hamba dengan Tuhannya adalah saat ia bersujud.” (HR. Muslim)
Dalam sujud, kita tidak meminta dengan tangan, kita berbicara dengan kehinaan.
Refleksi:
- Sudahkah sujud kita menjadi tempat kita menangis rindu, bukan sekadar rutinitas?
Nur Tauhid: Cahaya yang Harus Dijaga
Setiap maksiat, setiap pikiran kotor, adalah debu yang menutupi nur tauhid di hati.
- Pikiran kotor menggelapkan hati.
- Keinginan dunia berlebihan merusak ketajaman ruhani.
Sebaliknya:
- Zikir membersihkan debu hati.
- Tunduk kepada Allah menyegarkan kembali nur tauhid.
Refleksi:
- Apa yang hari ini kita biarkan masuk ke hati: cahaya atau kegelapan?
Rasulullah: Lautan Kesucian yang Mensucikan
Rasulullah adalah “lautan” yang tidak pernah keruh, meskipun disiram kotoran:
- Yang datang dengan dosa, menjadi suci.
- Yang datang dengan kegelapan, menjadi bercahaya.
Sebagaimana disebut dalam video:
- Air laut tetap bersih walaupun dilempari kotoran.
- Begitu pula Rasulullah — lautan cahaya yang mensucikan siapa saja yang mendekat.
Ibnu ‘Athaillah berkata dalam Al-Hikam:
مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ عَرَفَ رَبَّهُ
“Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”
Refleksi:
- Sudahkah kita datang ke Rasulullah dengan membawa kehinaan, agar kita dibasuh cahaya-Nya?
Bahaya Dunia: Gelap yang Tak Terasa
Ketika dunia:
- Sandang.
- Pangan.
- Papan. menjadi satu-satunya tujuan hidup, maka ruh perlahan gelap.
Kita sibuk membangun rumah dunia, lupa membangun rumah akhirat.
Allah mengingatkan:
أَلَهَكُمْ الْتَكَاثُرُ حَتَّى زُرْتُمْ الْمَقَابِرَ
“Bermegah-megahan telah melalaikan kalian, sampai kalian masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur: 1-2)
Refleksi:
- Apa yang hari ini lebih kita cari: dunia yang fana, atau cahaya yang abadi?
Kesimpulan: Hidup Ini adalah Proyek Menjaga Cahaya
Setiap langkah kita adalah perjuangan menjaga nur tauhid.
Setiap detik adalah ladang untuk menanam rasa butuh kepada Allah.
Karena yang paling berbahaya bukanlah saat kita berdosa, tetapi saat kita merasa tidak lagi membutuhkan Allah.
Wallahu a’lam bishawab.
Penutup
Semoga Allah memelihara cahaya tauhid dalam hati kita,
membersihkan hati dari kotoran dunia,
dan menuntun kita pulang dalam keadaan bersih dan bercahaya.
اللهم انْقُ قُلووِبَنَا مِنْ الشَّرِ كَمَا يُنَقّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَس




Tinggalkan komentar