Kadang manusia mengira bahwa hidup adalah tentang mendapatkan apa yang ia inginkan. Padahal, hidup sejatinya adalah tentang menjaga Nur Tauhid di tengah derasnya arus dunia.
Video ini mengajarkan sebuah kebenaran agung: Bukan banyaknya permintaan kita kepada Allah yang utama, tetapi adab kita di hadapan-Nya, rasa cukup kita dengan-Nya, dan ketulusan hati dalam menerima semua yang datang dari-Nya.
Mari kita resapi, perlahan, agar hati kita belajar merasakan, bukan sekadar memahami.
Hidup Ini: Bukan Sekadar Meminta, Tapi Menjaga Adab
Dalam kehidupan:
- Ada kebutuhan lahir: rezeki, kesehatan, keluarga.
- Ada kebutuhan batin: keimanan, tauhid, kesadaran akan Allah.
Namun, yang utama bukanlah sekadar meminta kebutuhan lahiriah, melainkan:
- Menjaga tata krama ruhani.
- Tetap beradab dalam setiap doa.
- Tidak menuntut Allah, tetapi mengadukan diri kepada-Nya dengan kerendahan.
Ibnu ‘Athaillah berkata dalam Al-Hikam:
مَا طَلَبَ منْكَ أَنْ تَطَلُبَ غَيْرَهُ وَلَكِنْ طَلَبَ مِنْكَ أَنْ تَطَلُبَ إِلَيْهِ
“Allah tidak meminta darimu untuk mencari selain-Nya. Tetapi Dia meminta darimu untuk mencari hanya kepada-Nya.”
Refleksi:
- Ketika berdoa, apa yang lebih kita cari: terkabulnya permintaan, atau kedekatan dengan Allah?
Menjaga Nur Tauhid: Modal Termahal dari Allah
Iman dan Nur Tauhid di hati:
- Modal yang paling mahal.
- Titipan ilahi yang harus dijaga dengan penuh kesadaran.
Setiap kesenangan dunia, setiap ujian dunia, bisa menggerus nur tauhid bila hati lalai.
Allah berfirman:
مَنْ يُرِدْ اللهُ أَنْ يَهْديهُ يَشْرَحْ صَدَرَهُ لِلْإِسْلَام
“Barang siapa yang Allah kehendaki untuk diberi petunjuk, niscaya Dia lapangkan dadanya untuk (menerima) Islam.” (QS. Al-An’am: 125)
Refleksi:
- Hari ini, adakah kita lebih menjaga iman kita daripada menjaga harta kita?
Melihat Segala Sesuatu Sebagai Perbuatan Allah
Setiap rasa sakit, setiap peristiwa pahit, setiap suara keras, semua:
- Datang dari Allah.
- Untuk membersihkan kita.
- Untuk menguji keikhlasan kita.
Dalam tingkat tauhid yang tinggi:
- Sakit gigi pun dilihat sebagai ciptaan Allah.
- Nyeri di lutut pun diakui berasal dari kehendak Allah.
Refleksi:
- Ketika tertimpa sakit atau masalah, adakah kita melihat tangan Allah di balik semua itu?
Dari Anta Menuju Anahuwa: Melampaui Akal ke Hati
Tauhid itu bertingkat:
- Tauhid biasa: Mengakui Allah itu Esa.
- Tauhid Anta: Segala sesuatu, baik dan buruk, dilihat sebagai “Engkau, ya Allah.”
- Tauhid Anahuwa: Hanya ada Dia. Segala sesuatu fana, hanya Allah yang nyata.
Namun, untuk mencapai Tauhid Anahuwa:
- Hati harus dibuka.
- Ruh harus “pindah alam”, dari dunia ke malakut.
- Tidak cukup hanya paham, harus “merasakan” dengan jiwa.
Seperti garam:
- Tidak cukup tahu “garam itu asin” dari kata orang.
- Harus benar-benar “merasakan” asinnya.
Begitu pula agama. Harus dirasakan, bukan sekadar dipahami.
Refleksi:
- Apakah agama dalam hidup kita baru sekadar pengetahuan, atau sudah menjadi rasa di hati?
Kesimpulan: Menjaga Adab, Memelihara Nur, Merasakan Allah
Kehidupan ini bukan tentang banyaknya doa yang terkabul,
tapi tentang adab yang terjaga.
Bukan tentang banyaknya amal lahir,
tapi tentang seberapa dalam kita merasakan kehadiran Allah dalam setiap tarikan nafas.
Karena hati yang hidup adalah hati yang melihat Allah dalam setiap detik kehidupan.
Wallahu a’lam bishawab.
Penutup
Semoga Allah menjaga Nur Tauhid dalam hati kita,
mengajarkan kita beradab dalam setiap doa,
dan membuka hati kita untuk benar-benar merasakan kehadiran-Nya.
اللهم افتَحْ لَنَا أَبْوَابَ مَعْرِفَتِكَ وَاجْعَلْ نُوْرَكَ فِي قُلووِبِنَا




Tinggalkan komentar