Tujuan Hidup: Kembali kepada Allah dengan Hati yang Bersih

Di dunia ini, tubuh hanyalah kontrakan sementara.
Ruh kitalah yang akan pulang, meninggalkan dunia, kembali kepada Sang Pemilik.

Dalam video ini kita diajak untuk menyadari bahwa tujuan utama kehidupan bukanlah mengejar keistimewaan lahir, tetapi kembali ke dalam hakikat ruhani, mendekat kepada Allah dengan hati yang bersih.

Mari kita resapi, perlahan, sebelum kontrakan ini habis.


Keistimewaan Ruhani: Buah dari Amal Luar Biasa

Karamah, keajaiban ruhani, tidak muncul begitu saja. Ia adalah:

  • Buah dari amal yang melampaui kebiasaan manusia biasa.
  • Hadiah bagi hati yang tetap sujud di saat manusia lain tertidur.
  • Cahaya bagi ruh yang memilih Allah di atas dunia.

Ibnu ‘Athaillah berkata dalam Al-Hikam:

مَنْ أَشْرَقَ بَدَايَتُهُ أَشْرَقَتْ نِهَايَتُهُ

“Barang siapa bersinar di awal perjalanannya, akan bersinar pula akhirnya.”

Refleksi:

  • Apa amal luar biasa yang telah kita lakukan dalam perjalanan ini?

Syariat dan Tarekat: Dua Sayap Menuju Pulang

Untuk kembali kepada Allah:

  • Syariat menjaga tubuh agar berjalan dalam aturan-Nya.
  • Tarekat membersihkan hati dari hijab duniawi.

Tanpa keduanya:

  • Lahiriah bisa tampak suci, tetapi batin tetap gelap.
  • Atau batin bercahaya, tetapi lahir berantakan.

Keduanya harus berjalan seiring, saling melengkapi.

Refleksi:

  • Sudahkah lahir dan batin kita bergerak serentak menuju Allah?

Mengingat Ruh: Diri Sejati Kita

Tubuh ini kontrakan.
Ruh adalah pemilik sejatinya.

Ketika ajal tiba:

  • Yang mati adalah tubuh.
  • Yang pulang adalah ruh.

Allah berfirman:

إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali.” (QS. Al-Baqarah: 156)

Refleksi:

  • Apakah hati kita sudah siap dipanggil pulang kapan saja?

Pentingnya Mursyid: Lentera di Tengah Gelap

Dalam perjalanan ruhani:

  • Tidak cukup hanya ilmu.
  • Tidak cukup hanya amal.
  • Harus ada mursyid sejati, guru yang membimbing dengan adab.

Sebagaimana rukun dalam pernikahan:

  • Ada wali.
  • Ada saksi.
  • Ada ijab qabul.

Begitu pula tarekat, ada:

  • Murid.
  • Guru (mursyid).
  • Ilmu dan amal yang sah.

Refleksi:

  • Sudahkah kita berguru dengan adab yang benar, bukan sekadar ikut-ikutan?

Menjaga Nur dalam Setiap Langkah

Ilmu dan amalan ruhani bukan sekadar untuk diketahui, tapi untuk diresapi.

  • Nur Allah masuk lewat suara.
  • Menembus akal.
  • Menggetarkan hati.

Bukan semua orang layak menerima.
Dan tidak semua orang layak membagikan.

Refleksi:

  • Apakah kita sudah menjaga amanah nur yang Allah titipkan di hati kita?

Kesimpulan: Sebelum Kontrakan Ini Habis, Mari Pulang dengan Cahaya

Sebelum tubuh ini dikembalikan ke tanah,
sebelum kontrak kehidupan ini berakhir,

Mari:

  • Kembalikan ruh kepada Allah dalam keadaan bersih.
  • Hiasi perjalanan dengan amal luar biasa.
  • Jaga adab dalam syariat, tarekat, dan hakikat.

Karena yang diterima Allah, bukan banyaknya amal, tapi sucinya ruh.

Wallahu a’lam bishawab.


Penutup

Semoga Allah membukakan kesadaran ruhani kita,
mempercepat langkah pulang kita,
dan menerima ruh kita dalam keadaan bercahaya.

اللهم ارْجِعْ رُوُحَنَا إِلَيْكَ رَاضِيًا مِرْضيًّا مُقَبَّلًا غَيْرَ مَرْدود


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca