Bagian Ketiga: Berdiri dalam Shalat — Kesadaran Alam Mulki dan Awal Perjalanan Ruhani
Shalat selalu dimulai dengan berdiri (qiyam). Pada pandangan syariat, ini adalah kewajiban tubuh untuk menegakkan rukun shalat. Namun dalam pandangan tasawuf, berdiri adalah tanda kesiapan ruh untuk memulai perjalanan. Inilah langkah pertama hamba memasuki lintasan cahaya yang membentang dari bumi hingga ke hadirat Ilahi.
Guru kami, Abuya KH. Muhammad Amin Yusuf, mengajarkan bahwa berdiri dalam shalat bukan hanya sikap tubuh, melainkan kesadaran bahwa kita sedang dihadapkan langsung kepada Allah. Maka tidak cukup jasad yang tegak, hati pun harus hadir dan sadar.
Qiyam: Simbol Kehadiran Jasad dan Amanah Khalifah
Dalam alam wujud, alam mulki adalah tempat manusia hidup dan menjalani taklif (beban amanah). Di sini, manusia tampak sebagai makhluk, dengan tubuh, akal, dan kehendak. Maka berdiri di awal shalat adalah tanda bahwa hamba hadir di alam dunia, namun sedang meninggalkannya untuk menuju Allah.
Berdiri adalah posisi makhluk yang menghadap Khaliq. Tubuh tegak lurus, wajah menghadap kiblat, tangan bersedekap — semua ini melambangkan kesiapan dan kehambaan. Dalam tafsir ruhani, ini disebut maqam i’tiraf (maqam pengakuan): hamba mengakui bahwa dirinya kecil, fana, dan lemah.
Niat: Menyadari Tujuan Perjalanan
Sebelum berdiri, ada niat. Dan niat adalah gerakan ruh yang tak terlihat. Ia adalah arah tujuan — tanpa niat, gerakan lahiriah hanyalah rutinitas. Maka berdiri tanpa niat adalah seperti tubuh tanpa ruh.
Abuya pernah berkata dalam majelisnya:
“Siapa yang niatnya hanya menggugurkan kewajiban, ia hanya berdiri di alam mulki. Tapi siapa yang niatnya ingin bertemu Tuhannya, maka berdirinya menjadi pintu langit.”
Dengan kata lain, niat yang ikhlas mengubah berdiri dari formalitas menjadi permulaan mi’raj.
Takbiratul Ihram: Melepaskan Dunia
Saat berdiri, shalat dimulai dengan takbiratul ihram. Tangan diangkat ke telinga atau ke bahu — isyarat bahwa segala sesuatu selain Allah kini ditinggalkan. Kata “Allahu Akbar” bukan hanya pujian, tapi juga deklarasi spiritual: bahwa tidak ada yang lebih besar dari Allah, tidak ada yang lebih layak dihadapi kecuali Dia.
Di sinilah hamba melepaskan ikatan dunia — harta, jabatan, kekhawatiran, dan angan-angan — semua dilepaskan dengan gerakan takbir. Ia kini hadir sebagai ruh yang telanjang dari dunia, meskipun tubuhnya masih berada di dalamnya.
Membaca Al-Fatihah: Panggilan Menuju Rabb
Setelah berdiri dan bertakbir, hamba membaca surat al-Fatihah, yang oleh para sufi disebut sebagai surat dialog antara hamba dan Tuhan-Nya. Ayat demi ayat adalah panggilan cinta, dari seorang hamba yang mulai sadar akan ketergantungannya kepada Yang Maha Kuasa.
Abuya KH. Muhammad Amin Yusuf sering mengajarkan bahwa ketika membaca ayat:
“Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”
maka hati hamba harus benar-benar mengosongkan selain Allah, dan menyadari bahwa hanya kepada-Nya ia mengabdi, dan hanya kepada-Nya ia meminta pertolongan — tidak kepada dunia, tidak kepada manusia, bahkan tidak kepada dirinya sendiri.
Penutup Bagian Ketiga
Berdiri dalam shalat bukanlah gerakan biasa. Ia adalah tanda kebangkitan ruh dari kelalaian, dan tanda dimulainya perjalanan menembus hijab menuju Allah. Di sinilah alam mulki menjadi titik loncatan, tempat kaki berpijak namun hati mulai terbang.
Semoga kita semua mampu menjadikan berdiri kita dalam shalat sebagai berdirinya ruh di hadapan keagungan, dan bukan hanya berdirinya tubuh yang terbiasa menjalankan kewajiban.
“Barangsiapa berdiri dengan jasad dan ruhnya, maka seluruh makhluk ikut berdiri bersamanya dalam dzikir.”
Akan bersambung, insyaAllah, pada bagian berikutnya:
“Ruku’ dalam Shalat — Tunduknya Ruh dalam Alam Malakut”




Tinggalkan komentar