Mi’raj Sang Hamba: Tafsir Sufistik atas Gerakan Shalat

Bagian Keempat: Ruku’ dalam Shalat — Tunduknya Ruh dalam Alam Malakut

Setelah berdiri dalam kesadaran jasmani (alam mulki), shalat membawa kita kepada gerakan ruku’ — membungkukkan tubuh sebagai bentuk ketundukan. Tapi dalam pandangan tasawuf, ruku’ bukan hanya simbol fisik. Ia adalah isyarat ruhani bahwa hati mulai tunduk, dan ruh mulai masuk ke dimensi ilahiah yang lebih dalam: yaitu alam malakut.

Guru kami, Abuya KH. Muhammad Amin Yusuf, mengajarkan bahwa ruku’ adalah gerakan awal masuknya ruh ke dalam kesadaran halus, di mana segala keakuan mulai melembut, dan rasa malu kepada Allah tumbuh dari dalam jiwa.


Alam Malakut: Dunia Ruhani dan Kesucian

Alam malakut adalah alam ruh dan para malaikat. Ia bukan dunia yang tampak oleh pancaindra, tetapi bisa dirasakan oleh hati yang bersih. Di sinilah manusia mulai menyadari keberadaannya bukan hanya sebagai jasad, tetapi sebagai ruh yang ditugaskan untuk mengenal Tuhannya.

Dalam ruku’, seorang hamba membungkuk sebagai tanda kesadaran akan kelemahannya. Ia belum sepenuhnya melebur (fana), tetapi sudah mulai menyadari bahwa dirinya hanyalah makhluk yang bergantung sepenuhnya pada Rabb-nya.


Tunduknya Ruh, Bukan Sekadar Tubuh

Ruku’ yang hanya dilakukan oleh tubuh adalah latihan fisik. Tapi ruku’ yang benar adalah tunduknya hati dan akal. Abuya sering mengingatkan,

“Kalau tubuh tunduk tapi hatimu masih tinggi, itu bukan ruku’ dalam pandangan Allah.”

Maka seorang salik yang sedang ruku’ seharusnya menyertakan dalam hatinya perasaan:

  • Tunduk dan malu,
  • Hancurnya keangkuhan,
  • dan keinginan kuat untuk menjadi hamba yang rendah di hadapan Sang Mulia.

Dalam ruku’, ego mulai patah. Ia belum hancur seperti dalam sujud, tapi ia mulai retak. Rasa kepemilikan mulai melemah, dan kesadaran bahwa “semua ini bukan milikku” mulai tumbuh.


Tasbih dalam Ruku’: Penyerahan Diri

Zikir dalam ruku’ — “Subhaana Rabbiyal ‘Adziim” — adalah bentuk penyucian Allah dalam sifat keagungan-Nya. Hamba mengakui bahwa dirinya lemah dan bahwa segala keagungan hanya milik Allah.

Mengucap kalimat ini sambil membungkuk, dalam keadaan penuh sadar, akan membuat hati luluh. Seseorang tidak hanya menyebut “Yang Maha Agung”, tetapi mengakui bahwa dirinya bukan siapa-siapa di hadapan-Nya.


Maqam Takhalli: Melepas Dunia dan Diri

Ruku’ adalah bagian dari maqam takhalli dalam perjalanan suluk, yaitu pelepasan. Hamba mulai melepaskan kesombongan, melepaskan rasa cukup, melepaskan pengakuan diri.

Abuya KH. Muhammad Amin Yusuf menyebut ruku’ sebagai maqam “menunduk sebelum tenggelam”. Di sini, ruh mulai merunduk di hadapan hakikat, dan bersiap untuk masuk ke fase sujud — fana’.


Penutup Bagian Keempat

Ruku’ bukan sekadar gerakan rukuk. Ia adalah tanda bahwa ruh mulai lembut, hati mulai tunduk, dan pintu-pintu makrifat mulai terbuka. Dari alam mulki kita berdiri, kini di alam malakut kita menunduk — menyadari bahwa semua yang kita sandarkan akan sirna, kecuali wajah-Nya.

“Orang yang ruku’ dengan hatinya akan diberi jalan ke rahasia-ranah langit. Tapi yang ruku’ hanya dengan punggung, akan kembali seperti semula.”


Akan bersambung, insyaAllah, pada bagian berikutnya:
“Sujud dalam Shalat — Lenyapnya Diri dalam Alam Jabarut”


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca