Bagian Kelima: Sujud dalam Shalat — Lenyapnya Diri dalam Alam Jabarut
Setelah melalui maqam berdiri (alam mulki) dan ruku’ (alam malakut), perjalanan ruhani dalam shalat sampai pada puncaknya: sujud. Di sinilah seorang hamba tidak hanya tunduk, tapi melebur, tidak sekadar rendah, tetapi hilang dari dirinya sendiri. Dalam pandangan tasawuf, inilah maqam fana’, maqam ketika tidak ada lagi yang terlihat kecuali Allah.
Guru kami, Abuya KH. Muhammad Amin Yusuf, menyebut sujud sebagai gerakan yang paling agung dan paling dalam. Sebab saat itu, dahi manusia — lambang kehormatan dan akal — diletakkan di atas tanah, dan yang tersisa hanyalah kehinaan diri dan keagungan Allah.
Alam Jabarut: Dunia Keagungan dan Kekuasaan
Alam al-Jabarut adalah alam yang mencerminkan sifat-sifat keagungan (jalal) Allah — sifat-sifat yang tak terjangkau akal, tak tertembus oleh makhluk, dan tak dapat dibicarakan kecuali dengan diam dan pengagungan.
Dalam sujud, hamba masuk ke dalam jalalullah — kehadiran mutlak Allah yang membakar segala keakuan. Bukan lagi hanya merasa rendah, tapi merasa tiada. Ruh mulai merasakan bahwa segala sesuatu yang disebut “aku”, “milikku”, “kekuatanku”, semuanya adalah bayangan yang fana.
Abuya menjelaskan bahwa sujud sejati hanya bisa dirasakan oleh hati yang sudah tidak memandang dirinya penting. Ia tenggelam, luluh, hancur dalam kesadaran bahwa hanya Allah-lah yang benar-benar ada.
Sujud: Puncak Mi’raj, Pintu Fana’
Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
“Keadaan paling dekat antara seorang hamba dengan Rabb-nya adalah saat ia sujud.”
(HR. Muslim)
Mengapa bukan saat berdiri atau tahiyat? Karena hanya dalam sujud, segala wujud diri dilepas. Bahkan ketika seseorang merasa hina, ia masih bisa menyombongkan kehinaannya. Tapi dalam sujud — jika benar-benar hadir — yang tersisa hanyalah kepasrahan total.
“Dalam sujud, bukan hanya wajahmu di tanah. Tapi seluruh pengakuanmu — bahwa engkau kuat, tahu, punya sesuatu — harus diserahkan.”
Kalimat Tasbih dalam Sujud
Ketika sujud, kita mengucapkan:
“Subhaana Rabbiyal A’laa” — Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi.
Kalimat ini adalah paradoks spiritual: kita dalam posisi paling rendah, namun menyebut-Nya Yang Maha Tinggi. Di sinilah kita menyadari bahwa semakin rendah seorang hamba di hadapan Tuhannya, semakin dekat ia dengan kemuliaan hakiki.
Maqam Fana dan Awal Tajalli
Sujud adalah pintu menuju tajalli — yaitu tersingkapnya cahaya Allah kepada hamba. Tapi tajalli hanya turun kepada mereka yang telah melebur: tiada lagi “aku”, hanya “Dia”. Abuya menyebut hal ini sebagai maqam “diam dalam cahaya”, karena tidak ada lagi yang bisa dikatakan atau dijelaskan.
Di alam jabarut, segala bentuk makna yang selama ini kita pahami luluh oleh kehadiran-Nya. Seseorang yang fana dalam sujud akan kembali dengan ruh yang dibersihkan, dan hidup yang diberi arah baru.
Penutup Bagian Kelima
Sujud bukanlah akhir dari gerakan shalat, tetapi puncak dari seluruh perjalanan ruhani. Di sinilah seorang hamba menghilang dalam keagungan, lalu muncul kembali sebagai hamba yang telah mengenal Tuhannya dengan cara yang lebih dalam.
“Siapa yang belum hancur dalam sujud, belum akan kembali dalam tahiyat sebagai hamba sejati.”
Akan bersambung, insyaAllah, pada bagian berikutnya:
“Tahiyat dalam Shalat — Kembali dalam Cahaya Tauhid”




Tinggalkan komentar