Mi’raj Sang Hamba: Tafsir Sufistik atas Gerakan Shalat

Bagian Keenam: Tahiyat dalam Shalat — Kembali dalam Cahaya Tauhid

Setelah ruh tenggelam dalam keagungan Allah melalui sujud di alam jabarut, shalat membawa kita kembali duduk — dalam tahiyat. Ini bukan sekadar istirahat dari gerakan, tetapi isyarat bahwa seorang hamba telah kembali dari fana’ dengan membawa kesadaran baru. Inilah maqam baqa’, inilah maqam alam tauhid — tempat di mana yang tersisa hanyalah Allah, dan segala selain-Nya menjadi tidak lagi berarti.

Guru kami, Abuya KH. Muhammad Amin Yusuf, menjelaskan bahwa tahiyat adalah maqam penyaksian (musyahadah). Seorang hamba yang telah melebur dalam sujud, kini kembali dengan hati yang penuh cahaya, lisan yang penuh salam, dan jiwa yang menyatu dalam tauhid.


Alam Tauhid: Dunia Kesadaran Murni

Tauhid dalam pengertian syariat adalah keyakinan bahwa “Tiada Tuhan selain Allah.” Tetapi dalam pandangan tasawuf, tauhid adalah pengalaman langsung — bukan sekadar keyakinan, tapi penyaksian bahwa hanya Allah yang benar-benar ada, dan bahwa segala yang selain-Nya adalah bayang-bayang.

Ketika duduk dalam tahiyat, seorang hamba tidak lagi merasa bahwa dirinya memiliki apapun, bahkan tidak juga dirinya sendiri. Ia hadir sebagai wujud yang dijaga oleh-Nya, digerakkan oleh-Nya, dan dituntun oleh-Nya.

“Tahiyat bukan duduk biasa. Ia adalah maqam kembalinya ruh setelah fana’. Di situ, engkau berbicara dengan Tuhanmu dengan kalimat yang telah dibersihkan dari dunia.”


Salam kepada Rasul dan Hamba-Hamba Allah

Di dalam tahiyat, kita mengucapkan salam:

“Assalamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu…”
“Assalamu ‘alaina wa ‘ala ‘ibaadillahi ash-shaalihin…”

Ini adalah ucapan ruh yang kembali dari fana’, menyapa Rasulullah ﷺ sebagai wasilah makrifat, lalu menyebarkan salam kepada seluruh hamba Allah yang shalih. Di sini, hamba menyadari kesatuan dalam tauhid — bahwa seluruh alam semesta, seluruh ruh para wali dan para nabi, seluruh makhluk yang mengenal Allah, berjalan dalam satu kesadaran tauhid.


Syahadat: Penegasan Makrifat

Di akhir tahiyat, kita mengucapkan dua kalimat syahadat — bukan hanya sebagai rukun, tetapi sebagai penegasan hasil dari perjalanan ruhani dalam shalat. Setelah melewati mulk, malakut, jabarut, kini ruh mengakui dengan sebenar-benarnya:

“Asyhadu alaa ilaaha illallah…”
“Wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah…”

Inilah ikrar makrifat, yang bukan hanya keluar dari lisan, tetapi lahir dari penyaksian ruh yang telah kembali dari mi’rajnya.


Maqam Baqa’: Hidup Bersama Allah

Setelah mengalami fana’ dalam sujud, tahiyat adalah tanda kehidupan baru (baqa’). Ruh tetap berada di dunia, tetapi dengan kesadaran ilahiyah. Ia masih makan, berjalan, berbicara — tapi dalam hatinya tidak ada lagi selain Allah. Ia hidup dengan Allah, untuk Allah, dan karena Allah.


Penutup Bagian Keenam

Tahiyat adalah maqam ruh yang telah kembali dari perjalanan panjang, membawa cahaya, salam, dan kesaksian. Ia duduk dengan penuh kehadiran, bukan sebagai orang yang baru memulai shalat, tapi sebagai hamba yang telah mengenal Tuhannya.

“Yang duduk dalam tahiyat bukan lagi orang yang sama saat berdiri. Ia telah kembali — tapi dengan hati yang tidak akan pernah pergi lagi.”


Akan bersambung, insyaAllah, pada bagian penutup:
“Shalat sebagai Mi’raj Sejati: Menyatukan Syariat, Thariqah, dan Hakikat”


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca