Apakah Untuk Bahagia Harus Sukses Dahulu?

Pertanyaan ini sering terdengar bijak.
Tapi di baliknya tersembunyi kesalahpahaman besar tentang hidup.

Karena kalau sukses dulu baru bahagia,
maka kita menunda rasa syukur.
Kita menggantungkan senyuman pada sesuatu yang belum pasti.
Dan kita menjadikan hidup ini lomba yang tak pernah selesai.

Guru kami berkata:
Kalian belum bahagia… karena belum merasa beruntung.
Padahal keberuntungan itu bukan hasil dari pencapaian,
tapi hasil dari kesadaran—bahwa apa yang kau miliki saat ini
sudah lebih dari cukup untuk membuatmu bersyukur, tenang, dan tersenyum.

Apakah engkau harus punya rumah megah,mobil mewah,dan harta berlimpah…
untuk merasa damai di dalam sujudmu?
Apakah engkau harus punya gelar tinggi dulu…
untuk merasa berharga dalam pelukan Tuhanmu?

Tidak.

Karena kebahagiaan sejati bukan datang setelah sukses,
tapi hadir saat engkau menyadari:
aku sudah diberi… lebih dari cukup.

Engkau diberi iman.
Diberi Islam.
Diberi guru.
Diberi cahaya yang tak tampak oleh mata, tapi menuntun jiwamu pulang.

Sukses menurut dunia bisa datang atau pergi.
Tapi kebahagiaan yang lahir dari rasa syukur,
akan tinggal selamanya di dalam dada yang ridha.

Maka jawabannya:
Tidak. Untuk bahagia, kau tak harus sukses terlebih dahulu.
Tapi untuk benar-benar sukses,
kau harus terlebih dahulu bisa bahagia dengan apa yang Allah berikan hari ini.

Dan itu hanya bisa lahir dari satu hal:
rasa beruntung yang disadari, disyukuri, dan dihidupi.


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca