Pertanyaan ini sering terdengar bijak.
Tapi di baliknya tersembunyi kesalahpahaman besar tentang hidup.
Karena kalau sukses dulu baru bahagia,
maka kita menunda rasa syukur.
Kita menggantungkan senyuman pada sesuatu yang belum pasti.
Dan kita menjadikan hidup ini lomba yang tak pernah selesai.
Guru kami berkata:
Kalian belum bahagia… karena belum merasa beruntung.
Padahal keberuntungan itu bukan hasil dari pencapaian,
tapi hasil dari kesadaran—bahwa apa yang kau miliki saat ini
sudah lebih dari cukup untuk membuatmu bersyukur, tenang, dan tersenyum.
Apakah engkau harus punya rumah megah,mobil mewah,dan harta berlimpah…
untuk merasa damai di dalam sujudmu?
Apakah engkau harus punya gelar tinggi dulu…
untuk merasa berharga dalam pelukan Tuhanmu?
Tidak.
Karena kebahagiaan sejati bukan datang setelah sukses,
tapi hadir saat engkau menyadari:
aku sudah diberi… lebih dari cukup.
Engkau diberi iman.
Diberi Islam.
Diberi guru.
Diberi cahaya yang tak tampak oleh mata, tapi menuntun jiwamu pulang.
Sukses menurut dunia bisa datang atau pergi.
Tapi kebahagiaan yang lahir dari rasa syukur,
akan tinggal selamanya di dalam dada yang ridha.
Maka jawabannya:
Tidak. Untuk bahagia, kau tak harus sukses terlebih dahulu.
Tapi untuk benar-benar sukses,
kau harus terlebih dahulu bisa bahagia dengan apa yang Allah berikan hari ini.
Dan itu hanya bisa lahir dari satu hal:
rasa beruntung yang disadari, disyukuri, dan dihidupi.




Tinggalkan komentar