Pernahkah kita duduk diam dalam gelapnya malam, lalu bertanya pada diri sendiri: “Apa aku benar-benar beruntung?”
Manusia mengejar banyak hal. Kekayaan. Jabatan. Cinta. Kekuasaan. Tapi ironisnya, semakin banyak yang dikejar, semakin dalam kekosongan yang dirasa. Sebab, kita lupa. Lupa pada satu kata yang sering kita ucapkan tapi tak pernah kita renungkan: beruntung.
Malam ini, guru kami, Abuya KH. Muhammad Amin Yusuf, mengajarkan sesuatu yang begitu sederhana tapi menghentakkan jiwa: “Kita ini beruntung… tapi tidak merasa beruntung.”
Kita hidup dalam lautan nikmat. Tapi buta. Kita diberi iman, Islam, dan dijadikan umat dari makhluk termulia: Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tapi hati kita menganggap itu biasa. Tak ada gemetar. Tak ada air mata. Seolah-olah menjadi bagian dari umat Rasulullah itu sama seperti menjadi warga biasa dari negara manapun.
Padahal, kita ini… umat dari raja segala nabi,bibit dari segala kebahagiaan sumber kebaikan di seluruh jagat semesta. Tapi kita tidak pernah merasa memiliki kemuliaan itu. Dan justru karena kita tidak merasa beruntung, kita tidak pernah benar-benar bersyukur. Dan karena tidak bersyukur, kita tidak pernah benar-benar bahagia.
Guru kami menambahkan sesuatu yang lebih tajam: “Bahkan ilmu yang kalian dapat—yang turun ke hati kalian seperti hujan rahmat—kalian pun belum tentu merasa beruntung dengannya.”
Betapa banyak orang di luar sana, yang bertahun-tahun menghabiskan waktu, harta, dan pengorbanan hanya untuk memahami satu lembar ilmu hakikat. Tapi kita yang diberi ilmu—mungkin hanya lewat satu kalimat guru—tidak merasa sedang memegang emas yang membuat arsy berguncang karena kebahagiaan.
Beruntung bukan tentang apa yang kita punya. Tapi tentang seberapa sadar kita terhadap nikmat yang sudah diberikan.
Sadar bahwa iman itu bukan kebetulan. Islam bukan tradisi. Rasulullah bukan sekadar sejarah. Dan ilmu bukan hanya catatan di kertas. Semua itu adalah benih surga yang sedang Allah titipkan. Tapi benih tak akan tumbuh jika tak disirami kesadaran, tak dipupuk oleh rasa syukur, dan tak dijaga dengan kerendahan hati.
Kita belum beruntung, bukan karena nikmat belum datang. Tapi karena hati kita belum melihat apa yang sudah ada.
Maka berhentilah sejenak dari hingar bingar dunia. Lihat ke dalam. Dengarkan baik-baik suara hatimu. Mungkin selama ini Allah sudah terlalu banyak memberi. Tapi engkau terlalu sibuk menunggu datangnya nikmat, padahal engkau sedang berdiri di atas gunung karunia yang luar biasa.
Hari ini, mari kita belajar merasakan keberuntungan. Bukan hanya mengetahuinya. Karena di situlah awal mula kebahagiaan yang hakiki.




Tinggalkan komentar