Ketika Tak Ada Uang, Tapi Masih Ada Allah: Bahagia yang Tak Bisa Dibeli

Tak semua orang berani jujur,
bahwa kadang hidup begitu sepi,
bukan karena kesendirian…
tapi karena dompet yang kosong,
harapan yang hancur,
dan tagihan yang datang tanpa tahu diri.

Dan di tengah sunyinya malam,
ada hati yang bertanya lirih:
“Ya Allah… bagaimana aku bisa bahagia, jika tak punya apa-apa?”

Tapi dengarkan ini, wahai jiwa yang sedang diuji.
Ketahuilah,
kebahagiaan tidak pernah menetap di angka saldo.
Ia tinggal di dalam dada yang mengenal Allah dan merasa cukup.

Tak punya uang bukanlah kehinaan.
Ia hanya ujian kecil dalam skenario cinta dari langit.
Dan justru ketika segalanya hilang,
kau akan tahu:
apakah kau masih punya Allah.

Karena sesungguhnya…
jika yang kau miliki adalah Allah,
maka kau tak kehilangan apa-apa.
Tapi jika Allah yang kau tinggalkan,
meskipun seluruh dunia ada dalam genggaman,
kau tetap merasa kosong, hampa, dan kehilangan.

Guru kami berkata:
“Orang yang tidak punya uang tapi masih bisa sujud dan menangis dalam dzikir, adalah orang yang paling kaya di bumi ini.”

Lihatlah langit malam.
Apakah ia pernah meminta bayaran agar bisa kita pandangi?
Lihatlah udara yang kau hirup saat ini.
Apakah Allah memintamu membelinya?

Itulah kasih sayang-Nya.
Meski kau tak punya apa-apa di tangan,
Dia tetap memenuhi hidupmu dengan karunia yang tak bisa dihitung.

Dan kadang, justru saat tak punya uang,
engkau bisa merasakan indahnya tawakal.
Engkau bisa merasakan pelukan doa yang paling dalam.
Engkau bisa mengucap “Hasbunallahu wa ni’mal wakiil” bukan dari bibir,
tapi dari luka-luka yang telah berserah.

Maka bahagia bukanlah milik orang kaya.
Bahagia adalah milik orang yang hatinya mengenal Allah,
dan merasa cukup bersama-Nya.

Karena ketika kau benar-benar merasa cukup,
meski rumahmu sempit, bajumu lusuh,
dan isi dompetmu tak lebih dari receh,
kau tetap bisa tersenyum dalam sujud,
dan berkata:
“Aku bahagia… karena aku masih punya Allah.”


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca