Mencari Harta yang Sudah Kita Genggam

“Mengapa hidupku terasa biasa-biasa saja? Padahal aku sudah Muslim. Aku sudah beriman. Aku shalat, aku puasa. Tapi hati ini tetap kosong. Hambar. Seperti menjalani hidup yang datar tanpa makna.”

Kalimat ini mungkin pernah terucap dalam benakmu—atau mungkin diam-diam sedang engkau rasakan saat ini.

Dan jawabannya bukan karena kurangnya ibadah, bukan karena engkau belum punya apa-apa, tapi karena satu hal: kau belum menyadari bahwa menjadi Muslim itu sendiri adalah keberuntungan yang luar biasa.

Ya. Kita terlalu sering memandang Islam dan iman sebagai sesuatu yang otomatis. Seolah-olah hanya karena kita lahir dari keluarga Muslim, maka semuanya sudah biasa. Padahal, tidak ada yang biasa dari menjadi orang beriman.

Berapa miliar manusia yang hidup di dunia ini, tapi tidak mengenal siapa Tuhannya?
Berapa banyak yang cerdas, kaya, berkuasa—tapi tidak tahu tujuan hidup?
Berapa banyak yang tak pernah sujud seumur hidup, bahkan tidak tahu cara sujud?

Dan kita… diberi oleh Allah untuk mengenal-Nya.
Diperkenalkan kepada Rasulullah, manusia termulia sepanjang zaman.
Diberi hidayah untuk bisa berkata: “Laa ilaaha illallah.”
Bukankah itu lebih dari cukup untuk membuat hati bergetar?

Tapi justru karena terlalu terbiasa, kita kehilangan rasa.
Karena terlalu dekat, kita lupa betapa berharganya harta yang sedang kita genggam.

Guru kami, Abuya KH. Muhammad Amin Yusuf, mengingatkan:
“Kalian belum merasa bahagia, karena belum merasa beruntung.”
Bukan karena tidak punya nikmat, tapi karena tidak menyadari nikmat itu sedang kalian miliki.

Hidup menjadi terasa biasa-biasa saja,
karena kita belum membuka mata hati untuk melihat bahwa
kita ini hidup dalam pelukan rahmat yang luar biasa.

Bayangkan, apa lagi yang lebih mulia dari menjadi umat Nabi Muhammad?
Apa lagi yang lebih indah dari mengenal Allah, bukan hanya dengan akal, tapi dengan cinta?

Maka, jangan tunggu hidup menjadi luar biasa dengan hal-hal duniawi.
Jangan tunggu kaya, terkenal, atau sukses untuk merasa berarti.

Karena hidupmu sudah luar biasa,
saat engkau menyadari bahwa dalam tubuhmu yang fana ini,
bersemayam iman…
yang tidak semua manusia mendapatkannya.


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca