بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Setiap dari kita, di berbagai fase kehidupan, tentu pernah bertanya dalam hati: Apa yang membuat hidup ini terasa lapang? Apa yang membuka keberuntungan dan mendatangkan keberkahan?
Di tengah ikhtiar dan harapan, ada satu nasihat yang datang dari seorang guru yang dikenal karena keteduhan jiwanya, Abuya Muhammad Amin Yusuf. Nasihat itu pendek, ringan di lisan, tapi berat di timbangan makna:
“Syukur, maka beruntung.”
Kalimat ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan pancaran hikmah dari pengalaman dan kedalaman ruhani. Mari kita duduk sejenak dalam hati yang tenang, dan merenungi makna dari ajaran ini, perlahan-lahan, sebagaimana kita duduk mendengarkan wejangan dari seorang guru yang kita cintai.
Apa Itu Syukur?
Syukur bukan hanya ucapan Alhamdulillah saat mendapat nikmat. Ia adalah cermin dari hati yang sadar, lisan yang memuji, dan perbuatan yang menjaga amanah nikmat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ
“Dan Allah akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”
(QS. Ali ‘Imran: 144)
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepada kalian.”
(QS. Ibrahim: 7)
Syukur itu diam-diam mendatangkan banyak hal: ketenangan batin, keluasan rezeki, dan yang paling penting—keridhaan dari Tuhan.
Ajaran Abuya: Syukur Maka Beruntung
Dalam kesederhanaan tutur, Abuya Muhammad Amin Yusuf menanamkan satu prinsip hidup yang mengakar: “Syukur, maka beruntung.”
Beliau tidak banyak berteori, namun setiap ucapannya lahir dari cahaya amal dan kedalaman zikir. Dari Abuya kita belajar bahwa keberuntungan tidak selalu berupa kelimpahan materi, tapi rasa cukup, tenteram, dan yakin bahwa semua yang terjadi adalah bagian dari rahmat-Nya.
Maka ketika hati bersyukur:
- Yang sempit menjadi lapang
- Yang sedikit terasa cukup
- Yang berat terasa ringan
Beruntunglah orang yang bersyukur, sebab ia tidak menunggu bahagia untuk bersyukur, melainkan bersyukur hingga kebahagiaan datang menyusul.
Rezeki dalam Pandangan Islam
Sering kali kita berlari mengejar rezeki, lupa bahwa rezeki sejati justru datang kepada hati yang tenang, yang percaya bahwa Allah-lah pemberi rezeki.
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
(QS. At-Talaq: 2-3)
لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki…”
(HR. Tirmidzi)
Syukur, dalam kerangka ini, bukan hanya penerimaan. Ia adalah bagian dari tawakal, dari taqwa, dan dari adab kepada Sang Pemberi.
Bagaimana Bersyukur dengan Utuh?
- Syukur dengan Hati
Merenungi betapa banyak nikmat yang diberikan Allah, yang tak akan pernah mampu kita hitung. - Syukur dengan Lisan
Membiasakan dzikir, menyebut nama-Nya dengan lembut, dan tidak mengeluh atas ketetapan-Nya. - Syukur dengan Amal
Menggunakan waktu, tenaga, harta, dan ilmu di jalan yang Allah ridhai. - Syukur dalam Ujian
Tidak semua nikmat berwujud manis. Kadang bentuknya cobaan, agar hati kita lebih tajam melihat karunia-Nya.
Penutup: Mari Kita Renungkan
Tulisan ini adalah secuil upaya untuk mengabadikan nasihat yang ringan namun sarat makna dari Abuya Muhammad Amin Yusuf. Tidak untuk menggurui, melainkan sebagai ajakan untuk bersama-sama menundukkan hati.
Semoga kita menjadi hamba yang tahu cara menghargai setiap detik kehidupan, sekecil apapun nikmat yang datang.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan:
وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.”
(QS. Saba’: 13)
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الشَّاكِرِينَ وَارْزُقْنَا الْبَرَكَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.




Tinggalkan komentar