Catatan Hati Perjalanan Sunyi: Mencari Kelimpahan, Menemukan Allah

(Abundance Revolution 369 dalam Cahaya Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah – Seri 1)

Aku Dulu Mencari Kelimpahan

Aku pernah berada di titik gelisah…
Di balik pekerjaan yang sibuk, amal yang tampak ikhlas, dan zikir yang kulantunkan… ada ruang kosong dalam dadaku.

Aku mulai mencari.
Membaca buku.
Mengikuti seminar.
Belajar vibrasi.
Mencoba Abundance Revolution 369.
Katanya: kelimpahan bisa datang kalau aku ikhlas, bahagia, dan melepaskan.
Aku coba. Aku amalkan. Aku ulang-ulang. Tapi hatiku tetap sepi.
Apa yang salah?


Hingga Aku Bertanya: Siapa yang Sebenarnya Aku Cari?

Suatu malam, aku duduk dalam sunyi, berzikir :
“Lā ilāha illā Allāh…”
Dan suara dalam hatiku membisik:

“Apakah kau mencari dunia, atau ALLAH S.W.T?”

Aku menangis.
Karena aku sadar… selama ini aku sibuk mencari kelimpahan,
tapi lupa mencari Yang Maha Melimpahkan.


Guru Saya Abuya Muhhamad Amin Yusuf Pernah Berpesan

“Jangan jadikan doa sebagai alat memaksa, tapi jadikan ia jalan untuk pulang.”

Dalam Abundance Revolution 369, ada angka 3 — katanya itu awal kesadaran diri.
Tapi guruku mengajarkanku:
Yang pertama bukan kesadaran akan energi, tapi kesadaran bahwa aku tidak memiliki apa-apa.

Bahwa aku adalah hamba yang lemah.
Bahwa aku adalah wadah kosong,
yang hanya akan penuh jika Allah berkenan mengisinya.

“Dan ketika Aku telah menyempurnakannya (penciptaan manusia), dan meniupkan ke dalamnya ruh-Ku, maka tunduklah kepadanya dengan bersujud.”
(QS. Ṣād: 72)

﴿ فَإِذَا سَوَّيْتُهُۥ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِى فَقَعُوا۟ لَهُۥ سَـٰجِدِينَ ﴾


Kelimpahan Sejati adalah Kehadiran-Nya

Di titik itu aku mengerti…

Kelimpahan yang sejati
bukan uang, bukan kesehatan, bukan pasangan,
tapi satu rasa di hati… bahwa Allah bersamaku.

“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”
(QS. Qāf: 16)

﴿ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ ٱلْوَرِيدِ ﴾


Jika Allah Bersamamu… Apa Lagi yang Kurang?

Aku teringat sabda Nabi ﷺ:

قَالَ رَبُّكُمُ: أَنَا عِندَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي
“Allah berfirman: Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Bukan teknik yang aku butuhkan,
bukan visualisasi, bukan afirmasi…
tapi dzikir yang jujur dan hati yang berserah.


Ternyata, Abundance Revolution Itu Sudah Ada Dalam Islam

Angka 6 katanya simbol hukum semesta.
Tapi guruku berkata:

“Tidak ada hukum semesta yang berdiri sendiri. Semua tunduk pada sunnatullah.”

وَٱللَّهُ غَالِبٌ عَلَىٰٓ أَمْرِهِۦ
“Dan Allah Maha Menguasai urusan-Nya.”
(QS. Yūsuf: 21)


Dan Angka 9? Melepaskan? Itu Namanya Fana’

Mereka bilang, lepaskan untuk berkelimpahan.
Guruku mengajarkanku: lepas bukan hanya dari keinginan, tapi dari DIRI ITU SENDIRI.

“Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”

Saat aku lepas dari diriku,
aku tidak kosong…
Aku malah penuh dengan Allah.


Hari Ini, Aku Tidak Lagi Mengejar Kelimpahan. Tapi Aku Berjalan Bersama-Nya.

Kelimpahan datang? Alhamdulillah.
Tidak datang? Pun Alhamdulillah.
Karena hatiku sudah ditemani oleh Dzat yang memiliki segalanya.

Itu yang diajarkan Guruku:
Tidak sibuk menarik takdir, tapi sibuk mengosongkan diri agar takdir yang indah dititipkan oleh-ALLAH S.W.T.


Wahai Saudaraku, yang Sedang Mencari Kelimpahan…

Jika engkau ingin hidup dalam kelimpahan,
maka jangan cari angka—carilah sujud yang dalam.
Jangan kejar vibrasi—kejar dzikir yang tulus.
Jangan terlalu sibuk meminta dunia—mintalah Allah saja.

Karena siapa yang mendapatkan Allah…
maka seluruh dunia pun akan mencarinya.

يَـٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفْسُ ٱلْمُطْمَئِنَّةُ • ٱرْجِعِىٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةًۭ مَّرْضِيَّةً

“Wahai jiwa yang tenang…
Kembalilah kepada Tuhanmu, dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya.”

(QS. Al-Fajr: 27–28)


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca