Catatan Hati Perjalanan Sunyi – Seri 2: Mengenal Diri dan Kembali ke Fitrah

(Abundance Revolution 369 dalam Cahaya Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah)

Aku Duduk Sendiri, Menatap Diriku… Lalu Aku Tak Tahu Siapa Aku

Aku telah banyak membaca. Aku tahu istilah. Aku mengerti konsep.
Tapi ketika aku menutup buku, memejamkan mata, dan menatap hatiku sendiri…
aku kebingungan. Siapa sebenarnya “aku” ini?

Apakah aku jasad yang terlihat?
Apakah aku pikiran yang sibuk berdebat?
Apakah aku emosi yang naik turun?
Ataukah… ada sesuatu yang lebih dalam dari semua itu?


Guru di Hati Berbisik: Kau Bukan Tubuhmu… Kau Bukan Pikiranmu… Kau Adalah Amanah-Nya

﴿ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِى ﴾
“Lalu Aku tiupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku…”
(QS. Ṣād: 72)

Ternyata… aku bukan benda.
Aku adalah hembusan rahasia dari Allah ﷻ.
Ruh yang dititipkan. Cahaya yang dipercikkan.
Bukan milikku, bukan milik siapa-siapa—semuanya milik Dia.

Saat aku menyadari itu, aku menangis.


Semua yang Kukira “Aku”, Ternyata Bukan Aku

Tubuhku berubah, lemah, lalu mati.
Pikiranku gaduh, lalu lupa.
Perasaanku menipu—kadang senang, kadang putus asa.

Tapi ruh… ia tetap.
Ia tak menua. Ia tak gugur. Ia hanya menanti untuk kembali.

“Tidaklah engkau diciptakan sia-sia, wahai diri. Engkau adalah amanah dari langit yang sedang merantau di bumi.”


Aku Kembali ke Fitrah: Keheningan

﴿ فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًۭا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ﴾
“Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama (Islam), dengan lurus; (sesuai) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu…”
(QS. Ar-Rūm: 30)

Fitrah itu… bukan suara keras, bukan doktrin.
Fitrah itu sunyi. Tapi dalam sunyi itu, aku merasa didekap oleh Yang Maha Lembut.

Di titik itu, aku mengenal diriku:

Aku diciptakan bukan untuk berperan, tapi untuk menyadari keberadaan.
Bukan untuk menguasai, tapi untuk mengabdi.


Abundance Bukan Di Luar, Tapi Ada Di Dalam Diri yang Fitrah

Di dunia yang sibuk mengejar vibrasi dan teknik manifestasi, thariqah mengajarkanku:

“Kau tak perlu menciptakan kelimpahan. Kau hanya perlu kembali ke hakikat dirimu. Sebab di situlah letak kelimpahan itu disediakan.”

Bukan pada apa yang kau punya. Tapi pada siapa dirimu sebenarnya di hadapan Allah.


Kisah Seorang Wali

Aku pernah mendengar kisah.
Tentang seorang faqir, yang hidupnya sederhana. Rumahnya sempit. Bajunya lusuh.
Namun setiap orang yang duduk bersamanya… pulang dengan air mata, dan hati yang penuh.

Kenapa?

Karena ia hidup dalam jati diri yang sejati.
Ia tidak pura-pura menjadi siapa-siapa. Ia tidak menyembunyikan apapun.
Ia hanya menghadirkan Allah dalam diamnya.

“Cahaya para wali itu menyembuhkan, bukan karena kata-kata mereka, tapi karena mereka telah hilang dari dirinya, dan hanya Allah yang tampak.”


Jika Kau Ingin Kelimpahan… Maka Kenalilah Dirimu

Kenali bahwa:

  • Kau bukan korban.
  • Kau bukan pencipta realita.
  • Kau adalah hamba yang diberi izin untuk merasakan limpahan kasih-Nya.

﴿ وَفِىٓ أَنفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ ﴾
“Dan pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tidak memperhatikan?”
(QS. Adz-Dzāriyāt: 21)


Hari Ini Aku Duduk Lagi. Tapi Bukan untuk Menarik Kelimpahan. Hanya untuk Diam, dan Menyadari: Aku Sudah Dipenuhi

Aku tak punya apa-apa.
Tapi hari ini aku merasa cukup.
Karena aku telah kembali kepada diriku yang sejati.
Dan di dalamnya… aku temukan Allah yang selalu bersamaku.


🌿 Inti Ruh Artikel Ini

Abundance Revolution tidak akan bermakna, jika kita tidak mengenal siapa yang sedang mengejarnya.
Maka kembalilah dulu ke fitrahmu. Kenali dirimu. Kosongkan dirimu. Maka Allah akan hadir sebagai isinya.


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca