Catatan Hati Perjalanan Sunyi – Seri 5: Menghidupkan Nafas Syukur dan Dzikir

Banyak yang Dilakukan, Namun Hati Tetap Sepi

Hari-hari berlalu dengan kesibukan. Tangan bergerak, kaki melangkah, pikiran berputar.
Namun saat sepi datang, terasa seperti ada yang hilang…
…seperti jiwa ini sedang menunggu sesuatu yang belum disentuh.

Dan dalam sepi itu, tersadar…
barangkali yang kurang bukan kegiatan…
tetapi kehadiran Allah di antara waktu-waktu yang dilalui.


Petunjuk Guru: “Mulailah Dengan Dua Waktu Suci”

“Bangunlah dengan syukur, dan tidurlah dalam dzikir.”

Dua waktu yang sering terlewatkan—namun justru paling mendekatkan.

  1. Saat baru membuka mata
  2. Saat menutup mata menuju tidur

Di kedua waktu itu, letaknya pintu hati, tempat karunia paling lembut bisa masuk.


Pagi: Nafas Syukur

Saat mata terbuka, sebelum menyentuh dunia,
biarkan dada ini mengucap:

“Alhamdulillah, ya Allah… Engkau hidupkan kembali ruh ini tanpa diminta. Engkau beri napas padahal Engkau tahu betapa seringnya hamba ini lalai…”

Lalu hembusan napas dibarengi satu lafaz: Alhamdulillah…

﴿ وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ﴾
“Jika kalian bersyukur, pasti Aku tambahkan (nikmat-Ku).”
(QS. Ibrāhīm: 7)


Malam: Dzikir Sebelum Tidur

Ketika tubuh terbaring dan suara dunia mulai meredup,
tangan diletakkan di atas dada… dan hati diangkat menuju Allah.

Ucapan pelan namun penuh harap:

“Astaghfirullah… Astaghfirullah…”

Lalu dilanjutkan:

“Lā ilāha illā Allāh…”

Dan ditutup dengan:

“Allāh… Allāh… Allāh…”

قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ
“Sebaik-baik dzikir adalah: Lā ilāha illā Allāh.”
(HR. Tirmidzi)


Bukan Banyaknya, Tapi Hadirnya

Betapa sering lidah berdzikir namun hati berjalan entah ke mana.
Namun saat dzikir hadir sepenuh rasa, meski hanya satu lafaz,
itu bisa membuat hati luluh dan ruh menangis pulang.

Rasa ini bukan karena jumlah,
tapi karena cahaya kehadiran Allah yang masuk lewat dzikir yang jujur.


Amalan Kecil yang Membawa Kedekatan

Tidak ada yang besar dari dzikir ini di mata manusia.
Tapi ia besar di sisi Allah.
Karena ia menandakan bahwa seorang hamba sedang menyerah, merunduk, dan pulang.

“Jika seorang hamba mengingat-Ku dalam dirinya, Aku pun mengingatnya dalam Diri-Ku…”
(HR. Bukhari dan Muslim)


Seorang Murid Tidak Mengejar Kemuliaan, Tapi Ingin Dikenal oleh Allah

Guru pernah berkata:

“Jangan kejar dunia, jangan kejar karomah. Cukup kejar agar engkau mengenal Allah dalam kesunyianmu.”

Maka, di antara waktu-waktu diam,
berdzikirlah.
Tidak usah ramai. Tidak perlu diketahui siapa-siapa.
Cukup Allah… yang menyaksikan getaran hati itu.


🌿

Syukur dan dzikir bukan sekadar amalan, tapi nafas ruhani yang menghidupkan jiwa.
Hanya dengan menghidupkan dua waktu itu—saat bangun dan sebelum tidur—maka seorang murid telah menyiapkan wadah untuk cahaya Allah turun perlahan ke dalam hidupnya.

فَٱذْكُرُونِىٓ أَذْكُرْكُمْ

Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingatmu.”
(QS. Al-Baqarah: 152)


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca