Banyak yang Dilakukan, Namun Hati Tetap Sepi
Hari-hari berlalu dengan kesibukan. Tangan bergerak, kaki melangkah, pikiran berputar.
Namun saat sepi datang, terasa seperti ada yang hilang…
…seperti jiwa ini sedang menunggu sesuatu yang belum disentuh.
Dan dalam sepi itu, tersadar…
barangkali yang kurang bukan kegiatan…
tetapi kehadiran Allah di antara waktu-waktu yang dilalui.
Petunjuk Guru: “Mulailah Dengan Dua Waktu Suci”
“Bangunlah dengan syukur, dan tidurlah dalam dzikir.”
Dua waktu yang sering terlewatkan—namun justru paling mendekatkan.
- Saat baru membuka mata
- Saat menutup mata menuju tidur
Di kedua waktu itu, letaknya pintu hati, tempat karunia paling lembut bisa masuk.
Pagi: Nafas Syukur
Saat mata terbuka, sebelum menyentuh dunia,
biarkan dada ini mengucap:
“Alhamdulillah, ya Allah… Engkau hidupkan kembali ruh ini tanpa diminta. Engkau beri napas padahal Engkau tahu betapa seringnya hamba ini lalai…”
Lalu hembusan napas dibarengi satu lafaz: Alhamdulillah…
﴿ وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ﴾
“Jika kalian bersyukur, pasti Aku tambahkan (nikmat-Ku).”
(QS. Ibrāhīm: 7)
Malam: Dzikir Sebelum Tidur
Ketika tubuh terbaring dan suara dunia mulai meredup,
tangan diletakkan di atas dada… dan hati diangkat menuju Allah.
Ucapan pelan namun penuh harap:
“Astaghfirullah… Astaghfirullah…”
Lalu dilanjutkan:
“Lā ilāha illā Allāh…”
Dan ditutup dengan:
“Allāh… Allāh… Allāh…”
قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ
“Sebaik-baik dzikir adalah: Lā ilāha illā Allāh.”
(HR. Tirmidzi)
Bukan Banyaknya, Tapi Hadirnya
Betapa sering lidah berdzikir namun hati berjalan entah ke mana.
Namun saat dzikir hadir sepenuh rasa, meski hanya satu lafaz,
itu bisa membuat hati luluh dan ruh menangis pulang.
Rasa ini bukan karena jumlah,
tapi karena cahaya kehadiran Allah yang masuk lewat dzikir yang jujur.
Amalan Kecil yang Membawa Kedekatan
Tidak ada yang besar dari dzikir ini di mata manusia.
Tapi ia besar di sisi Allah.
Karena ia menandakan bahwa seorang hamba sedang menyerah, merunduk, dan pulang.
“Jika seorang hamba mengingat-Ku dalam dirinya, Aku pun mengingatnya dalam Diri-Ku…”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Seorang Murid Tidak Mengejar Kemuliaan, Tapi Ingin Dikenal oleh Allah
Guru pernah berkata:
“Jangan kejar dunia, jangan kejar karomah. Cukup kejar agar engkau mengenal Allah dalam kesunyianmu.”
Maka, di antara waktu-waktu diam,
berdzikirlah.
Tidak usah ramai. Tidak perlu diketahui siapa-siapa.
Cukup Allah… yang menyaksikan getaran hati itu.
🌿
Syukur dan dzikir bukan sekadar amalan, tapi nafas ruhani yang menghidupkan jiwa.
Hanya dengan menghidupkan dua waktu itu—saat bangun dan sebelum tidur—maka seorang murid telah menyiapkan wadah untuk cahaya Allah turun perlahan ke dalam hidupnya.
فَٱذْكُرُونِىٓ أَذْكُرْكُمْ
Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingatmu.”
(QS. Al-Baqarah: 152)




Tinggalkan komentar