Catatan Hati Perjalanan Sunyi – Seri 6: Cinta, Maaf, dan Rahasia Sending Love

Abundance Revolution 369 dalam Cahaya Islam dan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah

Pernah Tersakiti, Tapi Tak Pernah Belajar Melepaskan

Luka demi luka tertinggal,
beberapa datang dari orang jauh,
tapi yang paling dalam biasanya datang dari orang yang pernah dipercaya.

Dan dalam diam, hati menyimpan perih yang tak diucap.
Tersenyum di luar, namun menyimpan geram di dalam.
Itulah yang perlahan… menghalangi cahaya Allah masuk ke dalam jiwa.


Guru Mengajarkan: “Kirimi Cinta Kepada Mereka”

“Jangan biarkan dirimu tertawan oleh kebencian.
Kirimkan cinta, bahkan kepada mereka yang menyakiti.”

Awalnya, sulit.
Bagaimana mungkin memberi cinta kepada orang yang menyakiti?
Namun thariqah bukan soal logika.
Ia adalah latihan menyucikan batin, agar menjadi cermin Ilahi—bukan gudang dendam.


Sending Love dalam Thariqah: Bukan Sekadar Psikologi, Tapi Tazkiyah

Sending love bukan teknik kejiwaan.
Ia adalah dzikir batin,
di mana hati melepaskan beban dan mendoakan orang yang pernah melukai.

“Ya Allah…
Jika Engkau menakdirkan ia menyakitiku,
maka Engkau juga mampu menakdirkanku untuk memaafkannya.”

“Ampuni dia, bahagiakan dia… dan sembuhkan aku.”


Cinta Adalah Jalan Allah Masuk ke Dalam Hamba-Nya

﴿ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ ٱلرَّحْمَـٰنُ وُدًّۭا ﴾
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, kelak Allah Yang Maha Pengasih akan menanamkan bagi mereka rasa kasih sayang (di hati manusia).”
(QS. Maryam: 96)

Hati yang bersih dari benci, akan dipenuhi dengan wudda (cinta ilahi).
Dan hati yang penuh cinta… adalah wadah paling sempurna bagi kelimpahan dari langit.


Maaf Itu Bukan Soal Orang Lain. Tapi Soal Diri Sendiri

Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan orang.
Memaafkan adalah membebaskan diri dari belenggu luka.
Karena luka yang disimpan terlalu lama, hanya akan menjadi kabut dalam dzikir dan ibadah.

“Jika kau ingin dzikirmu terbang tinggi, maka bersihkan dahulu hatimu dari amarah yang membebani.”


Sending Love Bukan Sekali, Tapi Latihan Harian

Setiap pagi, sebut satu nama…
…orang yang pernah menyakiti
…atau orang yang tidak suka
…atau bahkan nama sendiri

Lalu ucapkan dalam diam:

“Ya Allah, sayangi dia. Lapangkan hidupnya. Bimbing hatinya. Dan jangan pisahkan aku darinya di hari pembalasan nanti jika Engkau mencintai kami berdua.”


Ketika Hati Sudah Lembut, Barulah Kelimpahan Bisa Masuk

Kelimpahan bukan hanya urusan rezeki.
Kelimpahan adalah ketika hati menjadi lapang seperti langit,
dan apa pun yang Allah turunkan—baik atau buruk—akan diterima dengan cinta.


🌿

Sending love bukan sekadar niat baik. Ia adalah jalan ruhani menuju pemaafan, penyucian jiwa, dan terbukanya jalan rahmat dari langit.
Tidak ada kelimpahan sejati bagi hati yang masih penuh amarah.
Namun bagi hati yang memaafkan… di situlah Allah menurunkan cinta-Nya.

“Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian, sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”
(HR. Bukhari dan Muslim)


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca