Abundance Revolution 369 dalam Cahaya Islam dan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah

Banyak Yang Mengejar Rezeki, Tapi Sedikit Yang Merenungkannya
Rezeki selalu dicari.
Namun sedikit yang menyadari bahwa rezeki bukan hanya apa yang didapatkan, tetapi apa yang diturunkan oleh Allah sesuai hikmah dan cinta-Nya.
Kadang yang datang sedikit, tapi berkah.
Kadang yang datang banyak, tapi menyiksa batin.
Guru Berkata: “Jangan Lihat Jumlahnya, Tapi Cahaya di Dalamnya”
Ada rezeki yang banyak, tapi membuat hati gelisah.
Ada rezeki yang tampak kecil, tapi membawa sakinah.
Karena yang membuat rezeki menjadi “rezeki” bukan angkanya,
tapi ridha Allah yang menyertainya.
“Wahai murid… jangan ukur rezeki dari timbangan dunia.
Ukurlah dari seberapa dekat engkau merasa kepada ALLAH S.W.T setelah menerimanya.”
Rezeki Ada 4 Jenis — Tapi Hanya 1 yang Membawa Kedekatan
- Rezeki Umum (رزق عام)
Untuk semua makhluk: makan, minum, udara, kesehatan. - Rezeki Khusus (رزق خاص)
Untuk manusia: harta, jabatan, jodoh, peluang. - Rezeki Ruhani (رزق روحاني)
Untuk hati: dzikir, hidayah, munajat, rindu. - Rezeki Ma’rifat (رزق معرفة)
Untuk para kekasih-Nya: rasa cukup, cinta, fana, dan kehadiran-Nya di dalam dada.
“Siapa yang diberi dunia, belum tentu dicintai Allah.
Tapi siapa yang diberi rasa cukup, itulah tanda kecintaan dari-Nya.”
Kelimpahan Adalah Cara Allah Menegur dan Mengasihi, Sekaligus Menguji
﴿ وَنَبْلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلْخَيْرِ فِتْنَةًۭ ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ ﴾
“Dan Kami uji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan; dan hanya kepada Kami kalian akan kembali.”
(QS. Al-Anbiyā’: 35)
Rezeki bukan selalu anugerah.
Kadang ia adalah ujian,yang lebih utama dari rezeki adalah kesadaran terhadap siapa yang memberi.
Rasa Cukup: Itulah Kelimpahan Sejati
Tidak perlu semua mimpi terkabul.
Cukup bila hati ini bisa berkata:
“Apa yang Allah pilihkan untukku, lebih baik dari yang kuinginkan.”
Dan kalimat itu, jika benar keluar dari hati,
maka itulah kelimpahan sejati.
Salik Tidak Mengejar Rezeki, Tapi Menjalani Kehidupan Sebagai Amanah
“Tugas seorang murid bukan menuntut pemberian,
tetapi menata wadah hati agar layak menerima.”
Dengan dzikir, dengan adab, dengan pasrah,
maka apapun yang Allah beri… akan menjadi cukup, tenang, dan terang.
🌿
Ma’rifat terhadap rezeki bukan menjadikan Allah sebagai alat mendapatkan dunia,
tetapi menjadikan dunia sebagai jembatan untuk terus mengenal Allah.
Dan hanya hati yang mengenal, yang bisa berkata dengan yakin:
“Hasbiyallāh – Allah cukup bagiku.”
إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ ٱلرِّزْقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقْدِرُ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ بِعِبَادِهِۦ خَبِيرًۭا بَصِيرًۭا
“Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasinya. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.”
(QS. Al-Isrā’: 30)




Tinggalkan komentar